Cucunya Apa Bukan?

Assalamualaikum wr, wb. Bersamaan dengan datangnya kata dan tulisan yang tidak tertata rapi ini aku ingin menuangkan kisah yang dulu aku alami. Waktu itu aku masih sekolah, tepatnya kelas 2 SMP. Karena ada libur sekolah yang panjang, aku sangat ingin berlibur ke tempat om aku yang ada di Karawang. Dengan alasan aku sangat ingin ketemu sama nenek aku, soalnya dari aku kecil hingga saat itu aku belum pernah ketemu sama nenek aku, yang ada di Karawang.

Dan tumben saja papah sama mamah memenuhi keinginanku, tapi dengan syarat hanya menginap satu malam. Aku sih oke saja yang penting main kesana. Siang hari kita berangkat dari rumah, aku duduk dibelakang, papah aku menyetir dan mamah duduk di depan. Kita sampai sekitar sore hari. Aku lihat daerah tempat tinggal om aku itu masih banyak sawah, perkebunan, pepohonan, dan kelihatanNya sejuk banget. Ternyata kakek aku sudah menunggu kadatangan kami, dia berdiri di depan rumah, dan langsung membantu ayahku memarkir mobilnya. Di dalam rumah aku duduk disamping mamahku di sebuah kursi bambu. Kakek aku membawakan minum dan kue.

Kakek: mari silahkan di minum dulu.
Papah: *wah makasih gak usah repot-repot.

Aku sedikit bingung kenapa kakek yang menyediakan itu bukan nenek aku, akupun langsung bertanya sama mamah.

Aku: mah memang nenek kemana sih?
Mamah: ada di dalam, bentar ya La.

Mamahku langsung bangun dan menuju sebuah kamar. Aku sedikit mendengar percakapan mereka.

Mamah: lagi apa bu? Ibu sehat?
Nenek: mau apa kamu kesini!
Mamah: itu ada Lala ingin banget ketemu sama ibu.

Aku sudah tidak sabar ingin melihat nenek, setelah beberapa lama akhirnya mamah sama nenek keluar dari kamarnya. Tapi aku lihat mata mamahku merah, sepertinya habis menangis.

Papah: ibu apa kabar bu? Sehat bu?
Nenek: iya.

Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung bangun dan menghampiri nenekku.

Aku: apa kabar nek ?

Sambil mengangkat tangan aku ingin bersalam mencium tangan nenek, tapi nenekku hanya diam saja dan mengacuhkan aku. Aku lihat wajahnya tidak tersenyum sama sekali, nampaknya dia tidak senang.

Aku: nenek, apa kabar?

Ucapku sekali lagi sambil aku mencoba meraih tangannya. Tapi neneku malah berpaling dari aku dan pergi begitu saja.

Om: La, Lala.

Dengan celana pendek tidak pakai baju, badan kotor penuh tanah, tanpa sandal dan baju kaos di ikat di leher, penampakan si om muncul memanggilku dari arah luar depan pintu.

Om: kesini La.
Aku: iya om.

Aku pun menghampirinya.

Aku: habis ngapain om kok kotor banget sih?
Om: biasa habis main bola, kapan datang?
Aku: tadi barusan.
Om: oh, sini ikut om yuk.
Aku: Iya.

Dia mengajak aku ke suatu tempat, aku pun berjalan mengikutinya dari belakang. Kita pun berhenti di bawah pohon berdaun rimbun yang tidak jauh dari rumah.

Om: lihat La bagus banget ya?
Aku: *wah iya om, bagus banget.
Om: tapi jangan di mainin, entar mati.
Aku: *hmm, ceritanya mau balas dendam nih om?
Om: *hehe, cuma bercanda kok.

Sebenarnya aku ingin menyentuhnya tapi si om melarangku. Aku sangat senang si om menunjukkan sesuatu yang selama ini belum pernah aku lihat. Berwarna emas mengkilat yang bergantung di tangkai pohon.

Om: kalau nanti sudah berubah pasti kupu kupunya bagus banget ya.
Aku: iya om pasti indah banget.

Om aku menaruh beberapa daun di atas tangkai kepompong emas itu.

Aku: supaya apa om?
Om: supaya kalau hujan engga kehujanan.

loading...

Seneng deh aku punya om yang baik seperti dia.

Om: sudah mau gelap La mending kita balik ke rumah, om mau mandi.
Aku: oke om.

Di rumah ini kamar mandinya terpisah, sekitar 10 meter dari belakang rumah. Selain itu kalau mau ambil air harus menimba dulu dari sumur. Di belakang kamar mandi setelah pagar bambu ada kebun bambu, halaman rumahnya luas pokoknya kalau malam seram banget jauh dari rumah lain dan keramaian. Malam saat makan malam bersama, raut wajah neneku masih terlihat sama, tidak ada senyum sama sekali. Setelah nenekku mengambil nasi aku mencoba mengambil lauknya untuk nenekku.

Aku: ini nek ikannya.

Tapi neneku mengalihkan piringnya dan memilih mengambil sendiri.

Om: buat om sajah La.
Aku: om kan sudah ada itu.
Om: kurang, *hehe.
Aku: dasar, mana sini piringnya.

Sehabis makan malam juga neneku langsung pergi ke kamarnya, tidak ikut mengobrol dulu bersama kami. Setelah larut malam kita pun pada tidur, aku tidur bertiga sama mamah dan papah, kakek tidur berdua bersama nenek, sementara om tidur sendirian. Aku masih belum bisa tidur, suasana malam lumayan seram karena selain suara jangkrik dan katak, sesekali ada suara tokek dan burung hantu.

Tapi lama kelamaan akhirnya aku tertidur nyenyak. Setelah shalat subuh mamah sama papah aku harus kembali ke Bekasi karena kerja, tapi aku menolak ikut pulang dan akhirnya di ijinkan. Setelah sarapan kakek aku juga berangkat untuk kerja, hanya tinggal aku, om dan nenek deh. Siang hari setelah makan siang aku bermaksud membantu nenek aku.

Nenek: mau apa kamu kesini?!
Aku: aku bantu cuci piringnya ya nek.
Nenek: gak usah!

Aku pun berjalan menuju tumpukan piring dan gelas yang sedang nenek cuci, aku ambil satu piring untuk aku cuci.

Nenek: mau apa sih kamu, sini piringnya!
Aku: aku mau bantu nenek.

Nenek aku berusaha mengambil piring yang aku pegang, karena nenek menariknya dengan sangat kuat, piring itupun terlepas dari pegangan tanganku. Tapi terlepas juga dari pegangan nenek, sehingga piring itu jatuh ke lantai dan pecah.

Nenek: lihat tuh gara-gara kamu, dasar kamu anak haram!

Nenek membentaku, dan aku sungguh tidak kuasa menahan air mata ini. Aku menangis, bukan karena nenek membentaku. Tapi, ada kata lain yang sangat melukai perasaanku.

Aku: sudah lama sekali aku ingin ketemu nenek, setiap om sama kakek main ke rumah aku berharap nenek ikut, mamah sama papah juga selalu melarang aku setiap kali aku ingin berkunjung kesini, sekarang kenapa nenek menyebut aku anak haram, apakah aku benar-benar bukan cucu nenek?

Neneku hanya berdiam diri dan tidak menjawab pertanyaanku.

Om: kamu kenapa La, kok nangis?

Tiba-tiba saja si om datang menghampiri aku.

Om: sudah jangan nangis, sini ikut om yuk.

Om aku memegang tanganku dan mengajak aku berjalan keluar. Dengan langkah perlahan aku masih memandang nenek, berharap nenek mengatakan sesuatu padaku.

Om: jangan nangis lagi ya.

Sambil tersenyum si om mengusap air mata yang mengalir di pipiku.

Om: mending kamu ikut om yuk?

Aku menjawab dengan mengangguk sambil mengusap sisa air mataku. Dia memegang tanganku dan mengajak aku kesuatu tempat. Sambil berpegangan tangan, kita berjalan berdua menyusuri jalan setapak di tepian sawah, terlihat padi yang masih hijau terhembus angin, seakan menari menemani kami. Sampailah kita di sebuah kebun, di kebun ini banyak banget pepohonan buah. Suasananya sangat sejuk banget, burung yang berkicau membuat hatiku tenang.

Om: kamu tunggu disini ya La.
Aku: iya, hati-hati ya om.

Dia memanjat salah satu pohon sementara aku menunggu di bawah. Di atas pohon dia memetik beberapa buah rambutan yang sudah merah.

Om: La, tangkap nih.
Aku: mana om, lempar sini.

Dia pun menjatuhkan petikan buah rambutan ke arahku. Tapi aku tidak berhasil menangkapnya, malah buahnya jatuh mengenai kepalaku.

Om: *haha, yang benar dong La tangkapnya.
Aku: kok om malah ketawa sih? Awas ya om.

Aku pun mengambil beberapa buah rambutan tadi, dan aku lempar ke arah om aku, yang akhirnya jadi perang buah rambutan deh, *hehe. Karena buah rambutanya sudah cukup banyak, om aku pun beranjak turun dari pohon. Tapi sepertinya om aku kurang berhati-hati, hingga dia terjatuh dari pohon. Aku pun langsung menghampirinya dia terlihat kasakitan.

Aku: gimana sih om, aku bilang kan hati-hati turunnya.
Om: iya La, tadi tangkai yang aku pegang ternyata sudah rapuh jadinya patah.

Terlihat lengan tangan om aku terluka cukup parah, aku langsung memegang tanganya, lalu aku bersihkan lukanya. Suasana jadi hening, waktu terasa berjalan sangat lambat, ada kupu-kupu yang sangat cantik terbang menghampiri kami, kupu-kupu itu terbang perlahan dan hinggap di jari tanganku yang sedang membersihkan luka di tangannya (soundtrack: kuch kuch hotahai).

Tidak lama kupu-kupu itu kembali terbang, terbang sampai kami tidak bisa melihatnya lagi. Dengan wajah yang sangat dekat aku memandang matanya, dia juga memandangku dengan tatapan yang sama, tidak lama setelah itu dia mulai berbicara.

Om: jangan-jangan itu kupu-kupu dari kepompong emas itu La.
Aku: kayaknya sih, kita lihat yuk om.
Om: ayo, mending sekarang kita kumpulin rambutannya, kita bawa pulang.
Aku: oke om.

Sebelum kerumah kami berdua mampir dulu ke sebuah pohon yang berdaun rimbun, dan ternyata benar, hanya ada sisa sisa kulit kepompong, dan mungkin kupu kupu tadi itu ingin mengucapkan terima kasih. Kami pun langsung pulang ke rumah. Sesampainya dirumah, aku bermaksud memberikan buah rambutan ini ke nenek aku.

Aku: nek, tadi aku habis dari kebun, ini buah rambutan buat nenek.

Dia tidak menjawab dan hanya diam sajah. Akhirnya aku mencoba meraih tanganya, tapi aku terkejut. Nenek aku seketika memukul tanganku yang sedang menggenggam rambutan.

Nenek: kamu pulang saja, aku gak mau lihat kamu lagi!

Dari belakangku om aku melangkah perlahan menghampiri aku.

Nenek: kamu mau belain anak ini, mau jadi anak durhaka juga kamu ya!

Om aku berhenti melangkah, setelah itu nenek aku pergi masuk ke kamarnya. Sementara buah rambutan yang tadi kita petik, tergeletak berantakan begitu saja di atas lantai. Aku pernah bertanya sama mamah, tapi aku tidak pernah mendapatkan jawaban, kenapa aku tidak diperbolehkan ketemu nenek. Aku harus mencari cara, sampai akhirnya pada malam hari sekitar pukul 01.00 aku terbangun dari tidurku.

Suara merdu tokek dan burung hantu, membuat aku takut untuk ke kamar mandi. Karena sudah tidak tahan, aku pun berniat membangunkan om aku. Saat aku buka pintu kamar ternyata si om belum tidur, dia lagi asik nonton televisi tapi tanpa volume suara. Aku langsung menghampirinya dan menepuk bahunya dari belakang.

Aku: om.
Om: astagfirullah, Lala ngagetin saja kamu.
Aku: kok belum tidur om?
Om: *sssttt, lagi ada bola seru nih, kok kamu gak tidur La?
Aku: antarin aku yuk om, kebelakang?
Om: *owh, ayo om antarin.

Dia pun mengantarku ke kamar mandi dan menunggu aku di depan pintu kamar mandi. Setelah selesai aku kaget, saat pintu kamar mandinya aku buka ternyata si om tidak ada di tempat.

Om: goal!

Si om berteriak dari dalam rumah.

Nenek: matikan televisinya!

Nenek aku juga langsung teriak dari kamarnya. Rasain tuh si om kena marah sama nenek, habisnya dia ninggalin aku sih. Baru saja beberapa langkah dari pintu kamar mandi, tiba-tiba aku mendengar suara dari arah kebun bambu. Suaranya seperti mangga jatuh dari pohonnya. Tapi itu pohon bambu, bukan pohon mangga, dan pohon bambu itu tidak berbuah. Sering sih aku dengan konon di pohon bambu itu ada sosok penunggunya, karena takut aku langsung lari kedalam dan mengunci pintu.

Om: sudah La?
Aku: kok om jahat banget sih tinggalin aku?
Om: *hehe, maaf ya tadi kirain masih lama.
Aku: lama gimana sih aku kan cuma buang air kecil *doang.
Om: iya maaf, om janji gak gitu lagi.

Pikirku kebetulan sekali, aku langsung menuju televisi dan aku matikan televisinya.

Om: kok di matikan La?
Aku: gak dengar apa tadi nenek bilang apa?
Om: iya aku dengar, masih malam La mending kamu bobo saja.
Aku : aku ga ngantuk, sini ikut aku.

Tangannya langsung aku pegang lalu aku mengajaknya ke kamarku.

Aku: om tidur disini.
Om: kamar aku kan disana La.

Aku langsung memegang kedua pinggang dan menatapnya dengan tajam.

Om: iya, iya aku tidur disini.

Aku senang lihat wajahnya kalau lagi takut sama aku, dia pasti menuruti apa yang aku bilang. Setelah om aku naik ke atas tempat tidur dan berbaring, aku pun langsung berbaring di sampingnya.

Aku: aku mau tanya sesuatu, tapi om jawab dengan jujur.
Om: tanya apa memang La?
Aku: kenapa nenek bersikap kayak gitu sama aku?
Om: aku pindah ya?
Aku: kalau om gak mau cerita aku gak akan pernah maafin dan gak mau ketemu om lagi.

Om: jadi begini ceritanya, dulu papah kamu sudah bertunangan, tapi tunangannya meninggal karena kecelakaan. Sampai akhirnya papah kamu ketemu sama kakak aku dan menjalin hubungan. Sementara ibu, dia punya sahabat baik, sahabat dari kecil yang selalu bersamanya. Sahabat ibu punya anak laki-laki, mereka ingin mempererat persahabatan mereka, dan ibu berniat menjodohkan kakak dengan laki-laki itu. Anak laki-laki sahabat ibu juga sangat menyukai kakak dan ingin melamar kakak. Tapi semua keinginan ibu sirna, karena kakak aku mengaku kalau kakak hamil dan sedang mengandung kamu. Waktu itu ibu juga lagi hamil dan sedang mengandung aku. Setelah kakak menikah sama papah kamu, ibu bilang sama kakak untuk jangan pernah pertemukan ibu sama anak yang sedang kakak kandung, dan anak itu adalah kamu. Dari semenjak itulah ibu bersikap seperti itu sama kakak dan papah kamu.

Air mataku mengalir mengiringi alunan cerita dari om aku.

Aku: terima kasih ya om sudah mau cerita.

Om aku mengusap air mata di pipiku, dan memakai kan aku selimut yang sangat lembut.

Om: sudah kamu jangan nangis lagi, mending sekarang kamu bobo.

Aku tahu kok sebenarnya nenek aku itu orang yang sangat baik, karena aku lihat om aku sangat baik, peduli dan penyayang. Aku berharap suatu saat nenek aku berubah dan benar-benar menganggap aku sebagai cucunya.

Aku: om kan pernah bilang sama aku kalau setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, dan sesuatu yang dulu baik walau sekarang terlihat tidak baik pasti suatu saat akan kembali baik, mau gak om bantu aku?
Om: *yupz.

Selanjutnya cucunya apa bukan? bagian 2.

Keriting

Keriting

Selain menambah pengetahuan KCH juga bisa menjadi tempat curahan hati, hitung hitung daripada mengenang mantan mending ketik cerita mengenang kisah seram. maaf sebelumnya kalau ceritaku tidak menarik ) terimakasih kakak admin yang sudah mempublish dan memperbaiki kesalahan kata. Salam buat semua sahabat KCH, sukses terus ya, selamat membaca kisah lainnya serta ingat, “bacalah sendirian di tempat angker terdekat” wasalam wr wb

All post by:

Keriting has write 13 posts

Please vote Cucunya Apa Bukan?
Cucunya Apa Bukan?
3.8 (76.67%) 6 votes