Di Curinya Jubah Pusaka Temanku di Ranu Kumbolo

Mendaki gunung Semeru menjadi dambaan hampir seluruh pendaki di Jawa, bahkan yang bukan seorang pendaki juga ingin menaklukan gunung Semeru. Pemikiran tersebut juga menguasai pemikiran aku dan kawan-kawanku, kawan selama kuliah di salah satu Institut Teknik Negeri di Timur Surabaya. Alhasil kami bertujuh, satu perempuan dan enam lelaki memutuskan untuk mendaki gunung Semeru, namun dua tujuan dimana satu kelompok ingin ke puncak Mahameru sedangkan kelompok lainnya hanya ingin camp ceria di Ranu Kumbolo.

loading...

Hari yang disepakati telah tiba, kamipun berangkat ke Semeru, kami tiba di Ranupani tepat pagi hari dan memulai dan mengakhiri perjalanan di Rakum saat hari masih terang, kami tiba di Rakum sekitar pukul empat sore. Lalu kami melakukan aktivitas biasa, seperti mendirikan tenda, memasak, berbincang namun satu hal yang berbeda saat itu ialah ketika saya harus memijat kaki teman-teman yang baru pertama mendaki.

Hari berganti dari sore menuju petang, kami berbincang dalam kesenyapan karena kami mendaki di saat hari kerja, maka saat itu Rakum cukup sunyi, tidak sampai 5 tenda di Rakum. Keganjilan terjadi saat malam hari, ketika kami tidur. Saat itu kami mendirikan tenda, sebutlah tenda A yang kuhuni bersama dua teman lelaki dan seorang teman perempuan. Lalu ada tenda B yang dihuni tiga orang lelaki.

Di malam pertama, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak, aku merasa bahwa banyak sekali mata yang mengawasi kami. Karena hal itu, aku berinisiatif menata ulang perlengkapan yang sengaja kami tinggal diluar, kumasukkan beberapa benda yang kuanggap jadi incaran maling. Namun perasaan itu tidak hilang, ya karena aku terbiasa mendaki sebenarnya aku merasa wajar karena bisa saja itu reaksi dari otot yang belum rileks karena perjalanan. Kemudian malam terlewat begitu saja, bahkan aku tidak menggap bahwa perasaan semalam adalah satu hal penting yang menjadi awal dari kisah di hari berikutnya. Bersambung di curinya jubah pusaka temnku di Ranu Kumbolo bagian 2.

Nb: Ini merupakan kisah nyata yang dialami oleh penulis dan rombongan, hal-hal gaib yang terjadi dalam tulisan ini, sebenarnya penulis ragukan hingga kini apakah hal ini benar-benar pernah terjadi atau hanya bayangan di otak penulis saja. Karena penulis bukanlah seorang ahli dalam hal gaib dan sebagainya.

Dewangga Putra Adiwena

Seorang profesional di bidang tata ruang, bapak dua anak lelaki, suami dari seorang wanita, penikmat ketinggian. Aku bisa dihubungi via [email protected] atau twitterku dengan nama @dewayangitu.

All post by:

Dewangga Putra Adiwena has write 2 posts

Please vote Di Curinya Jubah Pusaka Temanku di Ranu Kumbolo
Di Curinya Jubah Pusaka Temanku di Ranu Kumbolo
Rate this post