Boneka Hantu

Hai, namaku Jimmy. Ini kiriman cerita hantuku yang ke-2, kali ini aku menceritakan pengalaman yang cukup menyeramkan tentang boneka hantu, ketika itu aku kedatangan saudari perempuanku dan temannya karena hari itu aku ulang tahun yang ke-21. Saudari perempuanku (sebut saja namanya Frieska) dan temannya (sebut saja namanya Wati) memberikanku sebuah kado, setelah dibuka, aku cukup kecewa.

Karena hadiahnya adalah sebuah boneka pesulap yang sudah usang dan kotor, namun aku sembunyikan perasaan kecewaku. Karena aku tak ingin menyakiti perasaan mereka, waktu terus belanjut, hingga hari sudah menjelang malam. Adzan maghrib sudah terdengar, mereka pun pamit untuk pulang. Aku pun segera siap-siap untuk pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah.

Namun ada yang aneh, ketika aku ingin menutup pagar. Aku merasakan masih ada orang yang berada di dalam rumah. Namun aku tak menghiraukannya, aku pun langsung menaiki mobilku, sholat berjamaah pun selesai. Aku pun langsung pulang, menaiki mobilku. Beserta temanku yang ingin menginap di rumahku, ketika sampai dirumah aku merasakan tidak ada yang aneh.

Jam 22.00 aku masih menonton tv, temanku ingin tidur namun aku kaget bukan kepalang. Karena temanku berteriak ketakutan, dia menceritakan bahwa ada boneka bermata merah. Bergigi taring dan memegang pisau ingin membunuhnya, mendengarnya aku takut. Ketika aku masuk ke dalam kamarku, benar saja boneka itu ingin membunuhku dan temanku.

Aku dan temanku lari menghindar dari boneka itu, aku dan temanku langsung komat kamit membaca doa, dzikir, dan ayat-ayat al-quran. Alangkah terkejutnya aku dan temanku, seketika boneka itu pun terbakar hangus dan menjadi abu. Keesokan harinya aku bertanya kepada Frieska tentang boneka itu, namun Frieska tidak menjawab. Aku pun bertanya kepada Wati, ternyata Wati memberitahu kalau boneka itu sebenarnya punya teman Frieska yang sudah mati karena dibunuh.

Sebelum meninggal, dia (teman Frieska) berpesan siapa saja yang mempunyai bonekanya, maka ia akan datang dalam tubuh boneka, untuk membunuhnya, kemudian aku pun memanggil ustadz untuk menunjukkan boneka itu. Ustadz mengatakan, kalau boneka itu harus dikubur. Kalau tidak, boneka itu akan meneror seumur hidup, ketika aku mengubur boneka itu, didampingi ustadz, aku pun merasa lega dan aman.

loading...

Share This: