Boneka Mandy

Pengalaman ini berdasarkan pada kisah nyata yang tidak akan bisa aku lupakan sampai sekarang. Hari itu merupakan hari pertama yang dimana aku dan keluarga menempati rumah Oma. Sambil beres-beres Ayah memeriksa benda peninggalan Oma itu. Semenjak Oma meninggal, rumah yang terletak di Jalan Cipaganti itu diwariskan kepada ayahku, anak pertamanya. Menurutku rumah Oma termasuk unik, karena rumah tua peninggalan zaman Belanda.

Meski rumah ini sudah tua, namun rumah ini cukup terawat. Rumah itu memiliki tiga kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, halaman depan, dan halaman belakang. Dan yang paling aku suka dari rumah ini adalah lotengnya. Sebuah loteng kecil yang berlantaikan kayu yang sangat indah, dengan sebuah jendela menghadap jalan raya. Aku pun memilih loteng itu sebagai kamarku.

Ketika yang lain sedang membersihkan bagian rumah yang lain, aku sibuk sendiri menata kamar yang akan aku pakai di loteng itu. Namun, ternyata itulah awal yang mengubah hidupku dan keluargaku yang tidak akan pernah aku lupakan. Kejadian tragis yang menyeramkan, sekaligus menyedihkan. Tanganku penuh dengan barang-barang tua milik Oma, sambil mengamatinya, aku mencoba memasukkan satu persatu barang-barang itu ke dalam sebuah peti besar.

Mulai dari buku, lampu meja, pigura, pajangan, yang pasti semuanya adalah barang kesayangan omaku. Mataku tertuju pada sebuah kotak cokelat berdebu di sudut kamar. ‘Kotak apa yah itu?’ Dengan rasa penasaran aku berjalan mendekati kotak tersebut. Aku mendaratkan kedua lututku ke lantai kayu, yang hanya berjarak beberapa sentimeter dengan kotak unik itu.

Kotak yang terbuat dari kayu itu terlihat sangat kotor berdebu, juga dihiasi banyak lubang di bagian atasnya. Telapak tanganku mulai mengusap bagian atas yang penuh debu itu. Aku pun meniup sisa debu yang ada, lalu timbul sebuah tulisan dalam bahasa Belanda.

“Dit vak moetnietworden geopen.”

Aku mengernyitkan dahiku, aku tidak tahu apa arti tulisan itu. Ayah pasti tahu artinya, tapi nanti saja, deh tanya ayahnya. Aku sibuk mencari kunci kotak tersebut, tapi sayangnya aku tidak menemukannya. Aku memutuskan membuka paksa kotak itu, aku berusaha membuka gembok kecil yang tersangkut. Awalnya susah, tapi entah kenapa tiba-tiba saja aku merasakan kekuatanku bertambah.

Aku berusaha menarik gembok itu sekuat tenaga. Kotak itu terpelanting dan membentur lantai. Tutup kotak berhasil terbuka dan isinya berhamburan. Aku sangat terkejut. Aku terdiam beberapa menit, masih bingung dari mana asal kekuatan tadi. Napasku terengah-engah, perlahan aku membereskan barang-barang yang berjatuhan di lantai. Ada kalung, sebuah kunci, buku harian, baju, dan boneka.

Di antara semua benda itu, yang menarik perhatianku adalah boneka. Sebuah boneka perempuan yang cantik, berambut pendek dengan dress berwarna hitam dan ikatan pita di kepalanya. Sepertinya boneka itu bukan terbuat dari plastik, melainkan dari bahan seperti keramik. Aku bisa mengetahuinya karena di daerah mukanya ada bagian-bagian yang retak. Matanya yang biru dan ada sebuah tulisan di bawah sepatunya. Tulisanya mandy, Aku tersenyum dan berdiri, lalu menaruh boneka itu di deretan boneka yang lain.

Waktu berlalu, hari demi hari aku dan keluargaku lalui dengan bahagia di rumah Oma. Hingga suatu hari semua kebahagiaan itu berubah menjadi ketakutan. Ketakutan yang membuat keluargaku hampir menjual rumah Oma. Malam itu aku, kakak dan Ibu sedang menonton TV sedangkan Ayah sedang asyik di depan komputernya. Tiba-tiba saja, kami mendengar bayi menangis. Awalnya hanya kakak yang mendengarnya, kemudian aku pun mendengarnya.

“Coba kecilkan dulu volume TV nya Kak, aku seperti dengar suara anak kecil nangis deh.” pintaku. Kakak lalu mengecilkanya, dan suara itu semakin jelas. Kami saling berpandangan. Ibu mencoba menenangkan kami dengan mengatakan, kalau itu suara bayi tetangga karena suaranya kecil dan sangat jauh. Kami pun mengiyakan pendapat Ibu, dan kami kembali menonton TV.

Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku mencoba membaca buku sambil menunggu rasa kantuk hinggap di mataku, lalu rambutku seperti ada yang menjambak. Aku terbangun, mataku yang tadi setengah mengantuk sekarang sangat terbelalak. “Siapa tadi yang menarik rambutku?”. Aku membalikkan wajahku, namun aku tidak melihat siapa pun di kamar itu, hanya aku sendiri. Aku menatap deretan boneka di ujung tempat tidur. Aku segera menaruh buku menutup badanku dengan selimut dan tidur. Aku terbangun dan sangat terkejut melihat kamarku yang berantakan.

“Ibu..” Suaraku memecah keheningan pagi. Langkah Ibu terdengar mendekati kamarku. Ibu sontak terkejut memandangi keadaan kamarku yang acak-acakan. Esok malamnya, aku kembali dikejutkan dengan sesuatu yang bergerak-gerak di atas kasur. Meski mataku masih terpejam, tapi aku bisa merasakannya kalau selimutku perlahan-lahan turun dari badanku.

Aku membuka mataku, lalu aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, selimutku bergerak. Badanku kaku, tidak bisa berbuat apa-apa. Perasaanku diliputi ketakutan. Aku kumpulkan tenaga, dan menarik kembali selimutku. Ketika aku menariknya Astga, aku melihat boneka Mandy sedang terduduk tepat di ujung selimutku. Aku segera mengambil boneka itu dan memeluknya. Antara takut dan bingung, aku kembali melanjutkan tidurku.

Belum sempat tertidur lama, aku merasakan ada yang bergerak lagi. Kali ini bergerak di bawah selimut. Aku kembali terbangun, Mandy? Di mana Mandy? Boneka itu sudah tidak ada di pelukanku. Ketika pandanganku mengarah ke jendela, Mandy sudah berada di atas jendela. Aku tertegun, mataku tak berkedip mulutku menganga. Aku melihat Mandy, dia berusaha merangkak keluar dari loteng bagaimana boneka itu bergerak.

Aku membuka selimut dan berlari menuju kamar kakak. Aku berharap segera tertidur dan melupakan apa yang aku lihat tadi. Aku menutup seluruh badanku dengan selimut. Keesokan paginya, aku mendengar suara gaduh dari luar kamar. Suara ibu sedang berbicara, Aku bangun dan menghampiri ibu yang tampak sedang di dapur.

“Sedang apa Ibu?”.
“Ibu sedang menyikat boneka Mandy”.

Ibu melihat ke arahku dan bertanya kepadaku bagaimana boneka itu bisa berada di halaman. Tak terasa air mataku menetes. Aku menutup mulutku dengan tangan dan berlari ke arah kursi di ruang TV. Aku memeluk lututku sambil membayangkan kejadian semalam. Setelah aku tenang, Ibu menghampiriku dan memberikan segelas air minum. Aku lalu mulai menceritakan apa yang terjadi. Ibu terlihat sangat heran mendengar ceritaku. Namun, Ibu akhirnya membungkus Mandy dengan koran dan membuang boneka itu ke tempat sampah. Dan benar saja malam-malam berikutnya tidak ada lagi kejadian aneh.

Tapi, ketenangan itu hanya bersifat sementara. Membuang boneka Mandy bukan berarti membuang masalah yang datang bersamanya. lni bukan akhir, malah awal dari kejadian yang lebih buruk. Kejadian pertama dialami oleh kakak. Dia yang berada di kamar mandi, tiba-tiba menjerit ketakutan karena dia melihat boneka Mandy terapung di bak mandi. Padahal sebelumnya boneka itu sudah dibuang, dan kakak tahu itu.

Lalu Ayah juga mengalami kejadian yang tak kalah menakutkannya. Hal itu dialami ayah ketika hendak ke kantor. Tiba-tiba saja mobil Ayah mati. Ketika ayah memeriksa mesin mobil dan membuka kap mobil, dia begitu terkejut melihat boneka Mandy terselip di antara mesin. Ibu pun sempat melihat boneka Mandy sedang terduduk di dalam kulkas di antara tumpukan makanan.

Berulang kali kami membuang boneka itu, dia tetap kembali ke rumah. Aku dan keluargaku yang awalnya merasa takut, namun ketakutan itu berubah menjadi rasa marah ketika teror ini tak kunjung usai. Kami pun akhirnya membakar boneka Mandy. Malam itu aku ketiduran di depan TV. Lalu tengah malam aku terbangun dan mendapati channel TV yang aku tonton sudah tidak menyiarkan apapun, selain gambar warna warni. Aku mematikan TV dan berjalan menuju kamar. Baru beberapa langkah, aku mendengar suara berisik dari arah dapur.

Entah kenapa malam itu aku tidak merasa takut. Suara itu malah membuatku penasaran. Aku membalikkan badanku dan melangkah perlahan ke arah dapur. Suara itu semakin jelas. Ketika aku sudah sampai di dapur dan menyalakan lampu, Langkahku terhenti, aku merasa badanku membeku. Sesosok makhluk kecil berbadan gosong mengerikan sedang berdiri membuka kulkas.

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Bulu kuduk meremang seketika. Aku mengambil sapu lantai yang bersandar di ujung dapur, lalu dengan sekuat tenaga memukul Mandy. Dia memutar kepalanya 180 derajat dan memandang ke arahku. Mukanya sangat menyeramkan hitam gosong. Dia berjalan perlahan ke arahku dan dia bersiap melompat ke arahku. Aku lemas dan berikutnya tak sadarkan diri.

Keesokan paginya, aku mendapati diriku berada di kamar kakak. Badanku terasa berat sekali, Aku berjalan menghampiri ibuku yang sedang sibuk membereskan sebuah kotak. Ibu menatapku lalu bertanya, apakah aku sengaja membuka kotak itu? Aku hanya mengangguk lemas. Ibu lalu menjelaskan kalau kotak itu adalah peninggalan Oma, kepunyaan sahabatnya yang meninggal dibunuh tentara Jepang.

Oma melarang seluruh keluarganya untuk membuka kotak itu karena dia selalu dihantui oleh arwah sahabatnya. Menurut cerita Oma, arwah sahabatnya itu masuk ke dalam boneka Mandy. Aku hanya terdiam dan tidak berkata apa-apa. Ibu pun memberi tahu arti dari tulisan “dit vak moet niet worden geopen” yang ada di kotak adalah jangan buka kotak ini.

loading...

Share This: