Boneka Jelangkung

Banyak sekali pertanyaan di dalam benak ketika guru sejarahku bercerita tentang bangunan tua. Katanya, setiap bangunan pasti memiliki sejarah, terlebih bangunan itu sudah berdiri lebih dari ratusan tahun. Malam itu entah kenapa terasa sangat dingin, ketika aku bersama tiga temanku memutuskan untuk ke sekolah. Bukan untuk belajar, melainkan untuk bermain. Permainan yang tidak akan pernah kucoba lagi seumur hidupku. Yaitu, Jelangkung.

Rasa penasaran akan sejarah sekolah menjadikanku nekad membuat sebuah boneka jelangkung dari kemoceng, sementara kepalanya aku buat dari bola plastik dengan raut wajah sedih. Konon, jika kita menggambarnya dengan raut wajah tersenyum, makhluk gaib itu tidak akan menjawab pertanyaan kita. Dia hanya akan tertawa. Aku juga menyiapkan sebuah spidol dan sebuah buku gambar untuk media tulis.

Sebenarnya untuk masuk ke sekolah pada malam hari tidaklah mudah karena ada satpam yang selalu menjaga keamanan sekolah. Namun, hal itu bukanlah halangan sebab satpam sekolah itu kebetulan sangat akrab denganku. Cukup dengan memberinya uang rokok, dia mengijinkan kami masuk ke gedung sekolah. Aku, Rayi, Jaka, dan lyas pertama kali masuk ke aula sekolah. Saat itu, keadaan ruang aula sangat gelap, karena memang tidak ada satu pun lampu yang dinyalakan. Bermodal cahaya senter sebagai penerangan, kami duduk di tengah aula.

Aku memegang jelangkung dan meletakkannya di atas buku, dengan spidol yang sudah dikaitkan di bagian bawah boneka itu. Temanku yang lain juga ikut memegang dan kita pun memulai permainannya. “Jelangkung.. jelangkung di sini ada pesta. Pesta kecil-kecilan, datang tak dijemput, pulang tak diantar. Jelangkung, jelangkung di sini ada pesta. Pesta kecil-kecilan, datang tak dijemput pulang tak diantar” Kami mengucapkan mantra tersebut berkali-kali, sampai Aku merasakan boneka jelangkung ini mulai berat, bergerak, dan semakin berat. Kami mencoba menahan gerakan boneka itu bersama-sama.

“Siapa kamu?” Jelangkung itu mulai menulis.
“H A R”.
“HARJA? kenapa kamu ke sini?” lyas melanjutkan pertanyaan dengan terbata-bata. Aku tersenyum dan merasa permainan ini semakin seru.
“Saya akan kasih tahu…” Harja kembali menulis di kertas. Dia menulis lagi “TOILET”. Sepertinya, Harja menyuruh kami ke toilet. Kami segera menuju ke toilet sekolah, aku terus memegang boneka jelangkung itu.

Sesampainya di toilet, boneka jelangkung itu bergerak lagi dan menulis sesuatu. “BELAKANG”. Ternyata bukan toilet ini yang dimaksud oleh Harja. “Emang ada ya, toilet di belakang?” tanyaku pada yang lain. Temanku yang lain pun kebingungan. Kami menyusuri halaman belakang sekolah, mencari tempat yang dimaksud jelangkung. Namun, yang aku dapat hanya ruang olahraga saja. Di mana toiletnya? Kami terus mencari, ternyata ada sebuah gang kecil di sudut ruang olahraga itu.

Kami dengan rasa penasaran yang ada, melangkahkan kaki masuk ke sana. Ada sebuah ruang kosong terisi banyak sekali genteng dan batu bata yang berserakan. Di ujung ruang itu, terdapat sebuah pintu dan aku yakin itu adalah toiletnya. Aku menyenter setiap sudut toilet. Hanya toilet biasa saja ternyata. Toilet itu sepertinya sudah lama sekali tidak dipakai. Banyak coretan di dindingnya dan juga sarang laba-laba di sudut-sudut dindingnya.

loading...

“Harja kenapa kita ke sini?” tanyaku. Boneka jelangkung itu tidak bergerak lagi. Bulu kuduk kami meremang. Kami saling tatap, tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Hawa menjadi sangat dingin. “Udah, kita cabut aja ajak lyas temanku. Kami sepakat pergi, tapi boneka itu bergerak lagi dan menuliskan sesuatu.

“K U B U R A N S A Y A” Astaga, Kuburan? Refleks, kami lari tanpa ada aba-aba sedikit pun. Gang yang sempit itu membuat kami susah untuk keluar. Entah bagaimana pintu toilet itu terbanting dengan sendirinya. Tapi, langkah kami terhenti ketika tiba-tiba saja lyas terjongkok. Aku langsung melempar boneka jelangkung dan berlari ke arah lyas. “Yas, Sadar Istigfar” lyas masih terdiam dengan tatapan kosong. Aku dan dua temanku yang lain mencoba mengangkatnya.

Namun, badan lyas sangat berat. Aneh, boneka jelangkung yang ada di lantai bergerak-gerak. Aku langsung mengambilnya, dan boneka itu seperti memiliki tenaga yang sangat kuat. Dia menarikku kembali ke arah toilet belakang. Badanku tertarik. Aku berusaha menahannya, tapi tidak bisa. “Rayi, bantu saya” Rayi temanku langsung membantuku menahan jelangkung itu. Aku berusaha menggapai kepala jelangkung itu. Aku melepas kepala jelangkung itu. Lalu boneka jelangkung pun tidak bergerak lagi.

Kami berusaha menyadarkan lyas, dan berhasil. Dengan ketakutan yang memburu, kami segera berlari meninggalkan sekolah. Untungnya, kami semua bisa keluar. Ketakutan kami berganti dengan bahagia. Ini seperti petualangan yang sangat seru. Sekitar pukul 11 malam saat itu, ketika kami memutuskan pulang ke rumah masing-masing. Aku pun sampai di rumah. Setelah bersih-bersih, aku pun bersiap tidur. Setelah mematikan lampu kamar, aku masih tetap bermain handphone menunggu rasa kantuk tiba.

Saat mendengar pintu lemari pakaian terbuka, refleks aku melihat ke arah lemari. Aku bangkit dari tempat tidur, dan menutup pintu lemari. Baru beberapa detik aku membaringkan badan, pintu lemariku terbuka lagi. Kali ini, terbuka cukup lebar. Aku perhatikan lemari itu. Lalu, aku melihat sebuah bulatan berwarna putih pipih dari dalam lemari. Sebuah mata terlihat mengintip dari sela-sela pakaian di dalam lemari. Sebuah wajah menyembul keluar dan melihat kepadaku. Wajah pucat seorang laki-laki.

“KUBURAN SAYA” Laki-laki itu berkata seperti itu kepadaku. Aku meloncat dan berlari ke luar. Ketika akan membuka pintu kamar, Ada yang memeluk dari belakang. Pelukannya sangat kuat, membuatku tidak bisa bernapas. Sekilas kulihat di cermin, tidak ada apa-apa di belakangku. Sekuat tenaga, aku mencoba melepaskan diri, tetapi suara itu terdengar lagi. “Kuburan saya” Keesokan paginya di sekolah, aku bertemu teman-temanku. Kami saling bercerita apa yang kami alami.

Mereka juga mengalami gangguan yang sama denganku. Kami yakin yang mengganggu kami adalah Harja. Aku mencoba mencari tahu siapa Harja itu. Tapi, baik penjaga sekolah maupun pedagang yang sudah lama berjualan di kantin mengaku tidak tahu. Aku merasa mereka bukan tidak tahu, melainkan mereka semata-mata tidak ingin memberi tahu. Namun, seorang tukang parkir di sekolahku bilang, kalau di sekolah ini ada sebuah kuburan. Entah di mana letaknya, dia sendiri tidak tahu.

Share This: