Di Curinya Jubah Pusaka Temanku di Ranu Kumbolo Bagian 2

Sebelumnya di curinya jubah pusaka temaku di Ranu Kumbolo. Dini hari kedua temanku perempuan yang bernama Moeyin dan seorang teman lelaki bernama Triyo, memutuskan untuk mulai mendaki Mahameru dari Rakum. Hal tersebut terpaksa kami lakukan karena aku, Jamal dan Yoga mengalami masalah pada kaki, tidak mungkin bila dipaksa untuk jalan ke Kalimati. Triyo ini kawan yang berasal dari Padang Panjanh, dengan kultur Minang yang kental sebagai calon pewaris kekuasaan suku. Tentu saja dia memiliki sesuatu yang berkaitan dengan hal gaib, hal yang sebetulnya tidak dia kuasai, sebagai remaja masa kini yang lebih tertarik dengan sains.

“Wak, jangan-jangan entar aku kenapa-kenapa di atas, kamu yakin gak ikut?” tanya dia kepadaku.
“Aku gak mungkin ikut Nil, kakiku masih belum pulih lagian kasian anak-anak juga kalau ada apa-apa. Kamu takut dikerjain? Kan sudah kubilang taruh saja di rumah, gak usah dibawa” jawabku padanya.
“Jan**k, mana bisa aku begitu-begituan. Aku dikasih cuma ditempelin, gak diajarin gimana ngelolanya” jawab Triyo.

“Oh iya ya, *yawis pokoke bismillah saja, jangan ngelamun, jalan terus pandangan ke depan, kalau lelah ajak ngobrol Moeyin. Kalau sore kamu belum turun, aku nyusul ke atas” terangku guna menenangkannya.
“*Yawislah kalau gitu, kami berangkat dulu ya” pamitnya kepada kami.

Selepas itu, kami yang di tenda beristirahat, sambil beberapa kali jalan-jalan untuk mengusir bosan dan melemaskan kaki kami agar siap untuk perjalanan pulang besok. Alhamdulillah, setelah waktu ashar kedua kawan kami kembali dengan selamat, meski gagal muncak karena badai angin terjadi di puncak, mereka berdua dipaksa turun oleh pendaki yang turun dari puncak. Di sisa hari tidak ada kejadian luar biasa yang kualami, hingga aku berangkat tidur dan terbangun keesokan harinya.

Hari terakhir kami di Ranu Kumbolo kami mulai mempersiapkan diri untuk pulang, mulai dari bebersih hingga basa-basi berpamitan dengan pendaki lain. Ditengah kegiatan tersebut, Triyo berujar bahwa semalam badannya merasa panas pada bahu dan anehnya lagi, meski dia berusaha untuk membangunkanku bahkan dengan cara menindih tubuhku, aku tetap tidak bangun. Ya saat itu aku hanya berpikir bahwa badanku mulai rileks sehingga melampiaskan rasa capek di hari sebelumnya, dengan tidur sangat nyenyak.

Siang itu kami menempuh perjalanan menuju Ranupani, kemudian sesampainya di Ranupani kami mulai naik truk dan tidur di bak truk untuk menuju Tumpang. Saat itulah keanehan terjadi, sesaat setelah aku yakin bahwa aku tertidur muncul sesosok bayangan wanita dari bahu kiri Triyo menujuku, yang tidur di sebelah Triyo, spontan saja aku menepis “serangan” tersebut yang aku sendiri tak tahu bagaimana melakukannya. Setelah itu aku merasa kembali menuju Rakum namun di tengah perjalanan, serasa ada pembatas yang menghalangiku untuk masuk ke area Rakum.

Sehingga kemudian muncul sesosok lelaki dengan pakaian masa kerajaan Hindu-Bali sambil membawa keris kecil (saya jelaskan di NB mengenai keris ini), tiba-tiba scene berganti setting, lelaki tersebut berbincang dengan seorang yang bertubuh agak pendek, gempal dengan menggunakan pakaian atau selendang putih yang menutup bagian bawah tubuhnya, sisanya diselempangkan di bahu dan sebagian bagian atas tubuhnya. Yang kutangkap dari obrolan mereka berdua hanyalah, lelaki kerajaan tersebut mengaku dari Majapahit dan menanyakan apa yang sebenarnya menimpa kami.

Mendadak adegan lain muncul, nampak kami berlima tidur di dalam tenda, di malam hari. Kemudian tiba-tiba muncul kuku panjang berwarna hijau dari dalam tanah, menusuk tepat di bahu kiri Triyo dan mencabik sesuatu dari dirinya, makhluk perempuan tersebut langsung lari menuju pepohonan di kanan camp kami dan disitu aku melihat ada jubah emas tergantung di pohon tersebut. Setelah itu aku langsung terbangun, kubangunkan Triyo.

Aku (A): eh, kamu pamitan sama siapa saja ke sini?
Triyo (T): pamitan bapak-ibu, sama Uni yang di Wonokromo.
A: *hem, yakin gak pamitan sama sesepuh Desa?
T: nggak sih, kenapa?
A: ada yang diambil dari kamu, semacam jubah.
T: (langsung menyela) hah? Warnanya emas? Di bagian bahu ada semacam siripnya, ya gak kayak kut*nglah intinya.

A: ho oh, dari siapa itu? Kan sudah kubilang, lepas apapun yang menempel di kita.
T: aduh, itu dari nenekku sudah nempel dari aku kecil. Lah aku mana bisa nglepasnya, kan kamu tahu sendiri aku gak bisa gitu-gitu. Ya dikasih saja, makainya buat apa saja aku gak bisa.
A: iya yang ngambil cewek, dari pepohonan di sebelah kanan danau.
T: nah itu aku ada filling dari semalam, rasanya kayak diserang bukan panas sakit. Lah kamu tak enj*t-enj*t gak bangun *blas, gerak saja enggak.

A: kayaknya mereka tricky, malam pertama tidurku gak nyenyak, berasa kita diawasi maling. Mungkin diawal jubahmu sudah diincar tapi mungkin karena aku saat itu awas, gak ada yang berani masuk. Baru semalam aku disirep deh kayaknya.
T: ya bisa jadi sih, aduh terus gimana ya hilang gini. Ambilkan lah kalau bisa.
A: *buset, kamu kira aku dukun? Aku ya gini-gini saja, sama lah kita. Sudah ikhlasin saja, mau gimana lagi coba?
T: ya ikhlas sih nggak tapi ya iya, gimana lagi coba.

Setelah itu hingga sampai Surabaya kami memilih untuk diam dan tidak membahasnya lagi, hingga dua tahun setelahnya di Ranu Kumbolo.

T: bro,jubahku sudah gak ada ya?
A: iya, yang ngambil juga gak terasa.

Obrolan singkat sempat terhenti beberapa detik, hingga aku berucap lagi.

A: sudah gak usah dibahas, pada kesini semua. Kayaknya nyadar kalau kita lagi cari sesuatu disini.
T: *haha iya, sampai berdiri semua buluku. Sudahlah.

loading...

Kejadian tahun 2014 di Semeru merupakan pendakian paling berkesan hingga saat ini, sebelumnya aku gak pernah berpikir mengalami kejadian dramatis seperti itu. Ya, dari hal itu aku memahami bahwa sekat antara dunia kita dan mereka sangatlah tipis. Sekian dan terima kasih.

NB : side story. Oke perihal keris itu juga hal yang sangat dramatis, sebelum pendakian aku tidur di kontrakan temanku. Baru saja aku merasa tertidur, kemudia aku merasa bermimpi aku diberi keris kecil oleh sosok lelaki berpakaian kerajaan (sosok yang sama persis dengan cerita di atas) dan beliau hanya berujar “Badar”. Sebangunnya dari mimpi itu, aku WA seniorku yang memang paham hal gaib, dia berkata bahwa sosok itu meminjamkan keris kecil itu bila nanti aku harus mengalami sebuah pertempuran atau pertarungan. Ya kurasa tak perlu butuh waktu lama, untuk mendapatkan jawabannya karena memang keris kecil itu kemudian menjadi semacam kunci masuk ketika aku sulit masuk ke area Rakum untuk mengejar sosok perempuan di cerita di atas. Dengan keris kecil itu, aku jadi tahu apa yang sebenarnya menimpa Triyo.

Dewangga Putra Adiwena

Seorang profesional di bidang tata ruang, bapak dua anak lelaki, suami dari seorang wanita, penikmat ketinggian. Aku bisa dihubungi via [email protected] atau twitterku dengan nama @dewayangitu.

All post by:

Dewangga Putra Adiwena has write 2 posts

Please vote Di Curinya Jubah Pusaka Temanku di Ranu Kumbolo Bagian 2
Di Curinya Jubah Pusaka Temanku di Ranu Kumbolo Bagian 2
Rate this post