Bertemu Hantu Pocong di Tanah Kosong

Ini ceritaku yang pertama kali di situs KCH. Namaku Dwi Susanto, rumahku daerah Kediri. Banyak banget hal gaib yang pernah ku alami, dan pada kesempatan ini akan aku ceritakan satu-persatu. Awal mula cerita bulan april 2016 tahun lalu, aku sedang mendalami ilmu kebatinan di rumah bapak angkatku (biasa ku panggil bapak) daerah Blitar. Beliau terkenal sangat sakti dan juga bisa mengobati penyakit hal gaib.

loading...

Suatu hari ketika malam sekitar jam 7, bapak menyuruhku untuk membeli token listrik yang jaraknya sekitar 1 km dari rumah. Tak seperti biasanya kalau menyuruh keluar pas malam selalu pakai motor, hari itu aku di suruh jalan kaki, dengan alasan agar tambah berani. Bapak bilang seperti ini, dalam bahasa jawa.

Bapak: anu le cah bagus, tulong tukokno token listrik 50 ribu ae nyang toko pojokan kae (cah bagus, tolong belikan token listrik 50 ribu ke toko pojok jalan sana).
Aku: nggeh pak, lek ngoten kulo tak nitih sepeda motor (iya pak, kalau begitu saya naik sepeda motor).
Bapak: loh, ora usah. Bengi iki gak koyok biasane, awakmu kudu mlaku le. Karo ndelok pemandangan (tidak, malam ini tidak seperti biasa, kamu harus jalan kaki. Sekalian lihat-lihat pemandangan).

Aku: pemandangan demit iyo pak. Lha wong malam jumat (pemandangan hantu iya pak, kan malam jumat).
Bapak: *hahaha. Yo wes ndang budal, lek eroh opo ketok opo-opo jarno ae (ya sudah cepat berangkat, kalau lihat tahu, tahu apa-apa biarkan saja).
Aku: siap *ndan (sambil bercanda, biasa saya lakukan).

Nah seketika itu aku langsung berangkat menuju toko tersebut. Ketika sudah setengah perjalanan perasaanku mulai tidak enak, biasanya kalau begini ada hantu yang mengikuti. Dasar aku memang sudah berani, ku toleh ke belakang dan gak ada siapa-siapa. Seketika itu juga aku langsung meneruskan jalan kaki sambil siap siaga jika terjadi serangan atau gangguan dari makhluk halus.

Pada saat itulah momen-momen menyeramkan mulai terjadi, 15 meter dari depanku sebelah kiri jalan ada tanah kosong yang dulu katanya pernah ada rumah, tapi sudah tidak di huni dan akhirnya di bongkar, tapi sisa-sisa bangunan masih ada yang tersisa. Lanjut cerita, ku lihat malam ini tanah itu lebih terlihat gelap dan aneh menurutku, karena memang biasanya saat lewat aku sering melihat tanah itu memang gelap tapi tidak seperti malam ini.

Perlahan aku teruskan jalan kaki sambil melihat dan mengamati tanah itu, ketika pandanganku tertuju di pohon pisang ku lihat ada hal yang aneh. Ada seperti karung beras warna putih panjang sekitar 2 meter menggantung. “Wah kok perasaanku gak enak ya. Di terusin atau tidak, kalau tidak nanti di marahi bapak terus di kira aku penakut”. Akhirnya aku tetap jalan dan ketika sudah jarak 1 meter dari batas tanah itu, aku berhenti dan ku lihat dengan saksama.

Alangkah terkejutnya aku, ternyata itu “pocong”! Tiba-tiba dia menengok perlahan ke arahku dengan tatapan mata yang menyeramkan seperti hendak mengeluarkan bola matanya. Badanku kaku dan lidahku juga kaku, dan tak ada seorang pun yang lewat atau melihatku. Ketika itu hendak aku serang dia dengan kekuatan batinku, tapi sejenak aku teringat kata bapak yang menyuruh membiarkan saja jika melihat hal gaib. Langsung dalam hati aku membaca ayat kursi, setelah itu perlahan tubuh dan juga lidahku jadi lemas dan bisa bergerak normal lagi.

Lalu dengan nada sedikit marah aku bilang “heh, kenapa kamu ganggu saya? Saya cuma lewat dan melihat kamu. Seumpama bapakku tidak melarang, sudah tak hajar kamu! Pergi, kalau saat balik nanti kamu masih disini, aku gak bakal segan-segan menyerangmu!”. Dan seketika itu aku lanjut jalan kaki lagi menuju toko. Perlu di ketahui, hantu yang paling saya takuti adalah cuma pocong, gak tahu kenapa dari dulu begitu.

Kalau lihat genderuwo, kuntilanak, tuyul, *las, sundel bolong, jin, wewe gombel dan lain-lain sudah biasa dan gak ada rasa takut. Kapan-kapan lagi akan aku ceritakan pengalamanku tentang hal gaib. Lanjut cerita, ketika sudah selesai aku pun langsung pulang dengan jalan kaki lagi dan berharap pocong tadi sudah pergi. Ngomong kayak gitu tadi antara berani dan gak berani, *haha.

Ketika aku melewati jalan yang di samping tanah kosong itu, ku lihat pocong tadi sudah tidak ada, aman dan lega pikirku. Tapi 20 meter hampir sampai rumah, aku merasakan ada yang mendekat dan mengikutiku, spontan langsung kulihat ke belakang, ternyata pocong yang tadi di tanah kosong itu mengikutiku dengan cara berjalan zig-zag cepat dan di samping pohon. Ku teruskan jalanku dan akhirnya sampai juga di rumah, dan aku yakin pocong tadi tidak akan bisa masuk area rumah ini, karena sudah ada pagar gaib yang sangat kuat. Dan benar, dia hanya di pohon depan rumah dan melihatku, lalu ku ucap.

Aku: assalamualaikum pak (Setelah itu tak lama bapak membukakan pintu, dan bapak tertawa melihatku).
Bapak: *haha. Muleh gak nggowo panganan opo cewek lha kok malah nggowo pocongan (pulang gak membawa makanan atau cewek, tapi malah membawa pocong).
Aku: lah tirose wau njenengan sanjang ken ngejarne wae, yo akhire kulo jarne pak, namung kulo seneni (lah tadi anda bilang suruh membiarkan saja, jadi akhirnya saya biarkan, cuma saya marahi).

Dan aku pun masuk ke dalam rumah lalu memberikan nomor token tadi ke bapak. Setelah itu aku langsung ke kamarku, sambil ku lihat dengan mata batinku ternyata pocong tadi masih ada di pohon dekat rumah. Aku terkaget ketika ku dengar suara hentakan kaki yang keras di lantai (lantai rumah bapak terbuat dari kayu jati, dan sama sekali tidak bata di rumah ini, sampai dinding pun terbuat dari anyaman bambu dari solo), sambil bilang “wes, ndang nyaleh (sudah cepat pergi).

Ternyata bapak merasa risih dan mengusirnya. Dan seketika itu kulihat dengan mata batinku pocong itu sudah pergi. Akhirnya tenang juga pikiranku setelah dia pergi, langsung ku rebahkan tubuhku di kasur sambil di temani pusaka-pusaka milik bapak yang jumlahnya ada 4 peti, belum yang pusaka besar-besar. Bisa di bilang aku di kasih tempat tidur di kamar penyimpanan pusaka. *Hehe sekian ceritaku tentang pocong ini, lain waktu akan aku ceritakan lagi pengalamanku.

KCH

Dwi Sentausa

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Dwi Sentausa has write 2,670 posts