Darah

Hai, perkenalkan. Namaku Nalia (21), panggil aku Lia. Aku temannya Gina satu kelas. Ini kejadian yang aku alami sudah beberapa tahun lamanya. Aku bukanlah orang yang takut terhadap apapun, kecuali “Darah”. Dari kecil, aku sebenarnya tidaklah takut dengan darah, tapi karena kejadian tragis yang menjadi trauma yang berkepanjangan padaku sampai sekarang.

Saat aku SD kelas 5, aku memiliki seorang teman sebut saja Tia (aku gak berani sebut nama dia sampai sekarang, aku takut). Tia adalah teman sebangku. Tia adalah anak yang baik, ramah dan ceria. Aku senang berteman dengannya, kemanapun kami selalu bersama, makanan kami selalu berbagi, bila ada yang uang jajan salah satu dari kami yang habis, kami selalu saling bergantian membandari jajan atau ongkos. Temanku yang paling baik adalah Tia. Sampai suatu ketika, aku harus berpisah sama Tia.

loading...

Pagi itu, gak seperti biasanya, Tia yang selalu cerewet dan aktif, ini malah menjadi anak yang diam dan pemurung. Awalnya aku kira dia sakit, tapi katanya dia baik-baik saja. Wajahnya aku lihat juga tidaklah pucat seperti layaknya orang sakit, tapi kelakuannya yang membuatku aneh. Sudah berhari-hari Tia seperti itu. Bukanlah aku saja yang heran dengan kelakuannya, tapi teman-temanku juga bahkan sampai guruku.

Karena wali kelasku semakin resah melihat sikap Tia belakangan ini, wali kelaspun menyuruh Tia untuk memanggil orang tuanya agar wali kelasku bisa tahu permasalahannya apa. Keesokan harinya, Tia hanya datang seorang diri, tanpa ayah atau ibu. Wali kelasku yang sudah menyuruh Tia untuk memanggil orang tuanya, tapi Tia malah bilang “Bu. Saya gak bisa bawa orang tua saya. Mereka sibuk.”

Aku sangat bingung dengan Tia. Semua hal sudah aku tanyakan sama dia. (Pertanyaan dipersingkat) “Tia, kamu kenapa begini? Kamu sakit? Siapa yang melukaimu? Sibuk apa ayah ibumu?” begitulah kira-kira pertanyaanku kepadanya selama berhari-hari. Tapi Tia hanya menjawab dengan “aku gak apa-apa. Aku sehat. Tidak ada yang melukaiku. Ayah ibuku setiap hari selalu sibuk dan aku sendirian.”

Aku sangat bingung. Kenapa kamu Tia? Akhirnya secara diam-diam, aku mencoba untuk kerumah Tia tanpa sepengetahuannya. Dan, astaga! Ternyata orang tua Tia sedang bertengkar hebat. Aku hanya melihat orang tuanya Tia saja. Aku tidak melihat Tia. Kemana kamu Tia? Aku berusaha untuk mencari Tia, ternyata dia sedang berada dikamarnya, sambil mengintip dibalik jendela kamarnya, aku melihat Tia yang menangis ketakutan sambil memeluk sebuah boneka.

Apakah kelakuan Tia belakangan ini ada hubungannya dengan pertengkaran kedua orang tua Tia? Keesokan harinya, aku bilang ke Tia kalau semalam aku kerumahnya, melihat kedua orang tuanya bertengkar hebat sampai memecahkan perabotan rumah tangga dan aku juga bilang kalau aku melihat Tia sedang menangis ketakutan. Setelah aku tanya, apa penyebab kedua orang tuanya Tia bisa bertengkar hebat seperti itu.

“Ini karena kedua orang tuaku sama-sama sibuk. Mama sibuk sama kerjaannya dan papa juga. Aku gak ada yang mengurusi dirumah, hanya mbaklah (pembantu) tadinya yang menjagaku, tapi setelah mbak sakit dan pulang kampung, mama dan papa tidak sempat untuk mencari pembantu lagi. Terus, papa dipergoki mama sedang pacaran sama sekertarisnya dikantor, papa pun juga bilang, pernah memergokin mama berdua dengan seorang pria dicafe. Makanya mereka setiap hari selalu bertengkar, saling menyalahkan dan saling tuduh. Aku takut bila kedua orang tuaku bertengkar. Aku nangis. Aku gak kuat.”

Mendengar penjelasan dari Tia, aku baru paham. “Maafkan aku, Lia. Aku gak kasih tahu ini ke kamu, aku gak mau siapapun tahu kalau orang tuaku begini. Orang tuaku selalu sibuk, sibuk bertengkar dan bekerja, tanpa memperdulikan aku”. Aku sungguh sangat cemas dan kasihan melihat Tia. Sampai suatu ketika, hal tragis ini terjadi. “Lia. Antarin aku ke toilet yu”. Kemudian aku tanya “kamu mau minta diantarin buang air kecil?” Lia jawab “Tidak. Aku mau ngajak kamu ke toilet untuk pamitan”.

Karena semakin heran, aku tanya sama Tia, kenapa? Pamit mau kemana? Tia malah menarik tanganku. Sampai ditoilet, Tia menunjukkan sebuah pisau kecil yang disimpannya di kantong roknya. Sebelumnya dia bilang sama aku “Lia, aku mau pamit sama kamu. Aku mau pergi. Aku mau menyusul si Mbah (kakek). Aku sudah rindu sama dia. Percuma aku disini, gak ada yang perduli sama aku, gak kayak si Mbah, yang sayang sama aku. Lia, semoga kamu bisa mendapatkan kawan baru lagi”.

Singkat cerita, setelah aku berdialog sama Tia, Tia pun memotong urat nadinya dengan pisau. Darahnya mengalir keseluruh tangannya dan bajunya. Semua terpenuhi oleh darahnya, dimana-mana darah. Aku takut sekali melihatnya. Aku hanya bisa menangis. Sebelum melakukan bunuh diri, Tia bilang sama aku, kalau dia tahu cara ini karena mamanya sempat ingin melakukan bunuh diri juga, tapi tidak jadi.

Dia melihat cara apa yang akan dilakukan mamanya dan akhirnya dia lakukan agar dia bisa nyusul si Mbahnya. Akhirnya Tia meninggal dunia setelah darah dari nadinya banyak terbuang, dilantai, dibaju bahkan sampai juga beberapa tetes ada di wajahku. Tia! Maka dari itu, sejak kematian Tia yang bunuh diri didepan mataku, aku sampai sekarang jadi takut sama darah, walau hanya setetes. Sekian.