Cat Merah Lukisan

Namaku Rio, aku tinggal di Nagreg. Dulu ketika aku masih duduk di bangku SMA aku sangat senang melihat karya seni lukis maupun lukisan antik. Di kala teman sebayaku senang pergi nongkrong dan keluar rumah, aku malah sering mengurung diri dikamar untuk melukis hingga malam hari. Bahkan saat di sekolah aku pun sering diam-diam menggambar sketsa lukisan. Rasanya jika satu hari saja tidak melukis satu pun gambar, aku merasa ada yang janggal.

Namun, aku meninggalkan hobi seni lukis ini setelah aku mendapatkan sebuah pengalaman yang menyeramkan. Yang namanya remaja pasti senang dengan yang namanya hal baru, begitu juga dulu aku sering bereksperimen dengan cat lukis untuk menghasilkan warna yang ku inginkan. Bahkan aku sering mencampurnya dengan benda lain. Aku pernah mencampurnya dengan minyak goreng untuk mendapatkan warna kuning senja.

Aku juga pernah mencoba mencampur cat lukis dengan air tembakau untuk mendapatkan warna batang pohon. Saat itu aku sempat ingin bereksperimen dengan darah manusia untuk mendapatkan warna merah. Entah apa yang merasuki pikiranku karena tiba-tiba saja hal itu muncul di benak, tapi tentunya tidak mungkin aku lakukan karena aku tidak mau menyakiti diriku sendiri walaupun atas nama seni lukis.

Akhirnya aku mendapatkan buah bit sebagai campuran warna merah, seperti biasa aku sedang melukis di kamar saat itu sekitar jam 00.30 malam. Aku masih kebingungan dengan warna merah tadi, aku pun mulai bereksperimen. Aku mulai mencampurkan warna merah dengan beberapa warna lain untuk mendapatkan merah yang ku inginkan. Saat ingin membuka penutup cat, ternyata tutup cat ini susah terbuka. Aku pun keluar kamar dan menuju ke ruang dapur, aku menyalakan lampu dapur dan mencari pisau lalu membawanya ke kamarku.

Tanganku tidak sengaja terkena sayatan pisau saat akan membuka penutup cat itu. Karena tenagaku terlalu kuat, darah pun terlalu banyak keluar dari jariku. Aku pun segera membuka kotak P3K dan membalut luka di jariku dengan obat luka dan perban. Setelah mencampur buah bit dan cat lukis dengan air, akhirnya aku berhasil mendapatkan warna merah yang ku inginkan. Aku sangat antusias dan mencoba dengan warna merah hasil eksperimenku tadi.

Tak lama aku mencium bau amis, bau tersebut muncul dari lukisanku. Kayaknya beberapa tetes darahku tercampur pada cat lukis saat mencampurnya tadi. Tentu saja darah akan mengeluarkan bau amis pada lukisanku, aku pun kesal dan memutuskan untuk tidur. Aku tinggalkan lukisanku begitu saja di atas meja belajar dan aku pun beranjak ke kasur. Tiba-tiba aku terbangun kaget mendengar suara yang aneh, suara itu terdengar samar dari kejauhan.

Pertama aku acuh saja, tapi lama kelamaan aku mulai terganggu suara itu. Dan suara itu kini semakin jelas. Suara seperti mencicit yang aneh. Aku berpikir mungkin itu suara ayam milik tetangga, aku melihat jam sudah hampir menunjukan 3 subuh. Aku memutuskan untuk mengacuhkan dan memutuskan untuk kembali tidur, karena besok aku sekolah. Tiba-tiba suara cicitan itu menjadi bergema.

Aku takut sekaligus penasaran, aku bangkit dari tidurku lalu berjalan ke arah jendela. Perlahan aku menyibakkan gorden dan melihat ke jendela lalu tidak ada apa-apa. Namun, suara cicitan itu masih terdengar jelas. Aku membalikan badan dari jendela dan aku melihat sesuatu yang aneh di kamarku, yang semenjak tadi tidak ku sadari. Ada sebuah benda panjang yang melintang dan melayang di udara, benda itu melintang dari kiri ke kanan.

Dari sudut jauh kamarku menuju ke arah meja belajar. Benda itu tidak besar hanya selebar penggaris kecil, benda itu menggeliat naik turun. Aku pun tersadar, benda itu adalah benda yang mengeluarkan suara cicitan tadi. Bulu kuduk langsung berdiri, namun bersamaan rasa penasaran aku memberanikan diri untuk mendekati benda itu. Setelah beberapa langkah akhirnya benda itu terlihat jelas.

Benda itu ternyata adalah sebuah lidah, lidah itu terjulur dari mulut sesosok wanita yang berada di dalam kamarku. Wanita itu memakai baju putih dan rambutnya panjang seperti ijuk berantakan. Aku ingin berteriak sekencangnya namun mulutku hanya bisa menganga. Saking paniknya, aku sampai jatuh ke lantai. Aku merangkak ke tempat tidur sambil gemetaran, aku sekarang baru sadar kalau hantu wanita itu kelihatan sedang menjilati lukisanku.

Suara cicitan tadi itu adalah suara jilatannya seperti sedang menjilati darahku yang berada dalam lukisan itu. Aku hanya bisa berdoa dalam hati sambil menutup mata, aku tidak berani melihat pemandangan yang mengerikan itu. Akhirnya suara cicitan itu perlahan menghilang seiring aku membaca ayat kursi, aku membuka mata dan sosok wanita itu sudah hilang. Aku menghembuskan nafas lega sekaligus kelelahan karena syok. Aku masih gemetaran dan jantungku berdebar dengan cepat.

Aku juga tidak berani bergerak dari tempat tidur dan aku juga tidak berani untuk tidur. Aku hanya terduduk ditempat tidur sambil terus membaca ayat, Namun karena rasa kantuk yang besar. Aku sempat terlelap beberapa saat sampai ketika aku mendengar adzan subuh. Baru aku berani melangkahkan kaki keluar mendekati lukisan di meja belajar. Dan saat kulihat lukisan itu tidak berubah hanya saja sudah tidak tercium bau amis lagi, tiba-tiba aku tersadar akan rasa sakit di jariku yang tersayat tadi.

loading...

Rasa sakit ini baru aku sadari dan aku pun pergi keluar kamar mengambil minum lalu berpapasan dengan ibuku yang hendak mengambil wudhu. Ibuku kaget melihat perban yang ada ditanganku, aku pun menceritakan apa yang terjadi. Aku dimarahi habis-habisan oleh ibuku, beliau bilang kalo membuat lukisan dari darah sama saja dengan memanggil setan datang. Bisa jadi setan yang datang tadi muncul karena bau amis darah kata ibu. Setan tadi datang sebenarnya secara tidak langsung juga menjilati luka yang ada di jariku.

Aku disuruh membuka perban oleh ibuku dan benar saja, luka terkena sayatan di jariku sekarang membengkak dan berwarna hitam legam. Siangnya aku pun memutuskan untuk membakar lukisanku, dan syukurlah setelah itu aku tidak pernah lagi melihat penampakan seorang wanita dikamarku dan sejak itu juga aku menjadi trauma untuk membuat lukisan lagi.

Share This: