Di Ikuti Hantu Kepala Buntung

Hai, ketemu lagi dengan resta. Ini merupakan cerita ke-5 ku di KCH. Sebenarnya ini bukan cerita nyataku sih. Tapi cerita adik ipar sepupuku. Oke langsung saja ya. Sedari kecil, aku sudah biasa hidup mandiri. Sekarang usiaku sudah 23 tahun. Aku mempunyai sebuah usaha. Aku membuka kios penjualan kaset DVD di sebuah pasar. Pasar itu selalu buka malam hari dan biasa disebut dengan pasar senggol.

Aku membuka usaha ini bersama-sama dengan kakakku. Malam itu penjualan kaset cukup ramai. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dan kulihat lapak-lapak maupun kios-kios para pedagang di pasar sudah hampir tutup semua. Para pengunjung pasar pun sudah tidak ada. Akhirnya aku dan kakakku memutuskan untuk menutup kios dan langsung pulang. Jarak antara rumah dan kios sekitar 1 jam perjalanan.

Karena kakakku sudah berkeluarga jadi dia sudah punya rumah dan tidak tinggal denganku. Tapi jalur rumah kami sama jadi aku menumpang sepeda motornya. Sampai di rumahnya, sebenarnya aku di suruh menginap karena malam semakin larut. Tapi karena jarak rumah kakak dan rumahku hanya setengah kilo meter. Maka aku memutuskan untuk langsung pulang saja dengan berjalan kaki.

Jalan yang aku lewati sebenarnya sangat sepi. Dan harus melewati kebun tebu yang sangat luas. Di tengah-tengah kebun tebu terdapat sebuah peternakan ayam atau yang biasa disebut pitikan. Tak terasa aku sudah jalan sampai peternakan ayam. Ku lanjutkan perjalanan. Setelah melewati peternakan ayam, aku harus melewati sebuah kebun yang sudah tidak terurus karena pemiliknya sudah meninggal.

Tepat di depan kebun itu perasaanku sudah tidak enak. Seperti ada seseorang di belakangku. Tapi aku tetap lanjutkan perjalanan. Halusinasi saja pikirku. Tak sengaja aku menoleh ke belakang. Ternyata benar ada orang. Tak apalah untuk teman kataku. Tapi sebagian leher ke atas tertutup kabut jadi tidak terlihat wajahnya. Setelah berjalan beberapa lama aku melihat ke belekang lagi.

loading...

Oh, astaghfirullah. Ternyata orang tersebut tidak punya kepala. Langsung ku percepat jalanku tapi orang tersebut juga jalan semakin cepat. Ketika aku berhenti orang tersebut ikut berhenti. Aku berjalan. hantu kepala buntung itu ikut berjalan. Jantungku berdegup kencang rasanya. Baru kali ini aku bertemu hantu kepala buntung. Rasa takut menguasai diriku. Namun semakin aku berjalan, hantu itu tetap saja ikut berjalan.

Ku lihat di depan masih harus melewati perkebunan tebu lagi dan rumah warga belum terlihat. Maka aku putuskan untuk kembali ke rumah kakakku. Aku berhenti sejenak mengatur strategi untuk lari dari makhluk ini. Aku baca doa-doa seingatku dan langsung saja aku berbalik badan dan lari sekencang-kencangnya melewati hantu kepala buntung itu. Aku sudah tidak mau melihat ke belakang lagi.

Ketika tiba di rumah kakakku langsung saja aku ketuk-ketuk pintunya. Dan setelah dibukakan langsung aku ceritakan pengalamanku barusan. Lalu aku disuruh menginap saja di rumahnya. Aku terima saja tawarannya dari pada harus pulang ditemani kepala buntung lagi. Mulai saat itu akhirnya aku tinggal di rumah bibiku yang dekat dengan pasar tempat aku berjualan kaset. Sekian. Maaf kalau tidak seram.