Cucunya Apa Bukan? Bagian 2

Sebelumnya cucunya apa bukan?. Pagi telah tiba, tapi mentari tidak kunjung juga menampakkan sinarnya. Di sebuah jendela kamar, aku hanya bertopang dagu sambil mengetak mengetukan jari. Berharap hujan yang sangat deras ini segera berlalu. Sementara om aku, terlihat masih tertidur nyenyak di tempat tidurku. Hingga pukul 08.00 pagi, rintik hujan pun sudah tidak terdengar lagi. Aku langsung bergegas mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Karena terlalu terburu-buru, tanpa sengaja aku menabrak nenekku yang sedang membawa dua gelas teh. Kedua gelas itu jatuh ke lantai dan pecah.

Nenek: punya mata enggak sih kamu?

Nenekku sangat marah dan langsung membentakku.

Aku: maaf nek aku enggak sengaja.
Nenek: dasar kamu anak!
Aku: aku cucu nenek!

*Plak! Nenekku menampar pipiku dengan sangat keras, aku menyela perkataannya karena aku tahu, dia pasti mau bilang kalau aku itu anak haram.

Aku: maaf nek, aku tahu aku salah, biar aku yang beresin dan buatkan lagi tehnya. Ucapku sambil melihat ke arah bawah.

Nenekku langsung berjalan dan sedikit menabrak bahuku, lalu dia masuk ke kamarnya. Tanganku terlihat merah dan terasa sakit terkena air teh panas tadi. Sambil menahan rasa sakit di pipi dan tangan, aku mengambil kain lap serta sapu untuk membersihkan pecahan gelas. Setelah itu aku pun membuatkan lagi teh manisnya dan langsung pergi mandi. Sesudah mandi aku pergi ke dapur, lalu membawa dua gelas teh manis yang tadi aku buat.

Aku: nenek ini tehnya. Ucap ku di depan pintu kamar nenek.

Karena tidak ada jawaban, aku pun meletakkannya di atas meja dan langsung ke kamar. Ternyata om aku masih tertidur nyenyak di atas tempat tidurku.

Aku: bangun om, sudah siang.

Aku mencoba membangunkannya dan dia pun mulai terbangun dari tidurnya.

Om: memang hujannya sudah berhenti?
Aku: sudah dari tadi, sana bangun, aku mau pakai baju.
Om: iya.
Aku: itu aku buatkan teh.
Om: tumben, makasih ya La.
Aku: iya, mandi sana.
Om: oke.

Setelah memakai baju lengan panjang berwarna biru dan rok panjang berwarna hitam. Aku berjalan kedepan rumah, lalu duduk di teras dan menunggu om. Hari ini aku sama si om berencana untuk berkunjung ke rumah sahabat nenek, sahabat baik nenek yang pernah om aku ceritakan. Tapi si om bilang sih rumahnya sudah lama pindah dan hanya tahu daerah kampungnya yang jauh banget. Tidak tahu percis lokasi rumahnya.

Om: gimana La?

Aku hanya bisa menghela nafas, melihat sepeda untuk ukuran orang dewasa, yang tidak ada boncengan di belakangnya.

Aku: iya, enggak apa-apa.

Karena hanya ada satu sepeda aku pun duduk berbonceng di depan om aku.

Om: sudah La?
Aku: iya.

Dia pun langsung mengayuh sepedanya.

Aku: hati-hati ya om bawanya.
Om: oke.

Tanpa pamit dahulu kepada nenek kami langsung berangkat. Melewati jalanan yang licin, becek, dan beberapa perkampungan yang memakan waktu sekitar satu jam lebih. Hingga sampailah di sebuah perkampungan tempat tinggal sahabat nenekku. Aku lihat ada seorang bapak separuh baya yang memakai topi jerami. Dia sedang berjalan di pinggir jalan membawa cangkul yang di taruh di bahunya.

Aku: om, coba deh tanya bapak itu.
Om: oke.

Om langsung menghentikan laju sepedanya. Lalu dia menghampiri bapak itu dan menanyakan rumah bi Enah (nama samaran). Aku senang banget kebetulan bapak itu tahu rumah bi Enah dan memberi tahu si om lokasi rumahnya.

Om: sudah dekat La, tapi.

Sambil memegang kepala bagian belakang, om aku terlihat kebingungan.

Aku: tapi kenapa om?
Om: enggak kok, ayo naik La kita kesana.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang lancar tanpa kendala apapun. Pegel dan lumayan sakit duduk lama di besi sepeda terasa tidak sia-sia, karena aku sudah sampai di depan rumah sahabat nenekku. Rumahnya terlihat berbeda dengan rumah yang ada di kampung ini, rumah dua tingkat yang terlihat mewah, rapi, dan bersih.

Aku: ayo om kita masuk.
Om: kita pulang saja La.
Aku: kok pulang sih, om gak mau bantu aku?
Om: bukan gitu La.
Aku: bukan gitu gimana sih om? Sudah ah ayo kita masuk.

Aku memegang tangannya dan memaksanya untuk masuk. Karena pintu pagarnya tidak di kunci, kami pun masuk dan mengucap salam. Tidak lama, ada seorang ibu sebaya neneku keluar dari pintu rumah, dan menjawab salam kami.

Om: maaf bu mengganggu, apa benar ini rumahnya bi Enah?
Ibu itu: iya saya sendiri, ada perlu apa ya dik?

Aku senang banget ternyata si ibu ini adalah bi Enah sahabat nenekku. Dia pun terlihat sangat senang setelah mengetahui kalau kami adalah anak dan cucu dari sahabatnya. Sangat baik dan ramah, mengajak kami masuk kedalam rumah, menyuguhkan minum, kue, dan buah-buahan. Saat waktu shalat ashar tiba, bi Enah juga menyuruh kami untuk shalat ashar dulu di rumahnya. Selesai aku dan om melaksanakan shalat ashar berdua, bi Enah mengajak kami makan sore bersama. Habis itu dia menceritakan hal hal yang pernah dia alami bersama nenekku.

Karena terlalu asik bercerita dan mengobrol, tanpa terasa aku lihat jam sudah menunjukkan pukul 17.30. Om langsung mengajak aku pulang, dan kami pun berpamitan sama bi Enah. Tapi sebelum pulang, bi Enah memberikan aku sesuatu, dia memberiku sebuah pita kupu-kupu yang sangat cantik, berwarna biru, dan menitip salam untuk nenekku. Setelah itu kami pun langsung bergegas untuk pulang. Mentari sudah terbenam, om terus mengayuh sepedanya.

Sampai akhirnya hal yang sangat tidak kami inginkan terjadi. Hujan turun sangat deras, sementara posisi kami saat itu jauh dari rumah perkampungan, hanya ada pesawahan di sekitar jalan. Tiba-tiba aku mendengar suara anak kucing, seketika om langsung menghentikan laju sepedanya. Di pinggir jalan terlihat ada seekor anak kucing, yang terguyur hujan seperti kami.

Om: kamu tunggu disini ya La.

Aku langsung berdiri dan memegang sepedanya. Om aku menghampiri anak kucing itu, lalu membawa anak kucing itu ke sebuah pohon setinggi pinggang orang dewasa. Tidak jauh dari situ om aku mengambil beberapa daun pisang, terus dia buat sedemikian rupa, sehingga anak kucing itu terlindungi dari guyuran hujan yang sangat deras.

Om: jangan kemana mana ya sampai hujannya berhenti.

Ucap si om sama anak kucing itu. Kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Walau jalanan sangat gelap, serta hujan deras yang di warnai kilat dan gemuruh petir, tapi dia tetap mengayuh sepedanya. Aku merasa sangat heran, karena sudah menempuh jarak yang sangat jauh, tapi tidak kunjung juga menemukan tempat untuk berteduh. Tidak ada rumah penduduk, pohon pun tidak ada, disekitar jalanan hanya ada pesawahan yang sangat gelap. Sementara om aku sudah terlihat kelelahan, sampai akhirnya laju sepedanya pun berhenti.

Aku: capek ya om?
Om: enggak La.
Aku: sini om biar aku yang bawa.
Om: enggak usah La, om benaran enggak capek kok.
Aku: terus kenapa berhenti?
Om: aneh.

Dia terlihat kebingungan sambil melihat lihat ke arah ban sepeda bagian depan dan belakang.

Om: sepedanya jadi berat banget La.

Aku pun langsung turun dari sepeda dan berjalan mencoba melihat-lihat ke arah depan jalan. Terlihat ada lampu, dan sepertinya ada rumah, terlihat samar-samar karena hujan sangat deras.

Aku: om lihat deh di depan sana, kayaknya ada rumah.
Om: iya La, ayo cepat kita jalan saja.

Perjalanan pun kami lanjutkan dengan berjalan kaki, sambil mendorong sepedanya. Setelah sampai tidak jauh dari rumah tersebut aku sangat kaget. Ternyata rumah itu adalah mushola dan anehnya lagi di tengah sawah yang jauh dari rumah penduduk.

Om: yakin La kita kesana?
Aku: ayo om kita kesana, gak tahan aku dingin banget.

Kami pun memutuskan untuk berteduh di mushola tersebut, berdiri kedinginan di lantai luar mushola dengan pakaian basah kuyup.

Om: coba lihat La jam berapa sekarang?

Dari jendela aku lihat ke arah jam dinding yang ada di dalam mushola.

Aku: masih jam 18:00 om.
Om: masa?

Aku pun heran, karena sudah sangat gelap. Sedangkan kami sudah menempuh jarak yang jauh dan memakan waktu sangat lama. Tapi jam dinding mushola menunjukkan pukul 18.00.

Om: kayaknya rusak.
Aku: tapi jarum detiknya jalan kok.

Karena penasaran aku berjalan menuju pintu mushola dan melihat-lihat keadaan di dalam mushola. Rasa heranku jadi bertambah, karena baru kali ini aku menemukan ada mushola yang tidak hanya menyediakan mukena. Ada beberapa pakaian serta sarung yang terlipat rapi, terletak di lantai dekat pintu di samping dinding.

Aku: kita shalat dulu yuk om?
Om: mau shalat gimana La? baju kita kan kotor begini.
Aku: sini deh om.

Setelah melihatnya om aku pun terkejut, terus kebingungan sambil memegang kepala bagian belakang.

Om: mungkin punya pengurus mushola, bentar ya.

Om langsung berjalan memeriksa sekitar mushola dan hasilnya tidak ada orang lain di mushola ini selain kami berdua.

Om: ya sudah La, kita shalat dulu.

Saat aku melangkah untuk masuk kedalam mushola tiba-tiba.

Om: Lala.

Langkahku terhenti. Aku lihat, om melihat ke arah kakiku. Dan aku mengerti maksudnya. Aku pun mengembalikan langkah lalu masuk melangkah kembali dengan kaki kanan terlebih dahulu. Terus aku ucap salam dan mengambil beberapa pakaian. Kami pun langsung bergegas menuju kamar mandi mushola.

Aku: aku dulu ya om.
Om: iya.

Setelah mengganti pakaian dan menjemur pakaian yang basah tadi. Kami pun langsung masuk kedalam mushola dan melaksanakan shalat maghrib berdua. Sebenarnya aku tidak tahu sudah waktunya shalat isya apa belum. Berhubung jam mushola tetap menunjukkan jam 18.00 kami pun memilih untuk shalat magrib. Sesudah shalat kami pun kembali mengganti pakaian. Lalu melipat dan menaruh lagi pakaian yang tadi kita pakai ke tempat semula. Tidak berapa lama hujannya juga mulai mereda, hanya gerimis kecil saja. Saat kami akan meninggalkan mushola itu.

Aku: om lihat itu.

Jam dinding di dalam mushola tiba-tiba berubah dan menunjukkan pukul 21.15 malam.

Om: ayo La, kita harus cepat pulang.

Kami pun kembali melanjutkan perjalanan pulang. Perasaanku menjadi sedikit tenang dan lega setelah melihat ada rumah penduduk walau hanya satu dua rumah saja. Om terus mengayuh sepedanya, sementara aku sambil duduk membonceng di depannya sesekali aku memberikan semangat.

Aku: semangat om.
Om: oke bos.
Aku: kok bos sih om?
Om: terus apa dong La?
Aku: honey.
Om: kok honey?
Aku: maunya?
Om: nenek Lala.

Obrolan dan candaan pun mengalir mengiringi perjalanan panjang, melewati beberapa perkampungan. Hingga tanpa terasa kami pun sampai di rumah. Ternyata nenek aku sudah menunggu kedatangan kami, nenekku duduk di depan rumah, terlihat matanya merah seperti habis menangis. Bajunya juga basah, kayanya nenekku tadi habis mencari kami terus dia kehujanan.

Nenek: habis dari mana?!

Nenekku langsung berdiri dan langsung membentak kami. Aku hanya bisa berdiri terdiam di samping om aku yang sedang memegang sepedanya. Kelihatannya om juga bingung untuk menjawab pertanyaan nenek.

Nenek: punya mulut enggak sih kalian! Pergi tanpa bilang-bilang?

Kami hanya menunduk melihat kebawah menerima bentakan nenek karena memang kami yang salah.

Nenek: Heh kamu aku gak mau tahu besok kamu harus pulang! Biar kakek kamu yang antar!

Dia memandangku dan mengarahkan bentakan kepadaku.

Nenek: dasar kamu anak!
Om: bu.
Nenek: apa?! Kamu mau belain anak ini!
Om: ada salam dari bi Enah, tadi aku sama Lala habis main ke rumah bi Enah.

Aku lihat raut wajah nenekku seperti kebingungan. Sementara si om dengan sedikit melihat ke arahku, dia menggerak-gerakan alis matanya dan mengarahkan lirikan ke arah badanku. Seperti sebuah kode, tapi aku sangat tidak paham maksud om. Setelah aku ingat-ingat mungkin yang dia maksudkan itu pita kupu-kupu. Aku pun mengambil pita kupu-kupu itu dari saku.

Aku: bi Enah juga ngasih ini nek sama aku.

Ucapku sambil menunjukkan pita kupu-kupunya. Dengan langkah perlahan dan terheran-heran. Nenekku manghampiriku dan mengambil pita itu secara perlahan dari pegangan tanganku. Dia juga memegang pita kupu-kupu itu dengan kedua tangannya. Tidak lama nenekku memejamkan matanya lalu terlihat air mata mengalir di pipinya.

Nenek: sana kalian mandi saja.

Kelihatannya nenek aku sudah tidak marah lagi.

Aku: iya nek.
Om: ayo La kita mandi dulu.

Setelah om menaruh sepedanya, kami pun bergegas mengambil handuk dan menuju kamar mandi.
Aku: aku dulu ya om.
Om: jangan lama-lama ya.
Aku: pokoknya om tetap disitu, awas saja kalau pergi.
Om: iya.

Setelah aku selesai giliranku, om deh yang mandi. Dia juga sama menyuruh aku menunggu dulu di depan pintu kamar mandi. Sesekali aku melihat ke arah kebun bambu, tapi tidak ada apa-apa. Hingga suara buah jatuh itu, terdengar lagi dari arah kebun bambu.

Om: Lala.
Aku: iya, kenapa om?
Om: enggak, cuma manggil saja.

Sepertinya si om juga mendengar suara itu. Karena takut dia pun segera menyelesaikan mandinya.

Aku: cepat banget om, pakai sabun gak?
Om: pakai kok, sudah ayo.

Kami pun langsung buru-buru masuk kedalam rumah. Setelah memakai baju, aku langsung keluar kamar dan ternyata om sudah duduk menonton televisi. Aku pun langsung menghampiri dan duduk di sampingnya. Aku sangat terkejut ketika pandanganku mengarah pada jam dinding.

Aku: om lihat deh jam berapa sekarang?

Setelah melihat ke arah jam dinding dia langsung menatap mataku. Jam menunjukkan pukul 21.15 malam, sama percis dengan jam dinding yang ada di mushola, sebelum kami meninggalkan mushola itu. Aku langsung menuju ke arah televisi dan mematikan televisinya. Tanpa harus aku mengatakannya si om sudah mengerti maksudku. Dan kami pun langsung pergi ke belakang untuk berwudhu. Sebelum wudhu aku baru ingat kalau di kamarku tidak ada mukena.

Aku: om, mukenanya?
Om: nanti aku coba tanya deh.

Setelah wudhu kami pun masuk kedalam rumah. Aku sangat tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Nenek berjalan menghampiri aku, membawakan aku sesuatu yang sangat aku inginkan.

Nenek: ini Lala mukenanya.

Aku sangat tidak kuasa menahan air mata, bukan hanya karena nenekku membawakan aku mukena. Tapi itu pertama kali aku melihat nenekku tersenyum padaku, dan memanggil namaku. Dengan sangat lembut neneku menyentuh pipiku dan sedikit menyapu air mataku.

Nenek: masih sakit?

Aku pun menyentuh tangan nenekku yang sedang menyentuh lembut pipiku.

Aku: enggak nek, enggak apa-apa kok.

loading...

Tidak lama nenek aku memeluk aku dengan sangat erat.

Nenek: maafin nenek ya.
Aku: iya nek.

Aku masih tidak percaya, kalau aku akan mendapatkan pelukan erat berlinang air mata penuh kasih sayang dari nenek aku sendiri. Aku sangat bersyukur, pelukan yang selama ini aku harapkan kini telah terkabulkan. Aku dan om melaksanakan shalat isya berdua di kamarku. Setelah shalat dan saat aku membuka pintu kamarku. Ternyata nenekku sedang menungguku, nenekku lagi duduk dan menonton televisi.

Nenek: sudah La shalatnya?
Aku: sudah nek.
Nenek: sini duduk samping nenek.
Aku: iya nek.
Om: aku enggak di ajak bu?
Aku: biarin saja nek, tadi aku lihat mandinya cepat banget, pasti gak pakai sabun.
Om: enak saja, cium nih tangan aku wangi sabun.
Aku: tangannya *doang badannya mah enggak.
Om: kalau enggak percaya nih ketek aku wangi sabun.
Aku: *ogah banget.
Nenek: masih wangi juga ketek *kebo.

Aku sangat senang akhirnya bisa bercanda dan tertawa riang bersama nenekku.

Nenek: ini pitanya.

Nenekku memberikan kembali pita kupu-kupu pemberian bi Enah itu kepadaku, dan dia pun menceritakan kisah pita kupu-kupu itu.

Nenek: dulu waktu nenek masih kecil, sepulang mengaji dari mushola nenek menemukan seekor anak kucing yang terjatuh ke got, nenek pun langsung mengangkat anak kucing itu dari got, lalu nenek membersihkannya, tidak lama ada seorang anak perempuan sebaya nenek bilang, kalau anak kucing itu miliknya, dia sangat berterima kasih, dan sebagai ucapan terimakasih dia mengantar nenek pulang memakai sepeda, karena dia melihat nenek orang yang peduli dan penyayang akhirnya dia ingin berteman sama nenek, dia teman nenek yang sangat baik, dia dari keluarga yang tidak seperti nenek, selalu punya apa yang nenek tidak punya, tapi dia tidak pernah sombong sama siapapun, dia selalu memaksa untuk mengantar nenek setiap sepulang mengaji dari mushola, padahal jaraknya cukup jauh dan sudah malam juga, sebagai ucapan terima kasih nenek memberikan pita kupu-kupu kesayangan nenek padanya, persahabatan terus terjalin walau dia dan nenek sudah berkeluarga dan punya anak, tapi dia sudah berpulang lebih dulu.

Aku: maksud nenek?
Nenek: dia sudah berpulang, meninggal karena sakit, nenek masih tidak percaya kalau dia masih menyimpan pita kupu-kupu ini, nenek mengerti kenapa dia mengembalikan pita kupu-kupu ini, pasti dia sangat kecewa dan sedih melihat nenek sudah bersikap tidak baik sama cucu nenek sendiri.

Aku dan om ku langsung saling bertatapan.

Om: aku bilang juga apa La?

Ternyata sewaktu om aku bertanya sama bapak separuh baya yang lagi membawa cangkul itu, bapak itu bilang kalau rumahnya sudah lama tidak dihuni, tidak terawat dan kotor, berbeda dengan apa yang kami lihat setelah sampai di rumah itu.

Nenek: gak apa apa, besok kita ke makamnya untuk mendoakannya.

Tidak berapa lama kakek aku pulang. Setelah kakek mengucap salam dan masuk ke rumah. Kakekku tersenyum melihat aku duduk disamping nenek yang terlihat sangat akrab.

Aku: apa itu kek?
Kakek: ini martabak.
Aku: tumben kek bawa martabak.

Dan kakekku hanya tersenyum. Tiba-tiba om aku langsung bangun dan menghampiri kakek. Lalu dia mengambil sebungkus martabak yang ada di pegangan kakek. Beberapa potongan kue martabak menemani malam indahku bersama kakek, nenek, dan juga om. Karena sudah larut malam kita pun menuju kamar masing-masing dan tidur. Tapi karena aku masih merasa takut, aku pun berpindah tempat tidur ke kamar om lalu tidur di sampingnya. Dan si om pun tidurnya membelakangi aku.

Aku: aku senang deh om, selain nenek sekarang sudah berubah, karena kejadian ini kita jadi selalu melaksanakan shalat lima waktu berdua.
Om: iya, om juga senang.

Suara merdu tokek dan burung hantu bergantian menuai irama. Menemani percakapanku bersamanya malam itu. Suatu pengalaman kisah yang memberi hikmah setelah pedih. Yang tidak akan pernah aku lupakan.

Aku: om dengar gak suara aneh yang selalu terdengar di kebun bambu?
Om: kenapa memang La?
Aku: konon katanya sih di kebun bambu itu ada penunggunya.
Om: kamu kata siapa?
Aku: kata admin KCH.
Om: terus?

Aku: kita cari tahu yuk om, sebenarnya makhluk apa sih yang menunggu kebun bambu itu? Terus aku juga ingin tahu sejarah jalanan yang kita lewati sewaktu pulang, katanya kalau bertepatan adzan maghrib jangan lewat di jalanan itu soalnya angker dan menyesatkan, kalau kita tidak bisa menemukan mushola dan tidak shalat di mushola aneh itu, kita akan tersesat selamanya di jalanan itu.

Dia pun langsung mengganti posisi tidurnya dan membalikan badan ke arahku. Sehingga tanpa sengaja jarak wajah kami menjadi sangat dekat. Ada tatapan yang berbeda dari kedua matanya. Aku pun terlarut dalam suasana hening dan waktu yang terasa sangat lambat. Semakin larut hingga pandanganku mengarah ke arah bibirnya. Bibir yang terlihat mulai sedikit terbuka, seakan ingin mengatakan sesuatu.

Om: *yupz.

Keriting

Keriting

Lala & keriting .
Terimakasih sudah baca tulisan sederhana kami.
meski tidak seram aku harap bisa menghantui yang lagi sendiri dan terlarut sepi.
(^•^)
wassalam wr wb

All post by:

Keriting has write 28 posts

Please vote Cucunya Apa Bukan? Bagian 2
Cucunya Apa Bukan? Bagian 2
4.9 (97.14%) 7 votes