Bus Hantu

Kejadian ini saya alami ketika baru bekerja di pabrik roti yang terletak di daerah Waru, Sidoarjo. Saat itu saya masih dalam status pegawai baru di pabrik maka saya belum memiliki tempat tinggal yang tetap, sehingga saya ikut tidur di kos teman di Waru yang persis di sebelah timur terminal Bus Purabaya atau biasa disebut terminal Bungurasih di selatan Surabaya.

Pada saat belum memiliki tempat kos tetap, saya sering pulang pergi dari Surabaya (bungurasih) ke Banyuwangi, hampir 2 hari sekali saya pulang karena saya harus memindahkan sedikit demi sedikit barang-barang saya di rumah seperti pakaian, kipas angin, serta prerlengkapan lain yang saya perlukan untuk tinggal rumah kos di Waru.

Pada suatu malam hari ketika saya sedang berada di Banyuwangi dan hendak pergi ke Surabaya, saya membawa barang-barang yang lebih banyak dari biasanya. Saya membawa sebuah tas besar yang berisi pakaian serta barang-barang perlengkapan kerja dan juga membawa makanan sebagai oleh-oleh untuk teman-teman saya di kost-kost an. Saya berangkat dari rumah dengan diantar oleh tetangga saya yang bekerja sebagai tukang ojek untuk pergi ke tempat yang biasa saya gunakan mencegat bus.

Pada malam hari pukul 20.30 (jam setengah 9 malam), saya tiba di tempat yang biasa saya gunakan untuk mencegat bus jurusan Banyuwangi – Surabaya. Pada saat itu sedang hujan gerimis dan malam itu adalah malam jumat legi. Sebenarnya keluarga saya melarang saya bepergian pada malam jumat legi karena hari itu adalah hari keramat menurut keluarga saya, mereka menyarankan saya agar berangkat besok pagi-pagi hari saja untuk menghindari malam jumat legi.

Namun karena saya sebagai karyawan baru dan takut terlambat tiba di tempat kerja, maka saya memaksakan diri berangkat malam itu juga. Malam ini suasana terlihat sangat sepi dari biasanya karena sudah larut malam dan sedang terjadi hujan gerimis. Repotnya lagi saya tidak membawa payung karena ketika berangkat dari rumah cuaca masih cerah. Malam ini benar-benar sepi dan tidak ada seorangpun terlihat kecuali hanya kendaraan-kendaraan yang melintas.

loading...

Sekitar setengah jam saya menunggu, akhirnya bus warna putih jurusan Banyuwangi – Surabaya yang saya tunggu-tunggu lewat dan saya langsung menyetopnya. Setelah berhenti, saya langsung naik dan masuk ke dalam untuk mencari tempat duduk sambil sedikit menggigil kedinginan karena terkena hujan gerimis. Rupanya bus tersebut penuh dengan penumpang sehingga saya harus memeriksa bangku-bangku satu persatu untuk mencari tempat duduk, dan akhirnya saya mendapat sepasang bangku kosong yang berada di bagian tengah.

Lumayan, saya bisa meletakkan tas besar saya di bangku satunya di samping saya. Saya melihat jam menunjukkan pukul 21.00 atau tepat jam sembilan malam. Beberapa saat setelah saya selesai manata diri dan bus telah memulai perjalanan, saya mulai merasakan suatu keanehan. Saya melihat semua penumpang bus tersebut tertidur pulas dan mereka semuanya menggunakan pakaian putih serta wajahnya ditutup kain putih miliknya masing-masing.

Saya sempat mengira mungkin para penumpang ini adalah sebuah rombongan wisata dari Bali dan sedang kelelahan sehingga mereka tertidur pulas. Hanya sopir dan seorang kondektur saja yang saya lihat tidak tidur. Beberapa saat kemudian sang kondektur bus mendekati saya dengan menyodorkan karcis, lalu membayarnya dengan uang pas sebesar 3 ribu rupiah seperti biasanya. Anehnya lagi, kondektur tersebut selalu memalingkan muka dan tidak mau memandangi saya, serta ia tidak mengucapkan kata-kata sedikitpun.

Di dalam bus ini sama sekali tidak ada suara orang berbicara seperti bus pada umumnya. Tapi saya memaklumi hal ini karena semua penumpang tertidur kelelahan sehingga mungkin sang kondektur tidak berani bersuara agar tidak mengganggu penumpang. Saya pun ikutan diam membisu dan tidak berani bersuara juga karena saya khawatir penumpang lain terganggu, lantas saya hanya bisa duduk, diam, dan keheranan.

Akhirnya bus yang saya tumpangi ini tiba di Surabaya dan masuk terminal Bungurasih di Waru, Sidoarjo. Namun saya merasakan ada suatu keanehan lagi, yaitu bus yang saya tumpangi ini tidak berhenti di jalur yang biasanya digunakan untuk menurunkan penumpang, tetapi berhenti di tempat lain yang tidak jauh dari pos satpam atau securirty terminal. Saya pun tidak banyak bertanya ke kondektur mengapa saya diturunkan di tempat ini, lantas saya langsung turun dengan membawa tas besar serta barang-barang saya lainnya.

Ketika saya turun bersama barang-barang saya, tiba-tiba pak satpam yang sedang jaga di pos tersebut menghampiri saya dengan terburu-buru. Lantas ia bertanya kepada saya dengan suara sedikit gemetaran seperti orang ketakutan, “mbak, mengapa penumpang bus nya kok seperti pocong semua?”. Maka saya langsung menoleh ke arah bus warna putih yang baru saja saya tumpangi tersebut, dan saya melihat penumpang bus tersebut ternyata semuanya adalah hantu pocong dan mereka semuanya memandangi saya dengan mata melotot. Akhirnya saya langsung pingsan dan terjatuh.

Beberapa menit kemudian saya tersadar dan telah berada di suatu ruangan dengan di rubung oleh orang banyak. Lalu saya diberi minum air putih berisi jampi-jampi. Beberapa orang menanyakan kepada saya apa yang baru saja terjadi, dan saya menceritakan kepada mereka apa yang baru saja saya alami. Ternyata saya baru saja naik bus hantu dari Banyuwangi ke Surabaya. Lalu saya melihat jam tangan saya menunjukkan pukul 21.05 atau jam sembilan lebih 5 menit.

Padahal saya mulai menaiki bus tersebut di Banyuwangi pada pukul 21.00, tetapi tiba di Surabaya pada pukul 21.05, ternyata hanya lima menit perjalanan. Itupun tidak termasuk waktu saat saya digotong oleh orang-orang ke sebuah ruangan di terminal Bungurasih. Berarti saya naik bus hantu hanya kurang dari 5 menit, mungkin hanya beberapa detik saja mereka telah membawa saya dari Banyuwang ke Surabaya.

Kemudian saya memeriksa karcis yang diberikan oleh kondektur bus hantu yang saya tumpangi tadi, dan ternyata karcis tersebut adalah milik bus yang beroperasi pada tahun 1965 dimana di situ tertulis nomor polisi kendaraan. Setelah diperiksa oleh beberapa petugas terminal, bus pemilik karcis tersebut telah mengalami kecelakaan masuk ke jurang pada malam hari di sebuah hutan di Banyuwangi dan semua penumpang beserta awak bus tersebut mati semua.

Rupanya bus beserta para penumpang serta para awak bus yang mengalami kecelakaan tersebut kini menjadi hantu dan mengantarkan saya dari Banyuwangi ke Surabaya hanya dalam hitungan detik. Saya sangat takut dengan kejadian itu, namun sekaligus saya berterima kasih kepada bus hantu beserta kru-nya karena mereka telah mengantarkan saya dari Banyuwangi ke Surabaya dengan sangat cepat melebihi kecepatan pesawat terbang super sonik sehingga besoknya saya tidak terlambat masuk kerja.

Pengalaman saya ini mungkin bisa bermanfaat bagi kita semua untuk lebih berhati-hati dan selalu berdoa setiap kali kita hendak bepergian maupun sedang menempuh perjalanan kemanapun, terutama perjalanan pada malam hari.

Share This: