Camp Bantara

Hai sahabat KCH, aku mau berbagi cerita, kalau saat jaga atau jadi panitia acara harus selalu baca doa ya. Kisahku ini berawal dari kegiatan ke-3 ku menjadi anggota pramuka. Nah kegiatan camp bantara ini dilakukan disekolah karena ya tahu sendiri lah. Nah pada saat rapat sampai jam 11 malam di basecamp yaitu pada H-1, suasana yang awalnya nyantai untuk membuat susunan acara besok, berubah menjadi ketakutan.

Karena posisi basecamp kita yang dipojok sekolah (real), pada saat itu semua panitia terdiam dan saling tatap merinding satu sama lain. Karena pada saat yang bersamaan, diluar ruangan terdengar suara sapu lidi. Seperti ada yang sedang menyapu. Padahal diluar itu keadaan jam 10 malam dan disekolah cuma ada kita saja di basecamp.

Sedangkan penjaga sekolah sudah pulang jam 7 dan menitipkan kuncinya pada kita. Lalu pradana atah sering di bilang ketua, meminta tolong 4 orang untuk memeriksa. Karena saking takutnya. Selepas diperiksa oleh 4 orang itu. Ternyata diluar gak ada siapapun. Sepi, gelap yang ada hanya cahaya ruangan X-IIS 1 yang berada 20 meter dari ruangan kita.

Nah, setelah kembali masuk keruangan yang 4 tadi, tepatnya mau ketuk palu. Tiba-tiba terdengar suara garukan dipintu, spontan panitia yang duduk dekat pintu langsung loncat kabur ketempat duduk dekat pradana. Lalu, semua terhening dan mulai membacakan doa. Setelah membaca doa, suasana kembali normal. Nah pada saat itu pradana menyuruh kita untuk berkemas dan rapat diakhiri dengan susunan acara yang berantakan.

Pada hari H, yaitu hari kamis, malamnya diadakan jelajah disekolah. Semua lampu dimatikan, hanya seberkas cahaya lilin yang dipakai panitia setiap pos jaga. Aku kebagian pos 1 yang bertempat diruang seni. Menurut urban school yang beredar, ruangan seni dihuni oleh sosok perempuan berbaju merah, hal ini dibuktikan oleh foto yang beredar oleh geng sekolah kita bernama Army yang pada saat itu foto diatas tangga pada saat maghrib.

Kembali kecerita, aku jaga pos saat itu berdua bersama temanku Arya, satu persatu peserta berdatangan, dan ada saat peserta yang ke 9 datang. Semua terasa berbeda, hawanya, suasananya dan berhubung diluar hujan jadi sedikit merubah hawa, yang hawanya dingin berubah jadi panas, dan temanku arya membuktikan kalau ia berjalan kedalam kelas XI MiA 1 itu hawanya dingin sedangkan hawa didalam pos itu panas.

Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku fokus ke peserta, namun ada hal yang menggangguku. Yaitu dijendela ruang seni nampak seperti ada yang mengkibaskan tirai jendela. Aku pun terkejut lalu aku menyuruh peserta untuk duduk sebentar lalu berdoa. Temanku lalu bertanya “Ju, ada apa sih?” lalu aku jawab “aku tadi lihat dijendela, kayak ada yang kibaskan tirai” sambil berbisik kepada temanku agar peserta tidak merinding.

Setelah semua normal dan peserta melanjutkan ke pos selanjutnya, disitu keanehan terjadi. Dari dalam ruang seni, terdengar seperti gamelan. Spontan aku dan temanku saling tatap merinding dan sambil bicara pelan, “lari jangan Ar?” tapi temanku menggelengkan kepala dan berbicara pelan kepadaku “jangan Ju, semakin kita lari ‘dia’ semakin menampilkan eksistensinya. Lebih baik diam saja”.

Namun beberapa saat kemudian, suara itu berhenti. Tak ada 4 menit, tiba-tiba suara cekikikan yang sangat melengking terdengar oleh kami, tanpa basa basi dan spontan kami lari kearah pos 2 yang jaraknya melewati 6 kelas, kami lari secepatnya. Hingga sampai di pos 2 kami langsung menceritakan kejadian kami. Namun saat kami hendak berangkat ke pos pusat (tempat peserta berkumpul dilapangan), kami berempat terpaku melihat sosok wanita dari ruang seni yang menghadap kearah kami.

Hingga sosok tersebut berjalan kearah kami dan pada saat terkena cahaya lilin yang masih nyala di XI MiA 1, dan dari situ kami dapat melihat wajahnya dan ternyata. Wajahnya hancur. Dengan baju putih penuh darah. Rambut panjang dan tangan yang panjang hingga menyentuh tanah. Kami lalu berdoa. Dan setelah membuka mata. Sosok itu hilang. Kami lega.

Lalu kami berjalan ke pos pusat. Saat hendak langkah yang 9, ada suara seperti memberikan peringatan, “jangan pernah kau nyalakan lilin!” kami lari ngacir kearah pos pusat. Setiba di pos pusat, kami menceritakan kejadiannya dan penjelajahan dipending karena kejadian tersebut.

loading...

WA: 081911042664
Line: t_five
Facebook: jack frost

KCH

Juan

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Juan has write 2,691 posts