Cerita Anak Indigo

Kisah ini terkait dengan pengalamanku sebagai anak indigo, kamu pasti sudah tau dengan yang namanya anak indigo. Cerita pengalaman ini tidak jauh dari masa kecilku sendiri mungkin bisa dibilang aku adalah seorang indigo. Aku adalah orang yang sering publish cerita hantu kiriman dari kamu, curhat dulu ya sebentar, kalo boleh. Aku biasa di panggil dengan nama john oleh teman-teman, entah dari mana asalnya nama itu bisa terlintas dan menjadi panggilan untuk namaku. Semenjak aku kecil, aku tidak pernah merasa aneh ataupun takut jika bertemu “mereka”.

Hal tersebut karena aku sudah biasa melihat bentuk mereka yang kurang sempurna. Kamu yang baca ini percaya atau tidak, terserah kepada keyakinan kamu ya. Kejadian ini bermula disaat pamanku masih hidup ketika aku kecil. Rumah pamanku memang luas dan memiliki 2 lantai, tapi rumah tersebut sangat menyeramkan. Dari rumah tersebut, mataku mulai dapat melihat penampakan-penampakan yang tidak dapat dilihat oleh kebanyakan orang. Malam itu, aku sedang asik bermain di rumah pamanku dan tidak berapa lama seluruh ruangan di rumah pamanku menjadi sangat gelap gulita.

Ternyata saat itu PLN sedang ada perbaikan, karena ada kerusakan pada sebuah jaringan listrik yang berada di daerahku. Singkat cerita, pamanku keluar rumah dan aku segera menyusulnya. Hanya ada aku dan pamanku, karena keluarganya paman sedang ada acara pertemuan besar dan saat itu paman sedang sakit jadi tidak bisa ikut menghadiri acara tersebut. Setelah keluar dari rumah, mataku menangkap sebuah kain putih yang berada di lantai. Kain putih itu sangat aneh karena terbang kesana kemari.

loading...

Dan kain putih itu akhirnya diam lalu membentuk sebuah silhout seperti layaknya manusia. Dengan sigap aku segera memberitahu pamanku mengenai hal itu, “Paman, di atas itu siapa?” aku sambil menunjuk ke arah kain putih yang belum berbentuk. Namun aneh, pamanku tidak bisa melihat kain putih itu. Dan beberapa saat kemudian, aku perhatikan kain putih itu mulai berbentuk.

Kain putih itu kini menjadi sebuah gaun putih, yang dikenakan oleh seorang wanita berambut panjang. Wanita itu, tidak memiliki tangan atau pun kaki. Hanya dia mengenakan gaun putihnya, dan di kedua matanya memiliki bulatan hitam besar, tidak berwarna merah maupun putih, yang terlihat olehku matanya sangat hitam. Aku semakin heran dan bukan takut untuk melihatnya lebih dekat. Sambil aku ajak paman untuk meyakinkan bahwa ada seorang wanita di lantai 2. Wanita tersebut meskipun tidak terlihat matanya, namun dari wajah yang dia gerakan sepertinya di melihat ke arahku.

Ketika semakin dekat, tiba-tiba lampu menyala dan wanita memakai kain putih itu pun lenyap hilang ditelan oleh sinar lampu rumah pamanku. Yang terlintas dalam pikiranku saat itu, wanita tersebut hebat dapat langsung menghilang seperti magic. Akhirnya setelah lampu sudah menyala, aku pamit kepada pamanku untuk pulang. Besok paginya aku datang kembali untuk menemani pamanku, pagi itu sekitar jam 8. Cahaya matahari masuk melalui celah-celah kaca rumah pamanku, dan aku melihat pamanku sedang duduk. Namun “mereka” di pagi hari juga ternyata dapat menampakan wujudnya.

Aku pun segera duduk di ruang tamu, dan aku dapat melihat bayanganku sendiri yang terkena sinar matahari di kain gorden yang menghubungkan antara ruang tamu dan dapur. Sungguh sangat tidak aku duga pagi-pagi itu, ternyata bukan hanya bayanganku yang terlihat di kain gorden. “Jika kamu berdiri di pagi hari, seluruh bayangan kamu akan terlihat dari kaki sampai kepala bukan”. Ketika itu aku belum sangat peka, aku melihat utuh bayanganku sendiri dan melihat sebuah bayangan yang hanya terlihat kepala nya saja. Sebuah bayangan yang terlihat hanya kepala itu seakan sedang asik terbang kesana kemari.

Sontak aku melihat ke belakangku, namun tidak terlihat apapun. Aku coba fokus untuk melayangkan lenganku sambil melihat bayangan tanganku mengenai bayangan yang hanya kepala tersebut. Dan tidak berapa lama, bayangan kepala itu seperti memiliki sebuah asap yang keluar dari kepalanya. Saat itu juga aku segera memberitahu pamanku, dan bilang bahwa ada orang di rumah ini. Aku menunjuk kepada kain gorden tersebut, bahwa ada bayangan kepala disana. Paman menyibakkan gorden dan melihat ke arah ruang dapur namun tidak ada siapa-siapa. Ketika kain gorden itu kembali menutupi dapur rumah, terlihat kembali bayangan kepala itu. Tanpa banyak bicara, aku segera pamit dan lari dari rumah pamanku.

Selama 1 minggu aku tidak berani ke rumah pamanku lagi, dan ternyata kejadian tersebut bukan hanya di rumah pamanku saja. Ternyata “mereka” juga ada di rumahku, saat itu jam 5 subuh. Aku segera ke kamar mandi, baru saja melangkah masuk kamar mandi terdengar sebuah suara. “Jangan lama-lama ya mandinya, ibu mau mandi juga” aku pun menjawab, “iya mamah” setelah selesai mandi aku segera ke kamar ibuku dan menjelaskan bahwa aku sudah selesai mandi. Namun ketika aku buka pintu, terlihat ibuku sudah mandi lebih awal sebelum aku.

Ibu bilang dia sudah mandi, aku mulai heran. Tadi aku dengar dengan jelas suara ibuku, sebelum aku masuk kamar mandi. Akhirnya aku mengambil kesimpulan, “mereka” melakukan kegiatan yang sama seperti kita. Terkadang “mereka” juga sering ikut tidur dengan kamu, hanya kamu tidak dapat melihat “mereka”.

Ini adalah kejadian yang aku alami sendiri sebagai seorang indigo, percaya atau tidak semua terserah kepada yang membaca cerita ini. Namun aku ingin kasih saran, “Jangan pernah baca ini sendirian”, terima kasih. Salam, John.

Share This: