Daging Keluarga

Kisah ini diambil dari kisah nyata seorang keluarga. Dulu keluarga ini kaya raya. Sayang sekali akibat selalu menyumbang terus-menerus keluarga ini jatuh miskin. Meskipun begitu keluarga mereka tidak pernah berputus asa. Kepala keluarga bekerja menjadi seorang petani panen ladang padi. Ibu rumah tangga menjadi seorang penjual pisang goreng. Anak pertama menjadi seorang pengrajin dan anak terakhir menjadi seorang pelajar.

Suatu hari bencana kemarau panjang terjadi di tempat tinggal keluarga itu. Para tetangga tidak mau berbagi makanan mereka. Mereka akan berkata “pergi saja kau! Untuk apa kau kemari? Bukankah kau petani dan mempunyai ladang panen padi? Apa istrimu tidak tau cara memasak atau mengolah? Kau seperti pengemis saja, kau kan kaya. Putus asa sekali kau!”. Keluarga itu menerima keadaan berat yang terjadi kepada mereka. Sesekali mereka terpaksa memakan makanan yang tersisa di gudang lumbung panen ladang padi.

Kadang mereka memakan pisang goreng walaupun hanya satu pisang. Mereka akan memotong-motong pisang itu menjadi kecil agar dapat dimakan 4 orang. Suatu hari mereka kehabisan makan. Anak terakhir menangis meminta makan “aku lapar! Aku mau makan! Hiks, hiks” Ibunya menuju dapur dan menemukan pisang goreng, ibunya langsung membawa pisang goreng tersebut kepada anaknya.

loading...

“Nak, ibu menemukan pisang goreng ini. Makanlah, ibu janji kau tidak akan lapar kembali” kata si ibu menenangkan. “Ibu, Ayah, Kakak, turutilah permohonanku yang terakhir sebelum kalian tidak melihatku lagi. Sebelum aku pergi untuk selamanya. Aku ingin memakan daging kalian!” Bentak anak terakhir itu. Semua kaget mendengar perkataannya. Tapi mau tidak mau permintaannya harus dituruti.

Ibunya membuka bank kecil. Memasukkan kartu kredit, memencet pin, menekan tombol, memilih pilihan, dan keluarlah uang dan bon. Mereka membuatnya saat sang kakak berada di tempat kerja pengrajinan tangan asli. “Ayah, hanya ini yang ibu dapat. Hanya tersisa 50 perak. Ibu tidak mampu memberikan uang. Karena hanya ini yang ibu punya” kata ibu dengan perasaan bersalah.

“Tidak apa-apa, bu. Semoga saja ada penjual daging keluarga” jawab ayah. “Tenanglah anakku. Ayahmu sedang membeli daging keluarga. Permintaanmu akan segera dituruti.” hibur ibu. Sang anak berhenti menangis dan tertidur. Sedangkan saat ayahnya berjalan, ayahnya menemukan seorang penjual daging keluarga. Sobat KCH, sampai di sini dulu ya. Cerita selanjutnya di Daging Keluarga Part 2.

KCH

Shaille

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Shaille has write 2,670 posts