Cerita Sedih Kado Untuk Ibu

Aku tau ini tidak masuk akal dan mungkin kamu akan bingung jika aku masih sempat menulis sebuah cerita sedih kado untuk ibu. Namaku Sania sekarang aku duduk di bangku sekolah kelas 5 SD. Aku memang masih anak anak, namun aku mempunyai keberanian yang lebih dibandingkan oleh anak anak perempuan lainnya. Aku berani pergi kemana saja sendirian, berjalan jauh tanpa teman, ke mall, ke taman dan ke pasar. Kadang-kadang ibuku selalu khawatir dengan kelakuanku seperti ini, karena sekarang sedang marak-maraknya penculikan anak kecil.

Tapi aku tidak takut sama sekali. Karena Aku rajin berlatih silat dengan guruku di sekolah, aku merasa aku mampu untuk membela diri ketika di tangkap penjahat. Ketika kulihat iklan di tv “kami mengucapkan selamat hari ibu”. Aku berjalan menuju kalender yang terpasang di dinding rumah. Ternyata kalendar itu cukup tinggi. Aku mengambil kursi dan naik ke atasnya, sekarang tanggal 22 desember.

Oh tidak aku lupa kalau hari ini hari ibu, aku harus memberi hadiah padanya. Memang aku sudah merencanakan akan memberi hadiah untuk ibu dari uang hasil tabunganku. Ketika kulihat jam menunjukan 3 sore, tanpa membuang buang waktu aku langsung mengganti baju dan pergi dan lupa pamit pada orang di rumahku. Aku menunggu angkot lumayan lama, karena aku bertujuan ke sebuah mall yang sangat terkenal.

Jaraknya cukup jauh dari rumahku aku harus menaiki angkot 3 kali. Setelah sekian lama menunggu akhirnya aku mendapat angkot, akhirnya aku naik angkot tersebut. Jalanan di kota bandung macet sekali, mungkin karena sekarang adalah jam pulang kantor karena sekarang waktu menunjukan 4 sore. “ya ampun hampir maghrib nih, gimana ya?”.

Singkat cerita akhirnya aku sampai di mall itu. Aku juga bingung ingin membelikan apa. Aku mengelilingi mall itu dan masuk kedalam market yang ada di situ barangkali saja ada barang yang menarik. Ketika aku melihat di pojok ada barang yang memang dikhususkan untuk hari ibu. Aku tertarik kepada sebuah hadiah yang berbentuk hati dan di dalamnya ada coklat kecil yang berbentuk hati juga, dan di atasnya bertuliskan “Happy Mother Day” (Selamat Hari Ibu) aku langsung mengambilnya karena memang harganya pun cukup murah.

Aku melihat di sisi lain market itu ada pembungkus kado gratis, aku langsung menghampirinya dan meminta untuk membungkuskannya. Sekarang hadiah untuk ibuku sudah sempurna sekali dengan bungkus kado yang bergambar hati berwarna pink dan di ikat pita pita cantik. Aku bergegas membayar ke kasir, berjalan keluar, dan ternyata di luar sudah gelap. Aku lihat jam ternyata sudah 18.15 aku belum sholat maghrib lagi.

Aku berjalan masuk kembali ke dalam, mencari mushola dan ternyata ada di bawah basemen setelah sampai aku langsung mengambil air wudhu dan sholat. Setelah selesai aku langsung kembali ke atas ketika itu jam menunjukan 18.40 “sudah kemalaman nih”. Aku berlari dan mencari angkot. Tidak lama kemudian aku naik ke angkot dan menunggu. Karena sangat macet jadi perjalanan terasa sangat panjang. Yang ada malah di marahin kalau pulang jam segini.

Aku turun dari angkot dan aku sudah hampir sampai ke rumah, hanya tinggal menyebrang jalan yang cukup ramai yang sepertinya kendaraannya kencang sekali. Aku melangkahkan kakiku perlahan tapi pasti. Dan tidak lupa menengok kanan kiri berhati-hati terhadap kendaraan yang melintas. Dan sebuah motor melaju cepat ke arahku, aku tak bisa menghindarinya. Aku tertabrak dan terpental sehingga membanting ke sebuah mobil.

Aku tidak ingat apa-apa lagi di sana, hanya gelap dingin itu yang kurasakan saat itu. Aku terbangun melihat sekeliling ternyata aku berada di kamarku. Kurasakan darah mengalir dari kepalaku, rasanya pusing sekali, badanku sakit semuanya. Aku lalu mengambil lap tangan yang ada di meja dan menyeka darah yang mengalir itu. Aku keluar kamar dan berteriak memanggil manggil orang tuaku, ternyata tidak ada siapa-siapa di rumah, Kulihat jam menunjukan sudah 11.00 malam.

Ketika aku hendak kembali kekamarku aku teringat kado yang akan diberikan kepada ibuku, aku mencari ke seluruh penjuru rumah, tanpa menghiraukan rasa sakitku. Ternyata kado itu hilang, mungkin karena tabrakan itu dan kadonya ikut terpental ke arah yang lain, karena aku hanya membawanya menggunakan kantong plastik.

Aku menangis karena kecewa, sudah susah susah membelinya sampai luka luka dan akhirnya hilang. Aku kembali kekamarku untuk menenangkan diri, aku memejamkan mataku. Suara pintu depan di buka dengan keras dan diringi tangisan seseorang, ya itu adalah tangisan ibuku. Aku perlahan bangkit dan melihat keluar, ternyata ada ayah, dan kakak yang kelihatannya sangat sedih dan ibuku yang menangis sambil membawa sebuah bungkusan berwarna pink.

Iya itu adalah kadonya, aku berteriak kepada mereka “ibu ayah kaka ada apa sih kenapa ibu nangis”. mereka tidak ada yang menjawabku. Aku hanya bisa memandangi mereka dan menghampiri mereka aku memanggil manggil nama mereka tetapi tidak ada satupun yang menjawabku, aku seperti tidak ada sama sekali. “Sania.. terimakasih hadiahnya” ibuku berteriak sambil menangis. Aku hanya heran kenapa dia menangis, apa mungkin dia terharu karena hadiahku?.

loading...

“Aku hanya bilang iya ibu” aku menghampirinya dan dia ternyata malah menangis sejadi jadinya. Aku bergerak mundur. Ketika kudengar ada suara sirine ambulance yang terparkir di depan rumahku. Di tengah kebingunganku itu ada beberapa orang yang mengangkut sebuah keranda mayat. Lalu ibuku memeluk mayat tersebut sambil menangis dan kakak juga ikut menangis, hanya ayahku yang kelihatan tegar tapi terlihat ia sedikit meneteskan air mata.

Beberapa saat kemudian kain yang menutupi itu di buka oleh ibuku, Ternyata itu aku, padahal aku jelas jelas ada disini. Apakah aku sedang bermimpi, Aku berteriak kepada ibu “aku di sini Ibu, ayah kakak.. itu bukan aku”. Lalu kurasakan sakit mulai terasa kembali, bahkan lebih sakit dari sebelumnya, darahpun tidak bisa aku bendung dengan lap ini. Aku mulai merasa kedinginan sekali. Aku pun mulai menyadari, apakah aku memang sudah mati.

Apakah itu jasadku dan aku ini roh. Jika itu memang benar maka tuhan tunjukanlah kebenarannya dan jalan untuk menghadapmu. “Terimakasih ibu, ayah yang sudah merawatku dari kecil dan membuatkan kebahagian yang tiada tara di tengah tengah kalian, serta kakak walaupun ia galak tetapi selalu melindungiku dan manjagaku”. aku memeluk mereka satu persatu dan mengucapkan selamat tinggal.

Share This: