Cerita Pendek (Kisah Nyata) Bagian 3

Cerita sebelumnya cerita pendek (kisah nyata) bagian 2.

6. Jejak kaki

Narasumber: Maipreeda Duanphen/Apen (22 tahun).
Lokasi: Chiang Rai, Thailand.

Aku tinggal disebuah kamar kecil (kostan). Hari ini aku pulang terlalu larut malam, karena habis mengadakan acara ulang tahun teman. Badanku semua sakit, membuatku harus cepat bergegas mengemudikan motorku. “Akhirnya aku sampai juga”. Aku langsung menyantolkan kunci pintunya dan membuka “*Kriek”. Alangkah terkejutnya aku ketika aku melihat banyak jejak kaki yang mendiami lantai kostanku.

loading...

“Apa maling?” gumamku. Tapi tidaklah mungkin. Kalaupun itu jejak maling, kamarku pastinya sudah berantakan akibat diacak-acakin sang maling, tapi kamarku terlihat bersih. Hanya saja yang aku bingungkan, jejak siapa ini? (Jejak kaki berwarna hitam).

“Atau Pim? Kenapa dia tumben jorok sekali?” (Pim adalah teman satu kostan sama aku dan dia juga memegang kunci ganda kamar kost). Tapi sepertinya bukan Pim. Karena Pim orangnya sangat pembersih. “Atau orang lain? Tapi siapa?”. Tidak ada orang lain yang memegang kunci kamar ini selain aku dan Pim”.

Aku sangat curiga dengan jejak kaki itu. Sebelumnya tidak pernah ada kejadian begini. Aku kemudian mengikuti jejak kaki tersebut karena jejak itu membawaku akan kesuatu arah. Semakin aku ikuti (dilihat) dan diakhir jejak, aku sangat terkejut dan sangat yakin kalau ini bukanlah jejak kaki maling, Pim atau orang lain. Mana mungkin jejak kaki sampai keatas asbes.

7. Ternyata?

Narasumber: Shoppy Puteri Anjani (23 tahun).
Lokasi: Bandung, Indonesia.

Kisah ini sudah lama sekali. Ketika itu aku masih kelas 3 SMP. Sekolahku memang terkenal angker, banyak yang bilang kalau sekolahku dulunya bekas kuburan. Tapi itu sih menurutku sudah biasa kalau sekolah bekas kuburan atau apa. Waktu itu aku permisi sama guru yang sedang mengajar untuk ke toilet. Aku diijinkan dan sampailah di toilet. Sewaktu hendak masuk pintu toilet, aku melihat Diana (teman sekelasku) berada didepan pintu toilet menghalangi jalanku masuk. Karena sudah sangat kebelet ingin buang air kecil,aku agak sedikit marah sama Diana.

“Awaslah. Aku sudah kebelet nih”, Diana pun minggir dan aku masuk ketoilet. Setelah selesai. “Ah. Mana Diana? Ih, aku mau minta maaflah sama dia sudah ngomong kasar. Habisnya dia, menghalangi aku sih”. Di toilet, aku bertemu sama Nur (teman sekelas).

“Nur, loe mau ngapain?”. Nur malah diam saja. “Ya sudah Nur, aku duluan ya. Takutnya bu Heni marah pula karena kelamaan”. Sampailah aku dikelas dan aku sangat terkejut melihat Nur sudah ada ditempat duduknya. Saat bel berbunyi, aku langsung tanyakan ke Nur dan Nur hanya menjawab dengan tertawa. “Haha, loe sakit ya? Kapan aku ke toilet. Kalau loe gak percaya, tanya sama mereka (teman teman sekelas)”. Aku semakin bingung.

“Yakin loe, itu aku?” tanya Nur kembali.
“Yakin lah. Masa aku bohong. Sebelum loe, ada Diana juga. Aku mau minta maaf sama dia, tadi aku bentak dia. Masa aku sudah kebelet, dia menghalangi jalan masuk. Siapa sih yang gak marah?”.

Nur kemudian memegang keningku dan memastikan aku sehat atau tidak. “*Hm put. Loe yakin itu Diana? Loe sakit atau macam mana sih? Loe gak ingat apa, Diana kan baru meninggal 3 hari yang lalu. Kita kan datang ke pemakamannya”.

8. Lembur

Narasumber: Kakak Lelaki Apen.
Lokasi: Chiang Rai, Thailand.

Aku bekerja disalah satu perusahaan swasta. Hari ini aku terpaksa harus lembur karena pekerjaanku untuk presentasi besok belum selesai. Kini jam telah menunjukkan pukul 9 malam, suasana kantor sudah sangat sepi. Hanya tinggal aku dan Chati yang berada didalam kantor. Chati sudah selesai dengan tugasnya dan dia menghampiri kearah mejaku. Karena suasana kantor yang sepi, dia menggunakan kesepian ini untuk menakut-nakutiku.

“Katanya dikantor ini kalau sudah jam 9 keatas, sering terjadi kejadian aneh dan banyak penampakan. Hati-hati saja. Sudah ya, aku cabut dulu *bro”. Chati pun pergi dari kantor. Tinggal aku seorang diri. Semakin lama perasaanku semakin tidak enak dan aku pun langsung mengemasi tugasku dan melanjutkannya dirumah. Kemudian aku masuk kedalam lift dan sampailah dilantai bawah tepat di basement. Ku lihat tinggal mobilku yang tersisa dan cepat aku hampiri mobilku. Tiba-tiba ada seorang OB yang berdiri tidak terlalu jauh dari mobilku.

“Pak mau pulang?” tanya OB itu.
“Iya pak. Bapak kenapa kok belum pulang?” tanyaku sedikit bingung.
“Iya pak. Saya tinggal disini” jawabnya.
“Tinggal disini? Kok gitu. Apa bapak tidak punya rumah?” tanyaku lebih heran.
“Punya. Tapi saya akan ada disini terus pak sampai jasad saya ditemukan”.

Selanjutnya cerita pendek (kisah nyata) bagian 4.

Fiolin Fradah

Fiolin Fradah

Thank you for reading my stories. Thank you for liking my stories Thank you so much... Terimakasih,Thank you,Arigato gozaimasu, kamsahamnida,Xie-xie,Merci bien,Dankejewel,Matur nuwun,Tarimo kasih,Hatur nuhun,Bujur...

All post by:

Fiolin Fradah has write 94 posts