Danau Pemancingan

Terkadang banyak hal yang bisa dilakukan dengan teman-teman selain nongkrong atau berkumpul. Salah satunya adalah memancing di danau pemancingan, itu yang sering aku dan temanku lakukan. Mungkin ini sekedar hobi kita bersama saja, namun terkadang kita terlalu bebas untuk melakukan hobi kita ini. Terkadang kita sering melakukannya ditempat-tempat atau waktu yang tidak tepat untuk memancing.

Kami sering memancing ditempat yang jarang dikunjungi pemancing lain. Sudah hampir tiga tahun kami memancing dan hampir semua tempat kami datangi tapi ada satu hal yang selalu membuatku bersama teman menjadi penasaran yaitu danau pemancingan yang berada di tengah kota Bandung. Danau itu tidak berani kami kunjungi bukan karena seram atau angker, karena selama ini jika kita memancing malam alasan seram, angker tidak pernah kami hiraukan.

Bahkan tidak pernah terjadi apa-apa, alasan utamanya adalah ketatnya pengamanan danau pemancingan itu di malam hari. Konon danau ini adalah proyek pembangunan pemerintah yang tidak jadi, dan kota Bandung mempunyai curah hujan yang cukup tinggi. Sehingga bisa dibilang kalau itu adalah danau. Hampir tidak pernah ada orang yang tau bahwa dibalik lempengan besi yang menutupinya didalamnya itu adalah sebuah danau pemancingan.

Hingga suatu malam, rasa penasaran kami akhirnya membuat kami berangkat kesana. Aku dan ketiga temanku masuk melalui tanah kosong disebelah danau itu yang langsung berhubungan dengan jalan setapak menuju danau pemancingan. Beruntungnya kami karena malam itu kami melihat, tidak ada seorang pun yang berjaga disana. Kami melompat melalui semak belukar dan sampailah kami disebuah pohon besar di pinggir danau. Kami menyalakan lampu petromak dan mulai memancing.

Awalnya acara memancing ini berjalan dengan lancar, namun lama kelamaan aku merasa ada hal yang ganjil. Suasana yang tadinya biasa, seketika berubah menjadi tidak enak. Angin malam yang berhembus sangat dingin itu tiba-tiba saja hampir tidak terasa lagi. Aku melihat ke sekitar, disini benar-benar tidak ada siapa-siapa.

Aku mulai merapat kepada teman-temanku, perasaanku mulai tidak enak dan sangat tidak enak. Antara takut ketahuan kami masuk diam-diam kesini dan ada perasaan lain. Ada sesuatu yang bergerak mengalihkan perhatianku, jaraknya tidak jauh dari tempat kita memancing. Seperti ada sesuatu yang bergerak, cukup besar yang berada didepan kami itu. Aku mulai sedikit bangkit dan mulai menajamkan mataku “apaan sih itu kayak ada yang main air” namun pertanyaanku itu belum sempat terjawab karena ada yang memakan umpanku di pancing.

Pancinganku melengkung, sepertinya ini tangkapan yang sangat besar. Aku langsung bergerak ke tepian dan aku menancapkan kaki ku di bibir danau sambil menarik pancingan dan temanku yang lain membantuku sambil satu teman mengambil ember yang besar. Kami bertiga berusaha menarik pancingan dan ketika kami tarik, kail pancingan sudah dekat tiba-tiba. Astaga! Sesuatu meloncat dengan cepat dari dalam air.

Sesuatu berwarna putih dan dengan cepat masuk lagi kedalam air. Aku menatap ke arah sekitar, temanku yang lainpun kebingungan. Yang pasti itu bukan ikan, bukan juga buaya atau makhluk air sejenisnya. sosok itu meloncat dari dalam danau hanya untuk mengagetkan kami dan masuk lagi ke dalam air. Sosok apa itu! Karena mencoba menarik pancingan tadi, kakiku yang berada di bibir danau kini semakin tertancap di tanah-tanah yang sedang basah.

Aku berusaha mengeluarkan kakiku dari bibir danau dan sangat susah sekali. Ketika aku mencoba dengan sangat kuat mengeluarkan kakiku tiba-tiba muncul sesosok makhluk menakutkan berwarna putih pucat menarik aku. Kedua temanku yang lain berusaha membantuku, menarik tanganku dan kali ini ternyata bukan cuma tangan tapi terlihat menyembul juga sebuah kepala dari dalam air. Dengan rambut hitam panjang dan bola matanya hitam pekat, wajahnya putih pucat serta urat-urat diwajahnya terlihat begitu jelas.

Sosok itu menarik kakiku dengan sangat erat sambil berteriak. Dengan sekuat tenaga aku mencoba menarik kakiku, dan akhirnya kakiku terangkat lalu kami berlari sekencang-kencangnya meninggalkan peralatan memancing kami dan ingin segera keluar dari tempat ini. Belum sampai kami berhasil keluar tiba-tiba sosok wanita itu kini melayang keluar dari danau pemancingan. Wanita itu terbalut kain putih yang sangat panjang disertai tawa yang sangat menyeramkan.

Tanpa pikir panjang kami semua berlari keluar dari danau itu dan langsung menaiki kendaraan secepatnya ingin segera sampai dirumah. Sesampainya dirumah badanku benar-benar lemas dan kami tidak tau sebenarnya apa yang terjadi. Masih teringat sekali dalam ingatanku sosok wanita itu dan tawanya yang sangat menyeramkan. Saat itu pula aku bercerita kembali, tapi tanggapan dari teman-temanku berbeda.

loading...

Mereka ternyata tidak melihat apa-apa disana. Mereka menarik aku keluar dari danau itu karena aku berteriak-teriak sangat kencang, karena takut terdengar oleh orang. Jadi temanku segera membawaku keluar dari danau itu. Jadi yang melihat sosok wanita menyeramkan itu hanya aku sampai akhirnya aku pun bercerita, dari situ kami tidak sempat ingin memancing malam lagi untuk beberapa waktu. Di danau itu katanya ada penunggunya dan banyak juga yang menganggap tempat itu memang angker.

Tapi yang membuka mataku setelah kejadian itu adalah kadang kehadiran makhluk halus itu bisa terasa subjektif meskipun kita bersama-sama teman kita. Bukan kita mempunyai kelebihan kita dapat melihat mereka tapi semata-mata karena kita adalah orang yang terpilih oleh makhluk itu.

Share This: