Dalam Mimpi Aku Tidak Takut!

Apa kabar semuanya? Aku mau cerita saat aku main ke Ponorogo. Eyang kakung aku berasal dari Ponorogo. Eyangku ini dulunya punya usaha batik berdikari zaman presiden Soekarno. Usaha yang diwariskan bapaknya ini sekarang hanyalah sebuah kenangan. Rumah buyut dari mamaku ini kalau ditelusuri dengan berjalan kira-kira 125 langkah orang dewasa pada umumnya sampai ke pintu belakang belum sampai toiletnya ya yang diluar dan menghitungnya pun gak diawal teras depan tapi dari pintu masuk.

Kebayang kan besarnya kayak apaan rumah buyutku ini. Nah saat itu aku diajak pulang kampung dengan eyang putri dan eyang kakung naik bus ke Ponorogo. Senang bangetlah aku soalnya makanan di ponorogo murah-murah. Es dawet jabung cuma 1500 per-mangkok. *Haha padahal tahun 2014 yang lalu. Coba kalau didaerahku semangkok *goceng (lima ribu). Emosi jiwa.

Lanjut ya, pas aku sampai dirumah buyutku banyak ukiran kayu zaman dulu ya seperti rumah joglo pada umumnya tapi masih asli belum dicat sama sekali. Aku iseng berjalan lebih masuk ke area kamar yang dulu dipakai untuk tempat istirahat karyawan. Kosong penuh debu. Banyak ruangan kosong yang tidak dipakai lagi jadi kesan seramnya tuh dapet banget. Dan saat aku kebelet buang air kecil ini yang bikin aku *keki soalnya harus jalan ke ujung.

Note: zaman dulu apalagi orang jawa timur *njeding (kamar mandi) itu gak boleh berada didalam rumah harus diluar gak menyatu dengan rumah.

Nah aku lanjutkan tuh ke kamar mandinya untuk buang air kecil, aku berani karena itu siang bolong. Tapi tiba-tiba aku lihat burung dara diatas melihatku dengan tajam seakan-akan gak mau berpaling dari arahku. Buset dah ya kali ah di intip burung pikirku. Cepat-cepat aku bersih-bersih lalu pergi dari situ. Eh bukannya pergi tuh burung ngikutin aku dari atas. Lalu aku mempercepat jalanku tapi pas aku masuk ke dapur yang sudah jadi satu sama rumah, burung itu berhenti mengejarku dan bertengger diatas kayu yang merupakan pintu untuk ke kamar mandi.

Dengan selalu melihat ke arahku. Lalu Pakpuh (bapak sepuh) yaitu pakdeku yang melihat hanya bilang “gak apa-apa itu dik biasalah suka sama kamu ya gitu” ucapnya. Ah gak usah suka lebih bagus, gerutuku. Lalu aku tidur dirumah eyangku yang merupakan adik dari eyang kakung aku. Dia saudagar daging sapi. Aku suka pecel buatannya dan keripik singkongnya. Memang ya makanan desa atau kampung itu lebih nikmat ketimbang spagheti.

Jujur saja ya lebih suka ikan asin deh ketimbang steak *haha. Lalu pas aku mandi dikamar mandinya yang luas banget kayak kamarku. Aku merasa ada sepasang mata yang merhatikan dan panas banget. Padahal aku mandi pakai air dingin. Cuma dalam hati aku ngomong gini “jangan nakutin ya kalau benaran ada disini mending dimimpi saja”. Memang payah aku ngomong begitu.

loading...

Benar saja malamnya aku dimimpikan sesosok genderuwo gede banget badannya, hitam berbulu, matanya merah menyala dan bertaring giginya. Tapi anehnya alih-alih takut malah aku lihatin. Aku bermimpi dia menghalangi jalanku ke kamar mandi. Dia besar sekali seperti raksasa kayaknya kalau aku ditendang juga bakalan K.O. tapi disitu aku diam dan masih terus menatap lalu membaca doa dan sebut nama Tuhan berkali-kali. Dia tiba-tiba mengecil, mengecil lalu tambah kecil seperti bola kelereng lalu aku tendang dan dia menghilang.

Esok paginya aku bangun dan menceritakan ke eyangku. Ternyata eyangku juga mimpi hal yang sama sepertiku. Mungkin karena kami orang baru yang tidur disitu jadinya digangguin. Nah ini dimimpiku aku dilihatkan yang menyeramkan mungkin karena ucapan bodohku itu tapi anehnya aku gak takut coba kalau aslinya *haha, *ngacir deh aku. See you guys.

KCH

Nafta

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Nafta has write 2,694 posts