Dendam Seorang Teman (Hantu Raya)

Hai sahabat KCH, namaku Mila. Aku tinggal di Bandung. Gini, aku mau menceritakan kisah nyata temanku. Dua bulan lalu sebelum tahun baru 2013, salah seorang temanku meninggal dunia. Innalilahi, pikirku. Saat itu, aku duduk baru kuliah semester 2. Nama temanku itu Raya (samaran, aku tidak mau menjelek-jelekan). Dia meninggal karena depresi, namun sampai saat ini kami tidak tahu apa penyebabnya.

loading...

Saat tahun baru tiba, kami semua anak-anak kuliah sekelas kumpul di tempat makan yang tidak terlalu jauh dari villa kami. Aku, dan dua temanku ( Dinar dan Puti) datang terlambat karena karena kami sempat membeli makanan tambahan untuk acara tahun baru. Biasalah, kami Barbeque (BBQ) dan membakar jagung bersama-sama. Tanpa sadar, sudah larut malam dan waktunya berganti acara. Agus, Zulfi dan Najwa mengambil kembang apinya. Tempat acara kami berbatasan dengan kebun kelapa.

Dinar : Jadi ada yang kurang ya, tanpa Raya. Semoga dia tenang di sisi Tuhan.
Aku : Iya, apalagi meninggalnya kan, gara-gara depresi. Padahal selama ini dia baik-baik saja.

Karena sudah terlalu larut, kami pun berencana beristirahat di Guest House milik salah satu temanku, Vina. Dulu saat tahun lalu, kamar salah seorang temanku (aku samarkan namanya Cici karena dia yang minta) dipakai oleh Raya. Saat jam 3 malam, cici mengetuk pintu kamarku, Dinar dan Puti. Dia bilang, aku suruh menemani dia. Padahal, sebelumnya, dia suka tidur sendiri. Aku pun menemaninya. Setengah jam kemudian, hujan turun sangat lebat. Terpaksa cici menutup jendelanya yang awalnya dibuka. Kemudian, kami pun tertidur. Tak lama, terdengar dari kamar mandi suara orang mandi.

Cici : lu mandi pagi banget, La. ( masih kondisi pejam mata).
Aku : Lu kali, aku dari tadi masih meringkuk di selimut. Kami pun saling bertatapan, kaget.
Cici : cek deh La, aku takut. Aku mengeceknya. Tidak ada siapa siapa. Aku tertidur kembali. (Dor, dor, dor!!) Dinar dan Puti menggedor kamar kami

Saat kutanya, mereka bilang ada sesosok wanita disana. Memakai baju ungu dan rok hitam. Lho, seperti kondisi raya saat akan wafat. Puti dan Dinar pun tidur bersama kami. Terdengar dari atas, rak buku di bawah jatuh, juga beberapa lukisan. Vina menengoknya. Kami semua juga. Kemudian, salah seorang temanku yang di anugerahi indra ke enam berkata “please Ray, kita semua minta maaf kalau agak tidak pedulikan kamu, dan saat itu kita baru sadar kalau cerita itu hoax. Sorry kita gak langsung ke pemakaman lo hari itu. Tapi kita mohon, jangan ganggu kita”.

Dan akhirnya kita semua tau itu adalah dendam Raya. Saat beberapa hari jelang kematiannya, tersebar dia menghianati anak sejurusan. Kami menjauhinya atas perintah Sisil (samaran) dan kami tidak tahu akan menjadi seperti ini. Tahun-tahun berikutnya, kami juga menginap di Guest House, Vita.

Arwah Raya seakan masih rindu di tempat itu, dia sering menampakkan diri disitu. Juga di kursi kelas, beberapa temanku yang pernah sendirian di kelas melihat Raya dengan gaya khasnya, memakai rok hitam dan kuncir kuda. Maaf kalau kurang seram, lain waktu akan saya ceritakan lagi.