Berdoa Sebelum Tidur

Apa kabar kakak semua? Kejadianya tahun 2016 bulan februari, tanggalnya aku lupa. Waktu itu kakak aku baru pindah rumah ke Bekasi tepatnya di daerah taman Cikunir Indah. Karena ingin tahu jadi aku main deh ke tempat rumah baru kakaku. Kakak aku juga bilang kalau ada 1 kamar yang kosong jadi kalau aku main terus nginap juga ada kamarnya dan aku pun berencana untuk menginap 3 malam.

Posisi rumahnya dekat lapangan, di samping rumah banyak pohon melati gitu. Jadi waktu itu hari minggu sehari sebelum aku datang kesana kakak aku cerita, katanya saat mau melaksanakan shalat dzuhur di tempat ruang shalat tiba-tiba ada ular warnanya hijau sebesar dua jari panjangnya 1 meter lebih. Karena takut akhirnya diapun shalat di tempat lain.

Sore hari setelah suaminya pulang dia ceritain terus dicari-cari tuh sama suaminya tapi ularnya sudah enggak ada, hilang gak tahu kemana. Di malam pertama aku menginap saat itu kakakku pulang kerjanya malam jam 22.00 sementara suaminya jam 23.00 jadi dirumahnya aku hanya berdua sama keponakan aku namanya Lala, dia baru kelas 3 SMA. Sekitar jam 20.30 keponakan aku tidur duluan.

Lala: om aku tidur duluan ya udah ngantuk.
Aku: ok , jangan lupa berdoa sebelum tidur.
Lala: iya, memang om belum ngantuk? Mending tidur saja lagian sudah malam.
Aku: belum. Kalau kamu mau tidur ya sudah tidur saja duluan, enggak apa-apa om masih mau nonton televisi.
Lala: ok deh om.

Dia pun pergi ke kamarnya. Sekitar jam 21.00 aku masih menonton televisi tapi perasaan aku terasa aneh, seperti ada yang ingin menghampiri aku dari belakang. Sesekali aku nengok ke belakangku tapi tidak ada apa-apa. Nonton televisi pun jadi gak fokus. Aku berusaha buat *cuek saja sambil ngemil makanan. Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan si Lala.

Lala: mamah! Mamah! Aku pun langsung segera menuju ke kamar si Lala.
Aku: kenapa La?
Lala: enggak apa-apa om.
Aku lihat wajahnya ketakutan banget seperti habis lihat sesuatu.
Aku: yakin enggak apa-apa? Kok teriak?
Lala: iya om cuma mimpi saja kok.

Aku: oh mimpi, makanya berdoa dulu sebelum tidur.
Lala: sudah sih tadi.
Aku: ya sudah berdoa lagi yang benar, terus tidur besok kan sekolah.
Lala: iya tapi pintunya jangan di tutup ya om.

Aku: loh memang kenapa?
Lala: gerah.
Aku: itu kipasnya kan nyala?
Lala: biar tambah adem saja.
Aku: oh ya sudah enggak om tutup nih.

Aku pun langsung melanjutkan nonton televisi. Perasaan aneh itu tidak mau hilang sampai jam 22.00 kakak aku pulang kerja dan aku pun langsung ke kamar untuk tidur. Sebelum tidur aku membaca doa habis itu tidur deh. Dalam mimpi aku melihat ada perempuan berbaju putih berdiri di kejauhan, berambut panjang berantakan sampai lutut, wajahnya tidak terlalu jelas karena tertutup rambut.

Tangannya putih pucat berkuku panjang, perempuan tersebut melayang menghampiri seakan ingin menerkamku dengan kedua tanganya. Aku tidak bisa lari badanku tidak bisa bergerak saat dia sampai tepat di depanku seketika saja aku bangun dengan berteriak. Kakak aku pun langsung datang ke kamar, sepertinya dia mendengar teriakan aku tadi. Dia menanyakan kenapa dan aku jawab cuma mimpi *doang.

Aku jadi mengerti dan tahu kenapa si Lala tadi berteriak. Sebelum melanjutkan tidur lagi aku berdoa sebelum tidur dengan ditambah doa ayat qursi dan alhamdulillah tidurku nyenyak hingga adzan subuh berkumandang. Pagi hari aku ngantarin si Lala berangkat sekolah. Siangnya juga sama aku yang jemput dia pulang sekolah tapi tidak langsung pulang karena memang sudah janjian sebelumnya buat jalan-jalan dulu tuh ke Mall Galaxy maklum lah anak muda cuci mata dulu *hehe. Hingga sekitar jam 17.00 kita pun pulang, terus mandi, shalat, makan, ngobrol, nonton televisi, hingga ke season malam kedua. Di malam kedua sepertinya si Lala ini sudah terbiasa tidur jam 20.30 malam.

Lala: om sudah ngantuk nih, bobo duluan ya?
Aku: ya sudah bobo, oh ya kamu hafal ayat qursi gak?
Lala: enggak, memang kenapa om?
Aku: wah payah, ya sudah kamu cari deh di Google nanti saat mau tidur kamu baca dulu ya.
Lala: hehe, iya om ustad aku bobo ya.

Sambil ngeledekin si Lala pun menuju kamarnya.

Aku: loh kok pintunya enggak di tutup?
Lala: enggak ah om biar lebih adem, bobonya kan jadi lebih enak.

Sambil teriak si Lala menjawab dari dalam kamar.
Aku: oh ya sudah kalau gitu.
Lala: om enggak bobo?
Aku: enggak, om masih mau nonton televisi.

Pikirku si Lala ini enggak menutup pintu paling bukan supaya lebih adem tapi karena takut. Aku pun melanjutkan nonton televisi dan lagi-lagi perasaan aneh itu muncul lagi, sesekali aku menoleh kebelakangku tapi tetap tidak ada apa-apa. Karena penasaran aku mencoba melihat-lihat kedepan rumah.

Di depan rumah ada pohon jambu air dan kolam ikan. Jalanan juga sudah sepi hanya ada angin yang berhembus sesekali. Melihat gak ada apa-apa aku pun kembali masuk ke dalam. Karena penasaran juga aku mencoba melihat kondisi kamar si Lala karena memang pintu kamarnya tidak dia tutup. Aku lihat kok si Lala enggak ada dikamarnya. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu mendekat dari belakang. Dengan memberanikan diri aku mencoba menengok ke belakangku. Dan tiba-tiba.

Lala: hayo!

Aku sangat terkejut ternyata itu si Lala, dia sengaja ngagetin aku.

Aku: Lala ngagetin saja kamu.
Lala: *hehe maaf, om tadi ngapain kedepan?
Aku: enggak, cuma cari udara segar saja, kamu kok belum tidur?
Lala: barusan aku habis buang air, terus om ngapain disini lihat-lihat kamar aku?
Aku: enggak apa apa, sudah kamu tidur lagi saja besok kan kamu sekolah.

Lala: iya om, om masih mau nonton televisi ya?
Aku: iya, aku mau nonton televisi lagi.
Lala: jangan om.
Aku: loh kenapa memang?
Lala: mending om tetap disini saja tungguin aku bobo, *hehe bercanda kok.

Sambil masuk kamar si Lala menuju tempat tidur. Aku sedikit iseng jahilin dia dengan pintunya aku coba tutup gitu. Dia pun marah dan teriak.

Lala: lah om pintunya jangan di tutup!
Aku: oh iya lupa *hehe.
Lala: kalau mau ditutup om masuk saja tungguin aku bobo.
Aku: iya nih enggak aku tutup.

Aku pun kembali nonton televisi lagi, tapi perasaan itu tidak mau hilang, seperti ada yang mengintai aku di setiap sudut ruangan. Aku berusaha *cuek hingga jam 22.00 kakak aku pun pulang, aku matikan televisinya dan langsung menuju kamar untuk tidur. Sebelum tidur aku sengaja tidak membaca doa sebelum tidur dan langsung tidur.

Karena gerah aku terbangun. Aku lihat kipas sudah full, tapi suasana kamar sangat panas. Aku coba membuka sedikit pintu jendela, tapi ada rasa penasaran hingga aku buka gorden jendela. Di luar jendela aku lihat semak gelap dan angin berhembus di dahan-dahan pohon melati. Tapi aneh banget suasana kamar hawanya jadi beda, suhunya malah semakin panas.

Aku lihat di balik jendela pun jadi sangat gelap semuanya hitam tidak ada cahaya sedikit pun. Posisiku saat ini sedang menghadap jendela dan aku harus segera keluar dari kamar ini. Tapi perasaan itu muncul kembali. Aku merasa ada yang menungguku, di belakangku, dia berdiri tepat di belakangku itu yang aku rasakan.

Aku mengingat dari yang sudah-sudah, aku berusaha berpikir positif kalau di belakangku tidak ada apa-apa. Dengan keringat yang terus mengalir di pipiku aku pun membalikan badan dengan perlahan. Sungguh di luar dugaan, aku hanya bisa berdiam diri dan terpaku, sekarang dia benar-benar sedang berdiri di hadapanku bersama tawa cekikikannya yang khas banget.

Baju putih yang sudah tidak terawat itu menutupi seluruh bagian tubuhnya. Rambut hitam kusut panjang terurai panjang menutupi wajahnya. Ada tatapan mata yang tajam di balik helai rambutnya yang seakan-akan ingin menerkamku. Pasrah, seperti permainan catur yang sudah tidak ada langkah lagi untuk menuju pintu kamar. Detak jantung yang tidak karuan dan gemetar terus menyelimutiku.

Hanya hati, hanya hati satu-satunya yang masih bisa diharapkan. Sedikit demi sedikit aku mencoba menuai sepatah kata ayat suci al-Qur’an walau hanya dalam hati. Aku semakin kuat, aku berhasil melafazkan ayat-ayat suci di dalam hatiku. Keyakinanku kini mulai mengalahkan rasa takutku. Dia pun mulai memudar dari pandanganku. Dia semakin tidak terlihat.

Sampai akhirnya dia menghilang dari hadapanku. Aku terus berdoa, dan mencoba memulai langkah kaki untuk berjalan menuju pintu kamar. Dengan langkah perlahan aku menuju pintu. Dengan rasa senang aku berhasil sampai di depan pintu. Aku pun membuka pintu dengan perlahan. Perasaan takutku kembali datang, sekarang dia berdiri di balik pintu.

Masih dengan tatapan yang sama namun kini wajah rusaknya mulai tampak. Senyum yang penuh kepahitan terlihat jelas di bibirnya. Dia maju perlahan-lahan. Aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Tangannya mulai mengarah ke leherku. Dengan kejam dia mencekik leherku dan akupun berteriak. Tiba-tiba kakak aku datang masuk ke kamar.

Kakak : kamu kenapa malam-malam gini kok teriak?
Aku: enggak kak, enggak apa-apa.
Kakak: mimpi buruk?
Aku: banget kak. Jawabku dengan nada penuh ketakutan.

Aku coba melihat sekitar kamar dan tidak ada apa-apa, suhu di kamar pun adem gak panas seperti tadi. Mimpi ini sangat menakutkan seperti nyata banget. Kakak aku pergi keluar dan kembali dengan membawa segelas air.

Kakak: ini minum dulu.
Aku: i-ya. Terima kasih kak.
Kakak: makanya kalau mau tidur itu berdoa dulu.
Aku: iya.

Sekarang aku mengerti kenapa tadi si Lala tidak mau menutup pintu kamarnya . Waktu masih jam 02.00. Aku pun berdoa dan kembali tidur. Hingga adzan shubuh berkumandang aku bangun dan melaksanakan shalat. Bahagia banget rasanya bisa menghirup udara segar di temani mentari pagi. Seperti hari kemarin aku nganterin si Lala berangkat sekolah dan menjemputnya pulang sekolah.

Sepulang sekolah aku membicarakan hal mimpi itu dan ternyata dia pun mengalami hal yang sama. Tapi semalam dia bisa tidur nyenyak banget setelah membaca doa yang aku saranin. Masuk di season malam ketiga seperti biasa sehabis shalat isya aku langsung nonton televisi, sementara si Lala tidak tidur seperti biasa karena ada tugas dari sekolahnya. Dia mengerjakan tugasnya sambil nonton televisi bareng aku.

Perasaan aneh itu sudah tidak aku rasakan lagi. Hingga tiba-tiba “*tok, tok, tok” ada suara yang mengetuk pintu. Aku dan Lala melihat ke arah jam dinding setelah itu saling bertatapan dengan penuh rasa heran. Aku dan Lala tidak mendengar ada suara kendaraan yang datang dan jam masih menunjukan pukul 21.10 malam.

Lala: siapa tuh om? Aku: mamah kamu kali sudah pulang, sudah sana kamu bukain pintunya.
Lala: tapi aku gak dengar suara motornya dan biasanya habis ngetuk pintu pasti mamah langsung teriak manggil aku. “*Tok, tok, tok” suara ketukan itu terdengar lagi.

Aku: gak tahu juga, ya sudah biar om lihat dulu.

Aku pun pergi mengeceknya. Setelah aku buka pintunya seketika ada angin yang berhembus dengan hawa yang gak enak. Aku lihat keluar tapi enggak ada orang. Ku lihat di sekitar rumah juga enggak ada siapa-siapa. Jalanan juga sepi banget enggak ada kendaraan yang lewat. Tiba-tiba perasaan itu muncul lagi, seperti ada yang sedang mengintai di suatu sudut. Karena situasi sudah gak beres aku pun langsung masuk dan menguci pintu.

Lala: siapa om?
Aku: om lihat gak ada siapa-siapa di luar.
Lala: masa sih?
Aku: iya, enggak ada siapa-siapa.

Si Lala langsung bergegas beres-beres.

Aku: sudah selesai ngerjain tugasnya?
Lala: sudah om.

Si Lala langsung berpindah dan duduk disampingku.

Aku: kenapa La.
Lala: gak apa-apa , pingin dekat om saja nyaman.

Untuk menenangkan suasana aku pun menanyakan kegiatan sekolahnya dan si Lala pun menceritakan kegiatan-kegiatan di sekolahnya. Tidak berapa lama channel televisi yang lagi kita tonton tiba-tiba saja berpindah sendiri. Seketika aku dan Lala langsung saling bertatapan dan dia semakin menyandarkan badannya. Aku mengerti perasaan takut yang dia rasakan pasti sama sepertiku.

Aku: acara televisinya gak seru di pindahin ya.

Saat aku mau bangun buat ambil remote televisinya si Lala menggenggam bajuku dan menahanku.

Lala: sudah om ini saja seru kok.
Aku: oke deh.

Suasana jadi tambah mencekam karena tiba-tiba ada suara gayung yang jatuh dikamar mandi.

Aku: oh ya Lala kamu sudah hafal belum ayat qursinya.
Lala: belum.
Aku: coba kamu ambil ponselnya biar kita baca bareng.
Lala: om saja yang ambil ponselnya, ada di kamar tapi om jangan kemana-mana.

Susah ya kalau ngeladenin orang yang lagi ketakutan aku di suruh ambil ponsel tapi enggak boleh kemana-mana. Tapi suasana jadi agak sedikit membaik.

Aku: yakin om yang ambil tapi gak boleh kemana-mana?
Lala: *hehe.
Aku: ya sudah kamu ikutin om saja ya.
Lala: iya.

Aku pun membaca doa ayat qursi dan Lala mengikutinya. Itu terus kita lakukan berulang-ulang sampai pukul 22.00 kakak aku pun pulang. Suasana kembali kondusif dan aku langsung ke kamar untuk tidur. Sekitar jam 00.00 aku masih belum tidur, posisi tidurku miring menghadap tembok membelakangi pintu kamar. Perasaan aku tidak tenang banget, seperti ada sesuatu yang harus aku selesaikan.

Dalam keheningan tiba-tiba aku mendengar sesuatu di belakangku. Itu suara pintu, ada yang membuka dan menutup pintu kamarku secara perlahan. Aku ingin membalikan badan dan ingin melihat tapi susah banget. Aku tidak bisa menggerakan badanku. Suara langkah kaki yang pelan terdengar semakin mendekat ke arah tempat tidurku dan kini dia tepat berada di belakangku.

Detak jantungku semakin tidak karuan. Aku mencoba menarik nafas dalam-dalam, lalu aku hembuskan perlahan. Aku merasa sudah bisa menggerakan tubuhku dan mulai membalikan badan untuk melihat makhluk apakah di belakangku ini. Setelah aku lihat.

Lala: *ssstt om aku bobo disini ya aku takut banget, please.

loading...

Sambil berbisik si Lala memohon untuk tidur di kamar ini. Aku sedikit bingung, aku pikir kasihan dia terlihat sangat ketakutan akhirnya aku mempersilahkanya.

Aku: ya sudah kamu tidur disini biar om tidur di lantai saja.

Aku pun langsung ambil bantal dan selimutnya terus pindah tidur di lantai sementara si Lala aku biarkan tidur di tempat tidurku. Perasaan tidak tenang tadi pun hilang aku sudah merasa lega dan langsung deh tidur. Tidak berapa lama aku merasakan suhu kamar yang sangat tidak asing, suhu kamarku menjadi panas lagi.

Aku langsung bangun dan aku lihat si Lala tidak ada di tempat tidurku. Ku pikir mungkin dia sudah kembali ke kamarnya. Karena penasaran aku langsung menuju kamarnya tapi dikamarnya juga tidak ada. Aku coba cari ke kamar mandi, tetap tidak ada. Akhirnya aku memutuskan untuk memberitahukan ini kepada kakakku. Aku ketuk pintu kamarnya tapi tidak ada yang jawab.

Saat aku buka, kakak dan suaminya tidak ada di kamar. Ini sangat aneh dan setelah mengingat kejadian kemarin aku baru sadar kalau aku ini masih mimpi. Aku mencoba menyadarkan diri dengan mencubit tanganku. Sakit banget aku tetap tidak bisa bangun dari mimpiku. Aku memutuskan untuk mencari si Lala keluar rumah.

Aku: Lala kamu dimana?

Aku berteriak memanggilnya di depan rumah. Aku sudah putus asa dan tidak tahu harus bagaimana. Tiba-tiba saja aku mendengar suara dari dalam rumah. Aku yakin itu suara si Lala.

Lala: om dimana?

Teriak si Lala dari dalam rumah. Aku langsung segera berlari ke dalam rumah. Tapi saat di pintu depan rumah aku terjatuh. Aku merasa seperti menabrak seseorang. Dan sepertinya itu si Lala tapi dia tidak terlihat. Saat aku ingin memanggilnya, ada angin yang berhembus dari arah depan rumah . Hembusan angin dengan hawa penuh kepahitan yang sudah tidak asing lagi.

Saat aku melihat ke depan rumah benar saja, si br*ngs*k ini muncul lagi. Dia berdiri tepat di depan rumah tapi berbeda dari penampilan sebelumnya. Ada asap di setiap helai rambut panjang yang kusut. Baju putih tidak terawat kini penuh dengan darah. Tangan dengan kuku panjangnya terlihat seperti habis terbakar. Aku masih bisa melihat mata tajamnya sedikit pun tidak berkedip walau terlumuri darah. Dia mulai mengeluarkan suara khasnya, cekikikan penuh kepedihan. Aku ingin segera bangun dari mimpi ini tapi aku tidak bisa melakukan apapun. Dia masih berdiri di depan rumah. Tiba-tiba aku mendengar suara si Lala di dekatku.

Lala: om dimana? Aku takut banget.

Aku mencoba menengok ke samping dan belakang tapi tidak ada.

Aku: Lala kamu dimana?
Lala: aku disini, om dimana?

Aku hanya bisa mendengar suara si Lala yang sedang sangat ketakutan di dekatku tapi tidak bisa melihatnya. Setelah aku kembali melihat kedepan rumah, makhluk itu sudah tidak ada. Tidak berapa lama aku mendengar suara kakakku.

Kakak: Lala bangun La.

Akhirnya aku bisa terbangun dari mimpiku. Aku langsung segera melihat tempat tidurku . Si Lala ada di sana, dia sama sepertiku baru bangun dari tidurnya. Kita saling bertatapan dengan wajah yang penuh dengan keringat. Lala pun tersenyum sambil mengusap sisa air mata di pipinya.

Kakak: Lala bangun.

Sambil berteriak di depan kamar si Lala. Dia menaruh jari telunjuk tepat di tengah bibirnya mengisyaratkan aku untuk tidak bersuara. Dia pun keluar dengan membuka dan menutup pintu kamarku secara perlahan.

Lala: apa mah?
Kakak: eh kamu sudah bangun.
Lala: iya aku habis dari kamar mandi.
Kakak: oh, kok tumben pintunya dikunci.
Lala: enggak apa-apa mah.

Aku hanya tersenyum mendengar percakapan mereka dan langsung membereskan tempat tidurku. Di pagi hari sehabis sarapan aku bilang kepada kakak kalau ada hal-hal aneh selama aku disini. Kakak aku pun bercerita, katanya dulu istri si pemilik rumah meninggal secara tidak wajar. Pertama sih biasa saja, tapi setelah si pemilik rumah menikah lagi barulah ada kejadian-kejadian aneh sehingga akhirnya rumah ini dijual.

Setelah itu aku berpamitan untuk pulang dan sebelum pulang aku ngantarin si Lala dulu berangkat sekolah. Di perjalanan kita membicarakan hal semalam, dan semalam itu dia lupa tidak membaca doa dulu malah langsung tidur. Setelah aku ingat-ingat ternyata aku juga sama, lupa berdoa dulu sebelum tidur. Bersamaan dengan kejadian yang aku alami setelah suhu kamar menjadi panas, dia pun langsung bangun untuk ngebangunin aku.

Tapi aku tidak ada di tempat, hingga akhirnya langsung menuju kamar mamahnya tapi mereka juga tidak ada di kamar. Dia hanya bisa menangis di dekat pintu kamar mamahnya berharap terbangun dari mimpinya. Terus dia lihat pintu depan rumahnya terbuka sendiri, habis itu dia mendengar suara panggilanku.

Dia berjalan perlahan menuju pintu depan sambil memanggilku, tapi saat di pintu ada yang menabraknya. Dia mendengar suaraku tapi tidak bisa mendengarku. Setelah itu munculah perempuan berambut panjang kusut berbaju putih tertawa cekikikan. Selanjutnya di berdoa sebelum tidur bagian 2.

Keriting

Keriting

Selain menambah pengetahuan KCH juga bisa menjadi tempat curahan hati, hitung hitung daripada mengenang mantan mending ketik cerita mengenang kisah seram. maaf sebelumnya kalau ceritaku tidak menarik ) terimakasih kakak admin yang sudah mempublish dan memperbaiki kesalahan kata. Salam buat semua sahabat KCH, sukses terus ya, selamat membaca kisah lainnya serta ingat, “bacalah sendirian di tempat angker terdekat” wasalam wr wb

All post by:

Keriting has write 13 posts

Please vote Berdoa Sebelum Tidur
Berdoa Sebelum Tidur
Rate this post