Boneka Siapa?

Namaku Maria siregar, aku siswa kelas 11 disalah satu sekolah di Jakarta Selatan. Hari ini hari sabtu dimana kita terakhir ulangan semester 1, saat aku didalam kelas bu dian guru Bahasa Indonesia sekaligus wali kelas membawa lembaran kertas ditangannya, bu dian membagikannya kepada semua murid dikelasku yang didalam kertas itu berisi tentang “pemberitahuan study tour”.

Ternyata study tour akan dilaksanakan 2 minggu dari hari ini, aku pun mulai rusuh saat mengetahui jika study tournya itu ke pegunungan yang berada didaerah puncak. Hari mulai berlalu begitu cepat dan esok adalah hari keberangkatan kami untuk study tour, kini pukul 17.00 sore tepatnya hari selasa dan esok hari keberangkatan, sebelum itu aku menyiapkan peralatan serta apa saja yang akan dibawa besok. Jam pun berlalu hari berganti kini pukul 04.35 aku harus bersiap-siap menuju sekolah karena kita akan berangkat menuju puncak.

Sampai aku disekolah aku dituntun oleh kakak Pembina menuju bus yang akan kita naiki menuju tempat tujuan. “Ayo ade-ade kita masuk” kata kakak pembina sambil mempersilahkan kita masuk menuju bus. “Yeah” sorak kami sambil menaiki bus. Satu-persatu anak-anak mulai memasuki bus yang berukuran besar itu, setelah semua masuk dan kami mulai berangkat saat diperjalanan kami mengisi suasana yang sepi menjadi ramai dengan cara bernyanyi.

Aku mengambil tasku yang berada dibelakang kursi tetapi saat aku mengambil tas aku melihat boneka berambut putih berpakaian kotak-kotak, aku mengambil boneka itu dan memperhatikannya. “Hei, boneka siapa ini?” tanyaku kepada teman-teman. “Dapat dari mana boneka itu mar?” jawab salah satu teman sekelasku. “Gak tahu waktu aku mau mengambil tas dibelakang bangku eh aku ngelihat boneka ini” jawabku sambil memperlihatkan bonekanya.

“*Haha ya kali ada yang bawa boneka, sudah taruh saja mar ditempatnya” jawab salah satu teman cowokku. Aku pun menaruhnya dan aku kembali duduk. Tak terasa 4 jam perjalanan sudah dilewati kami pun sampai tujuan, kami turun dari bus dan kumpul disalah satu tempat, kakak Pembina pun mengajak kami untuk membuat tenda, karena kami akan tidur di tempat terbuka melainkan bukan semacam penginapan.

“Ayo sekarang kita bagi kelompok” ujarnya sambil memegang ranting pohon, setelah kami dibagi kelompok ternyata aku sekelompok dengan Hilya, Irvia, Nifah dan aul. Kelompok kami ditugaskan untuk mencari ranting pohon, setelah pembagian kelompok dan tugas akhirnya kakak Pembina menyuruh kami untuk mengerjakan tugas yang telah diberikan, hari ini pukul 10.00 aku dan teman sekelompokku bergegas mencari ranting kayu untuk makan siang, kami membawa sangat banyak ranting tetapi ranting itu masih kurang, 17.00 kami disuruh mencari ranting lagi untuk persediaan api unggun.

loading...

“Duh capek deh aku, dari tadi nyari ranting mulu sudah mau gelap lagi” kata teman sekelompokku yang bernama Aulia. “Iya, padahalkan tadi siang kita bawa rantingnya banyak masa iya kurang” jawab hilya. “Duh duduk dulu deh disini bentar kakiku pegel nih” keluh irvia sambil menjatuhkan ranting yang tadi digenggamnya. Saat kita beristirahat beberapa menit tiba-tiba Nifah mengejutkanku “eh mar, lihat deh itukan boneka yang tadi di bus lu tunjukan ke kita” sambil menyolekku, “ah masa sih? Kan tadi aku taruh dibelakang kursi di dalam bus ya kali niff dia jalan” jawabku sambil berbaring dibawah pohon.

“Ih masa lu gak percaya si, coba deh lu lihat sendiri” sambil mengangkat tanganku. “Mana si orang kagak ada” kataku sambil mengucek mata. Saat nifa melihat kembali ternyata boneka itu tak ada. “Sumpah mar tadi aku lihat disitu” sambil menunjuk pohon. “Ah halu lu, sudah yu kita kembali ketenda” ujar hilya sambil berdiri. “Yu, yu, yu lagian sudah mulai malam nih” jawab irvia.

Kami pun melanjutkan perjalanan karena hari semakin malam, saat dijalan. “Eh, eh lihat deh kok bonekanya ada disitu lagi sih?” kata nifah sambil menghentikan langkahnya. “Apaan si niff lu ada-ada saja deh” kata aulia sambil mengeluarkan mata sinisnya. “Kenapa ya, semenjak maria ngasih tahu boneka yang tadi di bus kok aku jadi kayak gila, ngelihat bonekanya dimana-mana, sebenarnya boneka siapa sih?” dengan suara pelan membisikan irvia. Tiba-tiba hilya mengejutkanku “eh mar, mar kayaknya kita salah jalan deh, kok kita dari tadi kayak mutar-mutar deh”.

“Eh iya, ya aku juga ngerasa kayak gitu, ya gimana *dong” jawabku sambil melihat sekeliling. “Bentar deh aku telepon kakak Pembinanya dulu” ujar nifah sambil mengeluarkan ponselnya. “Sial gak ada sinyal lagi disini” sambil mengecek ponselnya “Mar aku takut” kata nifah sambil memegang tanganku. “Takut apaan si lo ah” ujarku sambil menghempaskan tangan nifah. “Boneka itu selalu terbayang dikepalaku” katanya sambil mengeluarkan wajah melas.

“Lupain ah” jawabku. Tiba-tiba hilya menyolekku “mar itu apaan?” sambil menyipitkan mata. “Mana sih gak ada apa-apa juga” jawabku sambil melihat arah yang dituju. “Itu mar, ih lagian boneka siapa si ditaruh ditengah hutan gini” katanya sambil menunjuk. “Coba yu kita lihat” ujarku sambil melangkah kearah yang dimaksud hilya. “Eh mar tunggu Nifah, Aulia, sama irvia mana?” kata hilya yang sambil memgang tanganku dan ketakutan.

Aku pun menghentikan langkah, “lah bukannya tadi ada dibelakang kita hil?” tanyaku sambil menoleh kebelakang. Aku dan hilya mencari Nifah, Aulia dan Irvia yang terpisah kami berjalan cukup jauh saat diperjalanan aku bertanya kepada hilya tetapi ada yang aneh “hil kita harus kemana lagi hari sudah makin larut” tanyaku sambil berjalan, “hill, jawab *dong kok lo diam saja sih” ujarku lagi.

“Hil jawab aku *dong!” kataku sambil menoleh kebelakang. Tetapi saat aku menoleh kebelakang hilya tidak ada di belakangku, “hil jangan bercanda deh, cepat keluar kita harus cari yang lain” aku sambil mencari dibalik pohon. Setelah aku mencari hilya yang aku sangka dia mengumpat dan menjahili aku. Ternyata hilya juga hilang entah kemana, saat berada ditengah hutan sendirian aku merasa takut karena pohon yang rindang, seorang diri ditengah hutan dan semacamnya.

Tiba-tiba aku mendengar suara dari balik pohon yang berada tepat didepanku. *Ssttt, ssttt, aku pun menghampirinya ternyata apa yang nifah bilang benar bahwa boneka yang ada didalam bus tadi memang ada didalam hutan, tetapi mengapa boneka itu ada disini bukannya ada didalam bus? Aku memegangnya dan memutar boneka itu sehingga bagian belakang boneka itu sekarang berhadapan denganku. “Boneka siapa ya kok ada ditengah hutan padahal tadi aku taruh dibelakang kursiku” ujarku sambil mengelus boneka itu dan merapikan rambutnya.

Aku pun berjalan sambil memegang boneka itu untuk mencari temanku yang lain, saat aku berjalan sosok bayangan hitam melintas didepanku, aku berpikir kalau itu hanyalah bayangan pohon yang menyerupai atau apa. Aku berjalan menuju bayangan tadi dapat dibawah pohon gede, bulu kudukku berdiri aku merasakan ada yang terjadi padaku aku lihat kiri kanan tidak ada apa-apa, aku pun melanjutkan berjalan dan mengingat-ingat jalan yang aku tempuh untuk mencari ranting.

“Lewat mana ya tadi, oh ya kira-kira ini boneka siapa? Apa aku taruh saja disini siapa tahu ada yang punyanya nanti, atau mungkin ada anak yang menjatuhkannya ditempat ini” ucapku dengan suara kecil. Tak lama dari itu aku berhenti berjalan, aku merasakan ada sesuatu yang tak beres dibelakangku, bulu kudukku berdiri, hatiku berdebar kencang, keringat bercucuran didahiku.

Saat aku menoleh kebelakang seorang anak kecil tepat dibelakangku berhadapan denganku dengan berpakaian putih panjang berkulit pucat, dengan kepala yang menunduk merintih kepadaku agar aku mengembalikan boneka yang aku pegang, sontak aku terkejut dan pingsan. Mengapa ada anak kecil berciri-ciri seperti itu ditengah hutan malam-malam sendirian.

Esoknya aku ditemukan oleh kakak Pembina dan yang lainnya, setelah aku bangun dari pingsan ku, aku menceritakan semua yang terjadi malam itu. Kakak Pembina memberitahuku bahwa sepekan lalu memang ada yang kejadian yang tak terduga. “Berarti boneka itu milik salah satu korban yang meninggal” ucapku didalam hati, sambil memegang kepalaku yang terasa sakit. Sekian.

Ig: @daviranrnzh_
Kirim komentar ke: [email protected]

KCH

Davira Nurin

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Davira Nurin has write 2,694 posts