Berkemah di Gunung Manglayang

Namaku Tata, aku kuliah di salah satu Universitas Islam Negri. Aku akan menceritakan sebuah pengalaman menyeramkan, yang aku alami ketika aku sedang pergi berkemah di gunung Manglayang. Cerita dimulai pada pagi itu, aku bersiap mengikuti kegiatan yang dilakukan salah satu himpunanku untuk pergi berkemah tepatnya di gunung manglayang.

Sesampai di kampus, aku bertemu dengan sahabatku Adelia yang sudah siap berangkat. Aku, adelia dan seluruh temanku yang lain berjalan kaki dari kampus menuju gunung manglayang. Hanya saja baru setengah perjalanan, aku seperti mau pingsan. Saat itu badanku memang kurang fit, aku pun naik motor bersama panitia dan sampai lebih dahulu di tempat tujuan daripada teman-temanku.

Sejujurnya aku baru pertama kali pergi ke gunung yang ditumbuhi pohon-pohon pinus seperti di gunung manglayang ini dan ketika aku melihat sekeliling, perasaanku agak tidak enak. Aku merasa seperti ada yang sedang memperhatikanku, aku tidak tau siapa. Jadi aku memutuskan untuk mengacuhkan perasaanku dan tidak memikirkannya. Ketika sampai di tempat camping aku pun memasukan tas ransel ku ke dalam tenda yang sudah disediakan oleh panitia.

Tapi tiba tiba ketika aku masuk, ada se-ekor kucing besar berbulu hitam didalam tenda. Kucing hitam itu membuatku kaget, aku pun mengusirnya dengan susah payah. Setelah kucing hitam itu pergi, aku pun beristirahat didalam tenda. Teman temanku baru sampai di tempat perkampingan sekitar jam 4 sore mereka baru sampai karena berjalan kaki.

Sore berlalu dan malam pun tiba, panitia kelompok mengadakan acara api unggun didepan tenda kami mengadakan acara kumpul bareng untuk sharing dan hiburan. Ditengah acara, aku keluar dari kerumunan karena ingin mencari sinyal handphone. Aku sudah berjanji untuk menelpon orangtua jika sudah sampai di tempat perkemahan.

Aku melangkah menuju jalan setapak, berusaha keluar dari area pepohonan. Tiba-tiba aku mendengar suara adelia yang berbisik, “Kalo jalan jangan sendirian, nanti ada yang temenin loch”. Ketika aku mendengar suara adelia, reaksi aku biasa aja. Aku berpikir bahwa saat itu, Adelia memang posisinya berada didekatku. Karena sinyal masih tidak dapat aku temukan, aku pun mencari tempat yang agak sedikit tinggi.

Tanpa terasa, aku sudah berjalan jauh dari kerumunan teman-temanku dan ternyata usahaku tidak sia-sia. Aku pun mendapatkan sinyal walaupun hanya selembar saja. Ketika aku hendak menelpon, tiba-tiba dibalik semak-semak aku mendengar suara yang memanggil-manggil namaku. Suara itu memanggilku hingga tiga kali. Aku melihat ke arah semak-semak dan tidak menemukan satu orang pun. Aku berpikir mungkin ada beberapa temanku yang sedang nongkrong dan mengajak aku untuk bergabung di balik semak itu. Tetapi tiba-tiba aku mendengar suara yang agak kabur.

Lama kelamaan suara itu terdengar semakin jelas, suara itu seperti suara cekikikan seorang wanita. Suara itu berasal dari semak-semak. Aku menjadi merinding, aku membatalkan niatku untuk menelpon ke rumah orangtua. Aku langsung pergi dan menghampiri teman-temanku yang sedang kumpul didepan tenda. Aku duduk bersama temanku dan mulai bersenang-senang.

Tiba-tiba mataku seperti menangkap sosok bayangan hitam, sosok bayangan itu lama-kelamaan terlihat seperti seorang nenek-nenek yang membungkuk. Aku menanyakan kepada salah satu temanku apakah dia melihat apa yang aku lihat. Dia menjawab tidak, perasaanku semakin tidak enak. Karena takut aku masuk ke tenda dan memilih untuk tidur, namun hanya aku sendiri yang berada didalam tenda. Aku berusaha keras untuk tertidur, ketika aku mulai mengantuk tiba-tiba ada yang meniupkan angin kepadaku dan aku melihat sambil gemetar.

Ketika aku melihat siapa yang meniup angin, ada sosok nenek dengan wajah keriput. Nenek itu menyeringai kepadaku, aku langsung melompat bangun dan lari keluar. Aku mengatakan apa yang kulihat kepada teman-teman diluar. Kami masuk beramai-ramai namun sosok itu sudah menghilang. Temanku pun tidak percaya dengan apa yang aku lihat.

Akhirnya aku kembali lagi ke dalam tenda, namun ketika aku sedang berbaring aku merasa seperti ada suara yang kembali memanggilku. Aku tersentak tidak bisa menjerit, hanya bisa menangis. Aku lalu merasakan telingaku tersentuh oleh sebuah benda yang basah dan lengket. Ternyata nenek itu sudah ada disebelahku, telingaku dijilati olehnya. Aku menjerit dan seluruh teman-temanku masuk kedalam tenda.

Aku menceritakan kembali apa yang aku alami. Tapi temanku tidak melihat apapun termasuk nenek itu. Sampai sini aku tidak ingat bagaimana kelanjutannya, yang jelas aku terbangun dan melihat teman-temanku mengerumuniku sambil berdoa. Kata mereka, ini untuk berjaga-jaga supaya aku tidak di ikuti sampai rumah.

Esok harinya Adelia berkata padaku, bahwa dia sempat bertanya pada penjaga warung sekitar kalo di gunung manglayang ini suka ada seorang nenek yang suka menampakan wujudnya dan mengganggu manusia. Mungkin saja Hantu Nenek itu tidak suka karena kita ribut, semoga ceritaku ini dapat menjadi peringatan untuk teman-teman yang membaca kisah ini agar lebih menjaga sikap ketika berada ditempat manapun.

loading...

Share This: