Cerita di Balik Cerpen

“Kamu percaya hantu?” tanya seorang temanku saat itu. “percaya! Aku sering sekali melihat hantu di kamarku” ucap seorang lagi temanku yang tampak ketakutan. Aku yang mendengarnya pun menjadi gregetan sendiri. “Kau tahu, hantu itu tak ada! Aku yang seorang penulis novel, dan juga cerpen horor pun tak percaya pada hantu” elakku sebal. Aku tak habis pikir, sudah beberapa kali temanku menanyakan pertanyaan yang sama.

Begitu pula aku yang entah sudah berapa kali menjawab jawaban yang sama pula. “Jaga ucapanmu wahai anak muda, penulis horor itu bisa di datangi tokoh hantunya kapan saja” kata salah satu temanku mendramatisir keadaan yang ada. Saat itu aku hanya tersenyum meremehkan, sampai tiba-tiba angin menerpa wajahku dengan halus membuat bulu kudukku berdiri.

Dan hari itu, aku sangat menyesal dengan kata kataku. Kenapa? Karena aku mengalami satu kejadian yang tak akan ku lupakan. Malam itu aku sedang berdua saja di rumah, aku dan adikku (Dhea) yang masih kelas 6 dan itu pun kami beda kamar. mama dan papaku menghadiri acara pembukaan hotel baru milik temannya di daerah Sukabumi (saat itu aku tinggal di Bogor).

loading...

Di tengah kebosanan aku memilih untuk menulis sebuah cerpen horor dan akan di terbitkan ke “komik fantasteen”. Cerita yang akan ku buat kali ini adalah cerpen tentang seorang gadis remaja yang tak percaya hantu dan mengalami kejadian mengerikan. Saat sedang sangat serius terdengarlah suara mamaku.

“Elin, susunya minum dulu nak!” teriaknya.
“Iya ma, sebentar” teriakku balik.
Sebentar kemudian bulu kudukku langsung berdiri, kemudian aku berpikir keras. Aku baru ingat kalau mama dan papa sedang tak ada di rumah. Lalu. Siapa? *Spalsh!

Tiba-tiba lampu rumah menjadi padam. Dengan gemetaran aku berjalan keluar kamar, dan di luar sangatlah gelap gulita. Tanganku terus menggapai-gapai agar bisa mengenai suatu benda agar tak jatuh. “Dhea..! Jangan bercanda deh, nyalain lampunya! Gak lucu tahu” teriakku pada kegelapan malam yang bernuansa seram. Aku terus menyebut nyebut nama dhea yang memang bersifat usil, berharap kalau gadis kecil itu hanya mengerjaiku.

“Dhei, pleaselah dhe nyalain lampunya” teriakku lagi. Aku mulai menuruni tangga, dan semakin ke bawah semakin membuat jantungku berdebar. “Ah!!”. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dhea dari dapur membuatku mau tak mau berlari untuk menghampirinya. Tapi samar-samar terdengar suara tangisan seseorang membuatku berhenti dan terdiam. Tubuhku bergetar hebat.

Tiba-tiba seseorang mencengkramku, menarik leherku dengan keras. “Hh.. Hh.. Tolong. Hentikan!” teriakku terengah-engah. *Prang! Kepalaku menabrak meja dan vas bunga yang ada di atasnya pecah. “Hh.. Hh!” aku sulit bernafas. Di tambah lagi kepalaku yang pening karena berdarah. “Kak Elin!” dari kejauhan terdengar gema suara Dhea.

Punggungku bertabrakan dengan anak-anak tangga. “Ah!” Entah siapa yang membawaku menuju ruang tamu rumahku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap bernafas. Punggungku mati rasa. Tangannya sudah tidak lagi menggenggam leherku. Aku menarik nafas, hendak menengadah. Belum sempat aku melihatnya, badanku di dorong sekuat-kuatnya hingga berguling-guling. Air mataku diam-diam turun. Tanganku terasa ngilu.

Tiba-tiba, sesuatu mengangkatku berdiri hingga aku melayang di udara. Dengan mudahnya, “dia” menghempaskanku ke dinding. *Brug! Aku merasakan darah mengalir di wajahku. Aku terjatuh ke lantai begitu saja. Tangan itu menarik rambutku menuju dapur. “Ugh..” erangku kesakitan. “Kak Elin! Itu kamu?” tanya seseorang yang familiar.

Itu Dhea! Aku berusaha keras melihat sekeliling. Namun, tetap saja yang aku lihat hanyalah kegelapan. “Dhea? Itu kamu?! Kamu di mana?” bisikku. “Aku tidak tahu aku di mana” sahutnya. Suaranya terdengar agak dekat denganku. *Jlash! Lampu tiba tiba menyala. Namun, sinarnya redup dan berkedap-kedip. Aku mendongak, ku lihat Dhea terduduk lemah di sudut tembok. Wajah dan tangannya di penuhi darah. “Dhea!” panggilku. Aku berjalan merangkak mendekati. Tidak peduli betapa sakitnya jiwa ragaku ini.

Tulang-tulangku terdengar remuk. “kamu tidak apa-apa?” tanyaku. Dia mendongak, dan membuatku terkejut. Dia bukan dhea, tapi sosok wanita bermata bolong dan bermulut lebar. *Jleb! perutku tertusuk jari-jarinya yang tajam. Sebelum semuanya menjadi gelap, aku teringat sesuatu. Ceritaku ini sama seperti cerpen yang aku buat.

KCH

Suci Indah sari

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Suci Indah sari has write 2,686 posts