Bertemu Pocong dan Kuntilanak

Waktu itu sekitar pukul 11.00 waktu itu saya dan si udin baru saja pulang kerja malam itu saya pulang kemalaman. Berhubung saya dan si udin tidak punya kendaraan jadi saya berdua berjalan kaki melalui jalan pintas, di jalan pintas itu tampak sepi. Ya mungkin karena sudah larut malam dan mungkin juga karena jalan itu tampak gelap tidak ada penerangan sama sekali.

Di sisi kanan jalan ada sungai yang memanjang dan di sisi kanan ada pepohonan yang rimbun dan juga tidak jauh dari sana terdapat pemakaman yang lumayan angker, malam semakin sunyi dan udara di sanapun semakin dingin. Aku dan si udin terus saja berjalan dan tidak lama pun aku baru sampai dekat pemakaman angker itu. Samar-samar aku mendengar suara tangisan perempuan dan lama-lama suara tangisan itu semakin keras jalanku pun menjadi terhenti aku bertanya pada si udin yang berada di dekatku.

loading...

“din kamu denger gak ada suara tangisan perempuan”.
“Lah jangan nakut-nakutin dong”, kata si udin sambil memegang tanganku.
“udin, aku gak nakut-nakutin kamu, coba kamu denger sendiri”.

Dan tiba-tiba mataku dan mata si udin tertuju pada pohon yang ada di kuburan. Dan ternyata di pohon itu ada sesosok berwarna putih. Karena penasaran aku pun menyorotnya dengan senter yang dari tadi belum tdi aku nyalakan, dan alangkah terperanjatnya aku saat melihat ternyata sosok putih itu adalah kuntilanak yang sedang menangis berwajah hancur dan di matanya pun terdapat banyak belatung.

Aku dan si udin cepat berlari dengan sekuat tenaga. Kuntilanak yang tadinya menangis kini mengeluarkan tawa yang menyeramkan. Semakin lama aku berlari akhirnya aku sudah berada jauh dari tempat kuntilanak itu, aku dan si udin sangat lelah. Lariku pun berhenti ketika melihat di hutan bambu ada asap putih lama-lama asap putih pun berubah menjadi pocong yang menyeramkan.

Aku dan si udin sangat ketakutan dan kembali berlari tidak sengaja aku menoleh kebelakang dan ternyata pocong itu terbang dan sedang mengejar kami. Akhirnya aku serta si udin sampai di rumahku dan si udin menginap di rumahku karena dia tidak berani pulang sendiri ke rumahnya. Sejak kejadian itu aku tidak berani lagi pulang melalui jalan itu.

Share This: