Boneka Sabrina Milik Gista

Di sebuah perumahan, hiduplah sebuah keluarga yang rumahnya paling megah diantara rumah lain. Keluarga itu adalah keluarga yang kaya karena pemilik rumah adalah pengusaha tambang. Anaknya perempuan, bernama Gista. Dia suka bermain boneka. Setiap pulang kerja, kedua orang tuanya selalu membawakan boneka. Namun, dari semua boneka yang ada dirumahnya, hanya satu boneka kesukaannya, yang diberi nama Sabrina.

Dia suka boneka itu karena itulah boneka pertamanya. Pada saat hari ulang tahun Gista, kedua orang tuanya tidak bisa hadir untuk merayakannya. Di karenakan kedua orang tuanya sedang meeting diluar kota. Gista pun meniup lilin kue ulang tahunnya sendiri bersama satu orang pembantu dirumahnya. Setelah gista sudah selesai meniup lilin, pembantunya pun kedapur untuk mencuci piring.

Gista keluar rumah karena biasanya pada sore hari dia bermain dengan temannya di taman yang tidak jauh dari rumahnya. Pada saat Gista mengendarai sepedanya, ada sebuah mobil yang melaju kencang dan menabrak Gista. Pada saat itu, pembantunya keluar dari rumah untuk menyapu halaman rumah yang sudah kotor. Pembantunya bingung karena melihat banyak orang dipertigaan dekat rumah Gista.

Pembantu itu pun berjalan menuju keramaian orang dipertigaan. Pembantu itu kaget karena melihat Gista telah berlumuran darah disekitar kepala dan dadanya. Pembantunya pun langsung mengunci pintu rumah dan langsung mengendarai mobil dan Gista diletakkan dikursi mobil bagian belakang menuju ke rumah sakit. Pada saat pembantunya mencoba untuk menelepon orang tua Gista, ponselnya tidak aktif.

Lalu, dokter mengatakan bahwa pembuluh darah Gista dibagian otak pecah dan jantung Gista terluka parah dan tim dokter tidak bisa menyelamatkan Gista akibat mobil yang menabrak Gista telah melindas Gista menurut saksi mata. Dan pada saat itu juga, Gista dinyatakan meninggal. Satu jam setelah dokter menyatakan Gista meninggal, orang tua Gista menelepon pembantunya untuk menanyakan Gista sudah makan atau belum.

Pembantunya langsung menangis memberitahukan kepada orang tua Gista bahwa Gista telah meninggal. Langsung orang tua Gista dari Bandung menuju ke Jakarta malam itu juga karena khawatir dengan keadaan Gista. Pada saat orang tua Gista telah berada di rumah sakit, kedua orang tua Gista langsung menangis karena kehilangan anaknya yang merupakan anak satu-satunya.

Keesokan harinya, teman-teman Gista, beberapa guru Gista, dan saudara-saudara Gista datang ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) “Tanah Kusir” untuk melihat proses pemakaman Gista. Setelah 4 hari kepergian Gista, hal-hal aneh mulai terjadi dirumah Gista. Mulai dari tas sekolah Gista yang terbuka sendiri, Kursi yang berpindah tempat, Lampu kamar Gista yang bisa menyala dan mati dengan sendirinya, boneka Sabrina yang bisa berpindah tempat, dan lain-lain.

Kedua orang tua Gista pun menghubungi orang yang bisa melihat makhluk halus untuk datang kerumah mereka dengan maksud ingin menanyakan mengapa setelah Gista meninggal mereka diganggu oleh hal-hal aneh. Orang yang bisa melihat hantu itu bernama Deva dan dia menjelaskan bahwa arwah Gista masih ada didalam rumah itu yang masuk kedalam boneka Sabrina milik Gista. Dia juga mengatakan bahwa Gista belum ingin untuk pergi dari rumah itu dan Gista masih marah kepada orang tuanya karena dihari ulang tahunnya kedua orang tuanya tidak bisa hadir.

Deva menyarankan bahwa sebaiknya kedua orang tua Gista melakukan komunikasi kepada roh Gista pada malam jumat dengan cara memasang satu lilin ditoilet dekat cermin, lalu mematikan lampu toilet, meletakkan boneka Sabrina di wastafel toilet dekat cermin, dan menulis tulisan “Gista, datanglah” dicermin toilet dengan menggunakan spidol berwarna merah. Namun mereka harus meletakkan sesajen yang diberikan Deva untuk diletakkan dibawah boneka Sabrina.

Dan orang tua Gista harus mengatakan “Gista, datanglah sendiri, pulanglah sendiri” sebanyak 3 kali. Pada saat itu juga, terlihat dicermin ada Gista dengan keadaan berlumuran darah dan satu bola mata yang hilang. Orang tua Gista takut, namun mereka harus tetap berbicara kepada Gista agar Gista mau pergi dari rumah mereka. Gista mengatakan bahwa orang tua Gista harus mencari bola mata Gista yang ada dipertigaan tempat Gista tertabrak mobil.

Jika bola mata itu telah ditemukan, bola mata itu tidak boleh diambil lagi. Dan bola mata itu harus ditanam dikuburan Gista. Namun, pencarian itu harus dilakukan pada jam 00.00 malam dihari kamis, dan orang tua Gista harus mencari dalam keadaan mata batin mereka terbuka (dalam kondisi bisa melihat hantu-hantu lainnya) karena jika dilihat melalui mata biasa tidak akan terlihat dimana bola mata Gista.

Bapaknya Gista pun langsung mematikan lilin dan menyalakan lampu toilet agar roh Gista menghilang dari toilet. Mereka pun langsung melakukan pencarian bola mata Gista yang dipandu oleh Deva. Setelah dua jam mereka mencari, akhirnya mereka menemukan bola mata Gista. Keesokan harinya, kedua orang tua Gista, bersama Deva, pergi ke TPU Tanah Kusir untuk menanam bola mata Gista ke kuburan Gista. Mereka pun menanam bola mata Gista.

Mereka juga mengikatkan bola mata Gista dengan boneka Sabrina. Mereka pun meninggalkan TPU Tanah Kusir untuk makan siang bersama Deva sebagai tanda terima kasih mereka karena Deva, sahabat ibunya Gista, telah membantu untuk menyelesaikan teror roh Gista. 3 hari setelah mereka menanam bola mata Gista, dirumah mereka sudah tidak pernah terjadi hal-hal aneh lagi.

Namun, 9 hari setelah rumah mereka aman dari teror, di TPU Tanah Kusir ada seorang anak yang senang melihat boneka Sabrina, karena anak itu melihat boneka Sabrina tidak ada pemiliknya, anak itu mengambil boneka Sabrina. Secara otomatis, jika boneka Sabrina ditarik, bola mata Gista juga tertarik. Ketika anak itu melihat bola mata Gista, dia kaget dan langsung melempar boneka Sabrina dan bola mata Gista. Karena bola mata Gista tercabut dari kuburan itu, berarti teror-teror dirumah Gista datang lagi dalam bentuk lebih menyeramkan dan Gista tidak akan mau lagi pergi dari rumah itu karena Gista ingin kedua orang tuanya mati.

Pada saat itu kedua orang tua Gista sedang duduk di sofa rumahnya. Tiba-tiba, lampu rumahnya jatuh, meja rumahnya menimpa orang tua Gista, dan pisau-pisau didapur menusuk jantung orang tua Gista, dan matches (korek api) membakar badan kedua orang tua Gista dan juga pembantu Gista. Akhirnya, kedua orang tua Gista beserta pembantunya mati secara bersamaan, dan rumah itu hancur.

Alhasil, orang tua Gista, pembantu Gista dan Gista, juga boneka Sabrina milik Gista telah menjadi sebuah keluarga hantu yang meneror rumah-rumah diperumahan mereka, dan mungkin juga rumah anda. Selesai, thanks for reading. Support Indonesian horror story.

loading...

Jason Vorhees

All post by:

Jason Vorhees has write 1 posts