Cerita Mistis Jalan Tongkeng Bandung

Kalo kita mendengar jalan tongkeng yang berada di kota Bandung pasti yang terlintas di benak kita adalah tergambar jalanan yang sepi dan rumah-rumah yang tidak terlalu padat. Dan sederetan rumah-rumah peninggalan kolonial belanda. Aku sebenarnya orang bandung, cuma semenjak ayah dan ibu pindah ke medan jadi aku harus ikut dengan orangtuaku.

Rumahku yang di bandung, di tempati oleh kakek dan nenek. Singkat cerita, aku tinggal dan besar di medan hingga aku lulus sebagai sarjana ekonomi dari Universitas Sumatera Utara. Setelah lulus, aku langsung mendapatkan kerja di bandung. Di sebuah bank sentral, aku kembali ke bandung meninggalkan kedua orangtuaku di medan dan tinggal bersama kedua kakek dan nenek di daerah tongkeng.

Waktu itu, sudah 1 minggu aku tinggal di bandung. Rumah yang aku tinggalkan dulu masih belum banyak berubah, sewaktu kecil aku sering bermain di belakang rumah bersama adik-adik ku. Sekarang taman nya sudah penuh dengan tanaman koleksi nenek. Selain asik mengenang memori masa kecilku, jalan tongkeng itu masih menyimpan banyak rahasia mistis dan itu terjadi menimpaku.

Malam itu aku harus membereskan beberapa pekerjaan dari atasan, maklum masih baru jadi banyak hal dan buku yang masih harus aku pelajari. Hal itu membuatku harus lembur sampai larut malam, ya mau bagaimana lagi masih anak baru ya begini. Suasana bank sudah sangat sepi, hingga sekitar pukul 11 malam, aku langsung membereskan barang-barangku dan langsung berpamitan kepada satpam.

Aku pun menyetop angkot dan segera naik ke dalam angkot. Di dalam angkot aku sendirian, tidak ada penumpang lain. Karena sedikit takut, aku merapatkan duduk ke dekat kursi pak sopir. Angkot yang aku naiki tiba-tiba saja berhenti di perempatan. “Neng sampai disini aja ya” akhirnya aku menunduk kaku sambil, dia seenaknya menurunkan penumpang, mana jalanan sudah sepi lagi. Aku beranjak turun sambil menyodorkan selembar uang kertas.

Tapi bapak setengah baya itu menolak untuk di bayar, aku terdiam dan langsung berjalan meninggalkan angkot yang memutar balik. Sorot lampunya yang terang sekarang mengecil dan kemudian menghilang ditelan gelapnya jalan aceh. Pandangan ku alihkan ke depan, sedikit menunduk aku meneruskan jalanku sampai ke rumah. Angin malam meniup tengkuk aku berkali-kali, angin dingin membuatku semakin menggigil. Angin dingin juga menerpa kaki ku, karena aku hanya menggunakan celana span pendek dan kemeja kantoran saat itu.

Sambil menenteng tas, muncul perasaan tidak enak. Jujur aku ketakutan, sampai tanpa sadar aku sudah setengah berlari dan tiba-tiba dari arah berlawanan aku mendengar lantunan suara binatang. Aku langsung mengalihkan pandanganku dan mencari asal suara itu. Ini suara binatang yang aku kenal, seperti suara lari kaki kuda. Aku terus mencari asal suara binatang itu, tapi aneh di tempatku tidak ada apa-apa, hanya jalanan lurus gelap menuju jalan tongkeng.

Aku meneruskan langkahku, kemudian suara lari kaki kuda itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas dan jaraknya tidak terlalu jauh. Aku masih menundukan kepalaku, suara itu semakin mendekat dan benar saja sebuah silhouet muncul dari arah berlawanan. Silhouet yang semakin lama semakin jelas, aku mengucek mataku sendiri. Jelas dan tampak nyata di depanku terlihat ada seorang pria dengan baju seragam putih sedang menunggang kuda putih.

Aku mengernyitkan dahi dan mengucek mataku, ketika semakin dekat astaga pria itu tidak memiliki kepala. Aku menghentikan langkahku, badanku kaku tidak bergerak. Jelas di depan mataku, terlihat sebuah pemandangan yang menyeramkan mendekat ke arahku. Aku menundukan kepala sambil ketakutan, sekarang tepat di hadapanku hanya berjarak beberapa centi saja. Sesosok prajurit tanpa kepala sedang menunggangi kuda putih.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa terdiam sambil menatap pemandangan menyeramkan itu dengan ketakutan. Kuda putih itu terus meringkik, prajurit itu turun dari kudanya dan dia mendekatiku lalu memegang tanganku. Air mataku mulai menetes dan sebuah benda jatuh tepat di hadapanku. Dan ketika aku lihat ke bawah, itu sepenggal kepala manusia. Mukanya penuh darah dan matanya hampir keluar, dan mulutnya menganga sepertinya dia sedang berbicara.

loading...

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan lagi, aku sudah sangat ketakutan. Tapi dalam ketakutan yang luar biasa itu, aku sekuat mungkin mengumpulkan tenaga untuk melepaskan cengkraman tangan prajurit berkepala buntung itu. Aku langsung berlari, sampai tanpa terasa aku sudah berada di dekat jalan tongkeng. Sambil berlari, tiba-tiba muncul rasa penasaran. Aku menengok ke belakang, aku menjawab rasa penasaranku.

Aku membalikan badan, terlihat prajurit tanpa kepala itu masih mengejarku. Bahkan jaraknya tidak jauh, tangan nya menenteng kepalanya dan dia mengacung-acungkan sebuah pedang. Sampai di pohon besar lapangan dekat rumah, prajurit itu tiba-tiba menghilang seiring dengan terdengarnya bunyi sebuah peluit. Dalam ketakutan, aku tergesa-gesa masuk ke dalam rumah dan berteriak histeris. Nenek langsung memeluk aku yang berada di lantai.

Kakek langsung membawakan aku segelas air, sebelum diberikan kepadaku. Kakek seperti berkomat-kamit dan kemudian aku minum sampai habis. Aku langsung merasa tenang, sisa dari air itu kakek usapkan ke mukaku sambil masih berkomat-kamit. Dalam beberapa menit, aku sudah terduduk tenang. Aku memeluk nenek dan mulai menceritakan kejadian yang aku alami. Nenek dan kakek mencoba menenangkanku untuk segera beristirahat.

Beberapa hari setelah kejadian itu, nenek dan kakek mulai bercerita. Kalo jalan tongkeng memang sudah terkenal dengan hantu prajurit tanpa kepala penunggang kuda putih. Prajurit itu dulunya pasukan belanda yang membelot, karena dia mencintai seorang gadis pribumi yang tinggal di jalan tongkeng. Demi cintanya dia berani di hukum pancung di depan kekasihnya dari pada harus kembali ke pihak penjajah.

Sampai sekarang, arwah dan kudanya masih bergentayangan di sekitar jalan tongkeng. Kalo kamu ingin melihat penampakan nya, konon kamu harus membunyikan peluit di jalan itu. Tapi jika dia tidak muncul, dia akan datang ke tempat kamu dan menghantui kamu seumur hidup. Sampai kamu bisa memasang kembali kepalanya.

Share This: