Camping Misterius

Kejadian ini aku alami beberapa hari sebelum puasa kemarin. Aku dan sahabatku pergi camping ke daerah Lembang. Bersama Gio dan Lutfi, kami pergi bertiga. Yah.. Hitung-hitung penyegaran setelah kami ujian sidang. Kami berangkat siang hari, agar tidak kemalaman. Sampai di sana kami langsung membangun tenda. Suasana di sana sangat sepi. Karena mungkin sudah dekat bulan Puasa. Ya, jadi jarang ada yang camping.

Di sana kami hanya bertemu satu tenda lain di atas. Dan itu pun sudah packing, Nampak bersiap-siap pulang. Karena memang kami sudah berniat, kami pun meneruskan untuk camping di sana. Akhirnya, setelah jam lima sore kami selesai membangun tenda dan perlengkapan lainnya. Malam pertama kami benar-benar bersenang-senang. Bernyanyi-nyanyi sambil bermain gitar dan minum. Akhirnya setelah kami cukup lelah, kami pun tidur.

Esok paginya aku bangun dan membereskan sisa api unggun. Dan membuat api unggun baru untuk makan siang. Namun saat aku akan mengambil minyak tanah. “Hah!!” aku melihat di dekat tenda situ ada bekas telapak tangan. Aku ingat sekali sebelumnya memang tidak ada. Karena tidak berpikir yang aneh-aneh, aku pun menghiraukannya. Sampai sekitar jam empat sore entah kenapa aku mulai merasa tak nyaman. Aku merasa kalau sore itu berbeda sekali suasanya dengan sore kemarin.

Suasana saat itu sepi sekali. Bahkan tidak terdengar suara binatang satupun. Hanya suara daun-daun pohon yang tergesek karena ditiup angin. Setelah Maghrib, suasana menjadi tambah seram. Kali ini sesekali bunyi lolongan anjing terdengar di sekitar. Saat itu kami tak banyak bertingkah. Karena suasana di sana pun Nampak tidak bersahabat. Dan Lutfi saat itu mulai bertingkah aneh. Ia menyilangkan kedua tangannya sambil memegang bahu dan matanya menatap kosong. Dia menggigil kedinginan.

“Fi? Fi kenapa lo, Fi?? Fi..?”. Lutfi pun tak menjawab. Akhirnya aku membawa Lutfi masuk ke tenda agar terasa hangat. Aku melihat di luar Gio, temanku yang satu lagi sedang beres-beres. Tingkahnya pun tampak aneh. Ia menyimpan panci yang berisi bubur kacang sisa makan malam tadi, lalu tanpa melihatku dia berjalan menunduk masuk ke dalam tenda. Aneh, aku duduk di depan api unggun, sambil membereskan piring sisa makan malam.

Dan ketika itu, “Aduh” ada seseorang yang melemparku dengan batu. Spontan aku melihat ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Namun “Astaga!” sepertinya ada seseorang di sekitar sini. Seseorang yang sedang memperhatikan kami sejak kemarin. Aku mengambil senter dan mencoba menerawang ke sekitar dengan senterku. Perlahan, aku bisa melihat batang-batang pohon tua juga rumput dari semak belukar.

Dan ketika lampu senterku mengarah ke arah hutan depan tendaku, “Wah” tak sengaja lampu senterku menyorot seorang wanita yang mengintip dari balik pohon. Aku langsung membanting senterku dan bergegas masuk ke tenda. “Hah.. itu apa? Siapa?” dengan nafas terengah engah, aku langsung menutup rapat-rapat tendaku. Aku lihat Lutfi masih terbaring menggigil. Dan kali ini Gio kulihat duduk bersila sambil kedua tangannya memegangi perutnya. Mulutnya berkomat-kamit. Seperti membaca doa. Dan wajahnya terlihat sangat pucat.

Ah, bola mata Gio tiba-tiba saja melihat ke arahku. Dan dengan berbisik dia bilang padaku, “Sstt.. Dengar suara lonceng gak? Dengar suara lonceng gak kamu?”

“Lonceng?” aku terkejut, karena aku merasa tidak mendengar apa-apa. Kami pun sunyi sejenak untuk mencari suara yang Gio maksud. “Teng.. Teng.. Teng” Benar saja. Dari jauh sayup-sayup terdengar suara lonceng. Mirip seperti suara lonceng kuda delman. Suara itu mulai terdengar semakin dekat. Semakin mendekat. Makin mendekat, sampai suara langkah kaki kudanya pun ikut terdengar. Aku dan Gio mulai panik. Kami ketakutan.

Tapi karena penasaran, aku mengintip ke arah luar melalui celah-celah tenda. Suasana di luar sangat gelap gulita. Dan dari jauh aku melihat cahaya kuning datang mendekat sejalan dengan suara lonceng dan langkah kaki kuda yang semakin keras. Karena ketakutan, aku langsung menutup lagi tendanya. Dan suasana kini berubaha drastis ketika, “Ya Tuhan!” Aku dikagetkan oleh Lutfi yang tiba-tiba saja teriak. Dan juga dengan bahasa Sunda.

Namun tidak jelas. Kami mencoba membangunkannya. Tapi dia tetap saja seperti itu dan malah semakin keras, seperti kesurupan. Dan kami pun baru sadar kalau lonceng delman itu kini terdengar tepat di depan tenda kami. Karena kami bisa lihat ada cahaya kuning di depan tenda kami. Semakin terdengar jelas suara lonceng itu semakin keras pula suara Lutfi berteriak. Aku mencoba memegangi Lutfi. Sambil berusaha menyadarkan Lutfi. Gio pun membantuku. Dan tiba-tiba “Aahh”.

Sebuah angin yang sangat besar menghembuskan tenda kami. Sampai-sampai tenda kami hampir terbalik. Dan ketika angin itu lewat seketika suara itu pun lenyap. Teriakan Lutfi pun terhenti. “Hah” Aku dan Gio menghela nafas panjang. Berharap kejadian ini berhenti sampai di sini. Kami hanya bisa berdoa, hingga menunggu pagi. Aku tidak berani keluar. Di luar sangat gelap sekali. Sampai tidak terasa waktu telah melewati tengah malam. Tiba-tiba terdengar suara mobil.

Aku memberanikan diri untuk melihat keluar. Dan aku melihat sebuah cahaya mobil yang berhenti di seberang hutan. Reflek aku langsung berlari mendekati mobil itu, meninggalkan Gio dan Lutfi. Ternyata itu kakaknya Lutfi yang juga kembarannya Lutfi. Katanya ia mempunyai perasaan yang tidak enak. Dan akhirnya menyusul kami. Selagi kakaknya Lutfi memutarkan mobil, aku kembali ke tenda untuk mengajak Gio dan Lutfi.

“Gi! Ayo Gi, itu kakaknya Lutfi! Buruan” Tapi tidak ada jawaban dari Gio. Perlahan saat aku lihat ke dalam tenda, “Astaga!” Yang kulihat di dalam tenda kini kulihat ada tiga orang. Gio, Lutfi, dan satu orang lagi, Seorang Wanita duduk sambil memegangi Lutfi! Aku langsung menarik Gio dan Lutfi keluar dari tenda. Tak lama kakak Lutfi datang membantu, dan kami pun berhasil sampai di mobil. Hingga akhirnya, aku tak ingat berapa lama perjalanan itu.

Akhirnya kami sampai di rumah Lutfi. Dan memutuskan untuk beristirahat dan bermalam di sana. Esok harinya, kami berkumpul. Lutfi Nampak sudah sadar. Dan kami pun saling bercerita. Ternyata pada malam pertama kita sedang bernyanyi-nyanyi, Lutfi melihat seorang wanita dengan postur tubuh yang tidak proporsional. Kaki dan tangannya panjang, memanjat turun dari salah satu pohon.

Setelah melihat itu, ia tidak menceritakannya padaku. Sampai saat malam berikutnya ia melihat lagi. Dan ketika itu badannya terasa kaku. Sampai akhirnya ia di bawa melayang oleh makhluk itu. Dan kembaran Lutfi melihat hal yang sama seperti yang dialami Lutfi. Namun di dalam mimpi. Maka dari itu ia datang menyusul. Dan aku baru sadar. Dan terjelaskanlah telapak tangan yang ada di dekat pohon itu.

loading...

Lain lagi yang dilihat Gio. Ia melihat sebuah kereta kencana dengan kuda mondar-mandir di sekitaran tenda. Yang akhirnya pun aku mendengarnya. Menurut Gio, sampai kita di dalam mobil pulang ke rumah Lutfi. Ia masih melihat kereta kencana itu mengikuti kami. Dan menghilang sampai di jalan yang agak ramai. Setelah kejadian itu, aku selalu berpikir di tempat sesepi apapun kita itu tidak pernah sendiri.

Share This: