Bau Menyan

Aku baru saja mendapatkan pekerjaan di bidang event organizer. Malam itu kebetulan ada satu event di daerah Jatinangor, sebuah acara besar yang berlangsung berhari-hari. Kantorku sendiri berada di tengah kota Bandung. Jadi, beberapa hari ini aku membawa mobil hilir-mudik untuk membawa peralatan, konsumsi, atau mengantar jemput bos ku. Kegiatan ini bisa berlangsung sampai pagi, dan baru berakhir ketika malam tiba.

Dalam perjalanan itu, sebenarnya ada yang sedikit membuat bulu kuduk merinding. Bila melewati jalan Soekarno Hatta, tepatnya di jalan menuju ke arah Cibiru. Setiap melewati daerah itu di malam hari pasti saja tercium bau menyan yang menyengat. Tapi, namanya juga tugas, aku jalani saja semuanya. Di malam terakhir event itu, bosku dari Jakarta datang untuk mengawasi.

loading...

Ia menginap di salah satu hotel yang cukup ternama di Bandung. Sekitar Maghrib aku mengantarnya menuju lokasi event. Sampai di sana kami pun melaksanakan kegiatan. Syukurlah, acara berlangsung lancar. Namun, karena sering pulang malam, kondisi badanku saat itu mulai terasa tidak enak. Badanku pegal dan merasa sangat lelah. Selesai acara kami beres-beres dan sekitar jam 1 dini hari kami pulang.

Aku kembali mengantar bos menuju hotel. Mobilku masuk ke Jalan Soekarno Hatta. Tak lama kemudian bau yang senantiasa muncul itu kembali tercium, kali ini sangat menusuk. Bau menyan yang entah dari mana asalnya itu tercium sangat tajam kali ini. Aku pikir hanya aku saja yang menciumnya, namun ternyata bosku pun bertanya “apa kamu mencium bau menyan ini?” Dengan sangat yakin aku menganguk, dan mengatakan hal ini memang sudah biasa. Kami pun melupakan hal itu dan terus melanjutkan perjalanan.

Aku terus berkonsentrasi pada jalanan, sementara mataku mulai terasa berat akibat tubuh yang sangat lelah. Tiba-tiba dari kejauhan tepat di tengah jalan depan mobilku terlihat sekelebat bayangan putih. Aku pikir itu hanya bias cahaya lampu jalanan, namun bayangan putih itu semakin jelas, bukan sebuah cahaya melainkan sebuah sosok. Aku tidak yakin apakah bosku melihatnya juga, tapi semakin dekat mobilku dengan sosok putih itu, semakin terlihat utuh juga bentuknya.

Ada warna hitam legam menggantung. Warna hitam itu terlihat seperti rambut yang memanjang sampai ke lutut. Mataku dengan cepat menangkap sosok itu yang ternyata melayang tanpa terlihat kakinya. Aku langsung membuang setir ke arah kanan jalan sambil terus menancap gas. Aku terdiam, Ternyata bukan hanya aku saja yang melihatnya tapi bos juga melihatnya. Dia menggambarkan sosok seperti wanita dengan rambut panjang baju putih yang melayang itu sambil terbata-bata. Kami pun setuju untuk mempercepat laju mobil agar segera sampai di hotel.

Sesampainya di hotel, bos merasa khawatir melihatku yang terlihat kelelahan. Aku pun tidak di perbolehkan pulang dan diberikan sebuah kamar di hotel itu. Setelah memakirkan mobil, aku mengambil kunci kamar dan bergegas menuju kamar. Ketika masuk, terlihatlah sebuah kamar besar yang terang oleh lampu-lampu. Aku melihat dua buah tempat tidur yang terpisah. Ya, ini adalah kamar tipe standar twin bed. Aku langsung melemparkan diri ke salah satu ranjang itu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

“Ya, sebentar”. Aku beranjak lalu membuka pintu dan tidak menemukan siapa pun di sana. Aku lihat keluar, melihat ke kiri dan kanan, tapi tetap tidak ada siapa-siapa. Apa mungkin aku salah dengar?, Aku pun menutup pintu dan kembali masuk. Saat itu, lampu kamar tiba-tiba saja meredup seperti hampir mati lalu menyala lagi. “Hotel sekelas ini kenapa listriknya jelek, sih?” pikirku. Tanpa pikir panjang, aku kembali ke tempat tidur, masuk ke dalam selimut dan mulai memejamkan mata.

Suhu di dalam kamar semakin lama semakin dingin dan dingin dari AC ini terasa tidak wajar. Aku mengambil remote AC ternyata suhu ruangan sudah di set 28 derajat. Aku pun menarik selimutku, tapi kenapa susah? Aku tarik selimutku sekali lagi untuk menutupi badanku, seperti ada sesuatu yang menahannya. Lalu, ketika aku coba menariknya lagi aku bisa merasakan ada yang balas menarik selimut ini dari bawah. Aku seperti tarik menarik dengan seseorang.

Aku langsung bangun dan melihat ke bawah kasur, tapi tidak melihat siapa-siapa di sana. Aku kembali tiduran di tempat tidur. Dan kali ini aku mendengar suara napas seseorang terdengar jelas di sebelahku. Dari sudut mata aku melihat ada seseorang sedang tersujud di atas tempat tidur sebelah. Badannya bergerak seperti mengigil dan aku bisa melihat rambutnya yang panjang terurai.

Wanita itu merunduk bersujud dan tangannya menggeram keras ke tempat tidur. Dia terus bergerak-gerak sambil menggigil semakin lama semakin cepat. Semua itu hanya terlihat dari sudut mataku, aku tidak berani untuk benar-benar melihatnya. Aku coba untuk bersuara, tapi rasa takut menghalangiku. Aku hanya bisa diam dan mengawasinya dari sudut mata.

Tiba-tiba, wanita itu berhenti dan terdiam. Sampai akhirnya dia merayap perlahan menuju arahku. Aku tidak bisa bergerak, Badanku terasa kaku. Aku bisa merasakan dia semakin lama semakin dekat dan dia memeluk. Spontan aku langsung bangkit dan berlari keluar kamar. Malam itu aku habiskan dengan tidur di lobby hotel. Sungguh pengalaman yang membuatku takut untuk tidur di hotel sendirian, apalagi di kamar dengan dua tempat tidur.

Setelah menceritakan ke teman-teman, aku jadi tahu bahwa sosok wanita yang aku lihat itu berasal dari Jalan Soekarno Hatta yang ikut naik ke dalam mobilku. Konon, wanita dari Jalan Soekarno Hatta akan menampakan diri dan ikut jika ada mobil lewat dan mobil itu sama seperti mobil yang menabraknya dulu sampai meninggal. Semua itu benar-benar terjadi, aku tidak akan memberitahu mobil apa yang aku gunakan, agar tidak ada orang yang sengaja mencobanya. Yang pasti, berhati-hatilah di jalan Soekarno Hatta, karena mungkin saja mobilmu sama seperti mobil yang aku kendarai.

Share This: