Bingkisan Kado Dari Ayah

Hai sobat dan sahabat KCH. Aku mau ngucapin thanks a lot kepada para reader yang sudah suka dengan kisah-kisah yang aku tulis dan para writer yang ceritanya bagus-bagus. Aku selalu membaca cerita terbaru dari KCH. Semoga KCH berjaya terus ya. Ok, dah. Lanjut. Kalian kalau membaca ceritaku “tiga kunti mengejar kami” pasti kalian tahu siapa Dina dan Dini.

Ya, mereka berdua adalah gadis kembar yang satu kuliahan dan satu kelas padaku. Dulu mereka itu gak mau berteman denganku karena menganggap aku “aneh”. Kalau kalian selalu mengikuti ceritaku, pastilah kalian tahu dan paham kenapa aku dibilang aneh. Tapi semenjak aku selalu membantu Dina dan Dini disaat mereka kesusahan, disitulah lama kelamaan akhirnya kami menjalin pertemanan.

Itulah kan, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta so, tak cinta maka rindu. Begitulah seterusnya, sampai sazk*a gotik berubah menjadi s*zkia go-car (Ah! Apaan sih? Gila loe ndro!), setelah mereka tahu sifatku yang tidak dingin (pemikiran orang yang tidak mengenalku) dan aneh, mereka baru sadar kalau aku ini orangnya kocak banget, lucu dan enak diajak ngobrol. Pantasan, setan juga suka sama aku *hehe.

Ok, lanjut. Jadi, bulan lalu, Dini resmi melepas status lajang dengan seorang pria bernama Angga. Aku merasa pernikahan Dini, memang dini alias cepat banget. Padahal tuh anak masih kuliah semester 3, tapi sudah mau kawin-kawin saja. Ya, gak apalah. Namanya sudah jodoh, mau bagaimana. Ok, lanjut.

Dua hari sebelum pernikahan, Dina serta teman kampus yang lain sudah menyiapkan pakaian terbaik mereka demi menghadiri acara ijab kabul dan resepsinya Dini sedangkan aku sama sekali belum siap apa-apa. Saat aku dan Dina diruang pakaian untuk memilih pakaian yang akan ku kenakan dipernikahan Dini nanti.

A: aku
D: Dina

A: aku gak cocok pakai baju ini. Ini bukan seleraku.
D: apa loe bilang? Gak cocok. Sesuai lagi sama badan loe dan kulit loe itu masuk saja kalau pakai warna apapun. Macam mana sih loe?
A: aku mau pakai celana jeans saja. Aku gak suka pakai rok kebaya. Gak banget. Aku merasa gak pe-de.

D: loe itu cewek, Gin. Cewek. Kelakuan loe ya, harus cewek juga. Apanya sih yang gak pe-de. Malahan nih ya, kalau loe atasannya pakai kebaya dan bawahannya pakai jeans, malah loe kayak mpok atiek, *hehe.
A: enak saja loe, samain aku sama mpok atiek. Loe gak tahu apa? Aku ini sebelas duabelas sama Mai Davikah Hoorne (ngarep) *hehe.
D : *hehe! Sebelas duabelas sama Davikah, *soek. Sebelas duajuta, iya.

Selesai percakapan yang aneh dan tidak bermanfaat itu, mau gak mau aku harus pakai rok kebaya, malas banget. Bukan tipe aku. Aku sukanya yang simple saja dan gak mau ribet-ribet. Dua hari kemudian sebelum ijab kabul berlangsung, aku yang sedang diruang pakaian sedang sibuk dan heboh mencoba pakaian yang sama sekali bukan aku banget, tiba-tiba ada seorang bapak yang menemuiku.

Alangkah kaget aku, ketika tiba-tiba dia ada dibelakangku, padahal diruang itu tadinya hanya aku sendiri. Tapi aku tak menaruh curiga dengan bapak itu. Ah! Bapak ini ngagetin aku saja, untung aku sudah siap pakaian, coba kalau belum. Bisa gawat. Aku gak tahu itu bapaknya siapa dan aku sebelumnya sama sekali belum pernah melihatnya. Bapak itu hanya tersenyum kepadaku, kemudian dia ngasih sebuah bingkisan kepadaku berupa kado.

Awalnya aku kira kado itu untukku, kan aku gak ulang tahun ya, aku terlalu ke ge-eran, tapi setelah ku baca tulisan didepan bingkisan kado itu bertuliskan “Dini”, aku rasa kado ini memang untuk Dini, tapi kenapa kok ngasihnya ke aku? Kenapa gak ngasih ke Dininya langsung ataupun ke Dina? Aneh banget sih bapak. Setelah bapak itu memberikan bingkisan kado kepadaku, dia kemudian tersenyum lagi lalu keluar dari ruang baju.

Setelah urusan aku dengan baju yang amat super *rempong itu selesai, kemudian aku bergegas menemui Dini di kamarnya, Dini yang sedang dandan itu terkejut melihatku memberikan bingkisan itu kepadanya. “Gin, loe ngapain ngasih bingkisan lagi? Bukannya loe semalam sudah ngasih aku?” tanya Dini penuh tanda tanya.

“*Hm, loe jangan ge-er dulu Din, ini bingkisan bukan dari aku. Tadi aku ada di ruang baju ganti, tiba-tiba ada seorang bapak yang nyelonong saja masuk, tanpa ketuk pintu atau bilang permisi, aku kan jadi terkejut. Terus tiba-tiba dia memberikan ini sama aku tanpa ada bilang apa-apa, dia cuman senyum-senyum *doang, terus dia kabur. Ya aku kira itu kado buat aku, eh ternyata. Ada namamu. Baca tuh!” mendengar penjelasanku, Dini sangatlah terheran-heran.

Kemudian dia tanya ciri-ciri bapak yang memberikan bingkisan itu.”*Hm bapak itu pendek, setelinga aku lah kira-kira, alisnya tebal, kumisnya tipis putih, matanya sayu, rambutnya botak tengah, terus dia jalan pakai tongkat.” Dini pun shock ketika mendengar ciri-ciri yang ku jelasin tadi dan kemudian dia menangis sambil membuka bingkisan itu untuk melihat isinya apa.

Aku yang melihatnya terheran-heran. Kenapa sih, si Dini? Dan sewaktu dibuka bingkisannya, Dini nangisnya semakin menjadi, aku gak tahu kenapa, kemudian dia menyuruhku untuk memanggil Dina dan ibunya. Setelah Dina dan ibunya hadir dan melihat isi kadonya yang berupa baju pengantin, ibunya malah nangis. Dina bertanya dari mana dan siapa yang ngasih kado ini? Aku pun menjelaskan seperti halnya kepada Dini, selesai menjelaskan, Dina malah ikut-ikutan nangis.

Aku semakin bingung dan bingung. Aku bertanya kepada Dina, karena Dini dan ibunya sedang tidak memungkinkan. Ada apa sih? “Loe yakin Gin, dengan ciri-ciri yang loe kasih tahu tadi?” tanya Dina. “Ya, yakinlah. Bapak itu ngasih kadonya sama aku langsung. Ya, mana mungkin aku nipu”. Kemudian, Dina pun menjelaskan siapa sosok bapak itu. Ya, itu adalah ayah mereka yang setahun yang lalu meninggal akibat kecelakaan. Dulu ketika Angga dan Dini tunangan.

loading...

Ayah Dina dan Dini sudah mempersiapkan sebuah baju pengantin di tempat rahasia dan sebelum meninggal, ayahnya pernah bilang “Dini, ayah yakin kalau kamu dan Angga akan menikah. Ayah sudah menyiapkan baju pengantin untukmu kelak” kemudian Dini bertanya “Ah? Kok cepat banget sih, yah. Kan Dini sama Angga masih tunangan, kenapa sudah dibelikan baju pengantin”.

Kemudian Dina pun menyambung “entah nih ayah. Buang-buang uang saja. Belum tentu loh Angga itu jodohnya Dini. Dimana yah, baju pengantinnya. Lihat dong”. Ayahnya pun menjawab “Ayah seratus persen yakin kalau mereka akan menikah. Ayah menyimpan baju itu ditempat rahasia. Nanti deh ayah kasihkan, tapi kalau Dini mau nikah nanti”. Itulah kata-kata terakhir dari ayah mereka sebelum meninggal.

Pantasan saja, walau aku gak menaruh curiga sama bapak itu, tapi aku merasa ada yang aneh dengannya, karena dia datang tiba-tiba dan dia gak ada ngomong sepatah katapun kepadaku. Oh ternyata, cuman roh ayahnya yang mau titip kado. Dini sangat terisak-isak dan dia memegang serta menciumi baju pengantin “Ayah, terima kasih”.

Kasih sayang ibu dan ayah tidak ada batasnya. Walaupun mereka sudah tiada, tapi cinta kasih mereka tetap ada buat anaknya. Sampai mereka tiada pun, kita sebagai anaknya tidak akan pernah bisa membalas jasa kedua orang tua kita. Pesanku, jangan pernah durhaka kepada kedua orang tua. Sekian.

Fiolin Fradah

Sezgina Fradah

Thank you for reading my stories. Thank you for liking my stories Thank you so much... Terimakasih,Thank you,Arigato gozaimasu, kamsahamnida,Xie-xie,Merci bien,Dankejewel,Matur nuwun,Tarimo kasih,Hatur nuhun,Bujur...

All post by:

Sezgina Fradah has write 94 posts