Cengeng

Hay para pembaca dan penulis KCH. Assalamualaikum dan selamat menikmati (*hmm memang makanan). Maksudnya selamat membaca sambil otak otik tombol ya, *hihi. Terima kasih buat kak john yang bersibuk ria mengedit tulisan saya dan para penggemar yang menunggu cerita saya, yang belum kenal aku harap jangan kepingin kenal, nanti nyesal lho, *hehe. Nyesalnya kalau kangen dan lain-lain, *hihi (lebay).

Kali ini adalah cerita sewaktu dwi masih kecil, masih unyu dan cantik pastinya (ya iyalah memang ganteng macam cowok) *hehe. Dulu dwi belum pernah makan bangku sekolah (hah! Hewan rayap kali), *hehe. Maksudnya belum waktunya sekolah, karena usia masih 5 tahun. Waktu itu keluarga dwi baru pindah rumah. Orang tua dwi pindah ke pekarangan baru yang sudah dibeli dan dibangun rumah, meski rumah sederhana dan masih didesa dwi. Kata orang tua sih, biar jauh dari area TPU.

Sebelumnya, kami tinggal dekat rumah simbah/orang tua dari bapak, yang berdekatan dengan area TPU sekitar 50 meter dari pekarangan kosong samping rumah simbah. Jika kalian pernah baca cerita “kuburan yang aneh” pasti tahulah. Dan rumahku dulu dipojok depan rumah simbah dan menghadap ke area TPU (jadi seram kan?) *hehe. Untungnya dulu dwi gak tahu alias belum kenal tentang seram atau takut.

Karena dwi cucu kesayangan simbah, jadi dwi sering kerumah simbah walaupun sudah pindah rumah. Karena kalau gak kesana sehari, simbah marah ke orang tua. Di kira dwi gak dibolehkan kesana, padahal dwi yang kadang malas jalan kaki kesana (duh kasihan simbah ya). Dulu belum ada motor alias jarang (hanya orang berpangkat tertentu saja yang punya), sepeda saja dwi gak bisa naik (*hehe). Saat itu saya diantar orang tua dwi kerumah simbah, dan bapak pamit pergi ke sawah. Tapi ibu, dimana ibu?

Tanpa berpamitan padaku sudah hilang saja tuh ibu. Jadi saya berasa dititipkan dirumah simbah, dan hari itu entah kenapa saya sedang kesal sama orang tua karena gak mau kerumah simbah. Dan saya tidak mau masuk kerumah, padahal sudah dibujuk, dirayu sama ibu dan kedua simbah (kakek/nenek), tapi tetap saya gak mau masuk. Jadi saya hanya berdiri disamping sebelah timur rumah simbah, alhasil memandang area TPU. Tapi saya cuek sambil bermain mulut, sehingga menyerupai suara katak. Dan membuat seisi rumah simbah tertawa mendengar tingkahku.

loading...

Sehingga diikuti oleh sepupuku dan simbah dari dalam rumah sambil cekikikan. Uh, semakin kesal aku ini. Tapi sepupuku malah terus meledek dan menirukan gaya mulutku tadi sehingga aku tidak jadi marah. Dan kami tidak sadar sudah bermain bersama hingga sore. Baru aku tersadar, dimana ibuku? Aku tanya kakak sepupu gak tahu. Aku tanya simbah, malah jawaban yang aku dapat membuatku kesal, bahwa ibuku sudah pulang sejak tadi siang saat aku asyik bermain.

Sontak aku yang terbilang cengeng menangis, karena hari sudah sore dan aku belum dijemput juga. Jadi nenek kerepotan dan menyuruh sepupuku mengajak aku mandi dulu. Dan menghiburku bahwa sebentar lagi akan dijemput oleh orang tuaku. Akhirnya aku terdiam dan menurut sama nenek. Saat hampir maghrib, belum juga orang tuaku datang. Akhirnya aku kesal dan menangis lagi, apalagi sepupuku sudah pulang.

Jadi aku beranikan diri, pulang sendirian tanpa pamit sama simbah. Saat hampir sampai rumah aku masih menangis dan malah semakin keras menangis (dasar *cingeng, hehe). Tapi ditengah jalan, aku ditegur wanita dewasa berbaju merah dan bercelana kain hitam. Sehingga aku tidak menangis lagi. Hingga aku sampai dirumah saat adzan maghrib. Keesokan harinya, aku dimarah simbah karena khawatir.

Dan saat sore harinya, bude yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku berkata pada ibuku. Bahwa kemarin sore, aku menangis sambil pulang, lalu diantarin sama penunggu tunggak hitam (bekas penebangan pohon yang kemudian dibakar). Warna mahkluk itu hitam semua kata bude. Tapi aku tidak melihatnya sama sekali. Dan kata bude dia selalu mengikutiku dari belakang dan aku berhenti menangis sejak diantar makhluk itu.

“Makanya jangan cingeng (menangis), apalagi menangis saat mau maghrib” kata bude.
“Nanti diikuti sama setan” katanya lagi.

Sejak saat itu, aku tidak mau lagi cingeng apalagi saat maghrib dan tidak mau pulang maghrib dari rumah simbah. Jika kesana malam, selalu sama orang tua, itupun kadang minta digendong, *hehe. Sekian ya pembaca, karena pegal nian, *hehe. Buat yang member minta fb, anda bisa cari digoogle atau fb. Nama ini adalah 1 di net alias gampang nyarinya dan gak ada nama lain dihuruf depan pakai (dwy).

Member yang lain saja bisa nemuin, tanpa saya promosi, *hehe. Salam damai saja deh dan jangan menyesal jika sudah kenal, *hihi.
Fb: Dwy dwi dandwi

Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya... :D by: penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts