Di Ikuti Hantu Penunggu Gedung Kesenian Bandung

Namaku Wahyu, tapi kebanyakan orang memanggilku Piit. Cerita ini bermula ketika aku pulang dari sebuah gedung kesenian didaerah kota Bandung pada tahun 2009 lalu. Saat itu selepas maghrib aku merasa tidak enak badan. Tapi aku masih bisa menahannya sampai akhirnya latihan teater berakhir pada jam 8 malam. Langsung saja aku membeli obat penangkal masuk angin, karena aku kira ini adalah gejala masuk angin.

Setelah itu aku kembali kedalam gedung kesenian dan lalu duduk dikursi penonton untuk mengistirahatkan badan sejenak. Teman-temanku satu persatu pamit untuk pulang meninggalkanku sendiri. Dan astaga ketika aku melihat jam ternyata sudah jam 9, ternyata aku ketiduran dan pemandangan didalam gedung kesenian itu sudah agak gelap hanya lampu kecil yang dinyalakan dan lampu gedung utama atau lampu besar sudah dimatikan, mungkin karena tidak ada yang akan latihan kembali, biasanya sih sampai jam 10 malam masih ada yang berlatih.

Aku bergegas dengan cepat membereskan barang bawaanku, sampai pada akhirnya aku terdiam karena aku mendengar suara wanita seperti “*ehem”. Setelah aku diam dan mencoba menajamkan indra pendengaranku ternyata tidak terdengar suara apapun. Dan disaat aku akan melangkah pergi aku mendengar suara itu lagi “*ehem”, aku berusaha untuk tidak melakukan pergerakan apapun, berharap aku mendengar suara itu lagi, hanya untuk memastikan bahwa yang aku dengar itu benar-benar terjadi.

loading...

Sampai pada akhirnya aku benar-benar mendengar suara wanita itu “*ehem” dipojokan gedung kesenian ini. Dan aku tahu sosok makhluk halus wanita itu ingin menakutiku. Dengan sedikit kesal aku berkata “silahkan kalau mau mengganggu, aku tidak takut”. Ya, aku *sompral (ucapan menantang/sembarangan) pada saat itu.

Setelah melihat jam ternyata sudah jam setengah 10. Aku berjalan sedikit cepat dikarenakan aku takut ketinggalan kereta. Ya, aku harus naik kereta untuk pulang karena rumahku dikabupaten Bandung, tepatnya di Cigentur, Majalaya. Karena teater adalah hobi sejak berada dibangku SMA, jadi untuk jarak yang jauh dari rumah menuju tempat latihan, itu bukan halangan bagiku.

Singkat cerita aku sampai distasiun Cikudapateuh pada 21.45 malam dan keretaku datang pada 21.50 malam, aku bersyukur tidak sampai ketinggalan kereta, aku langsung membeli tiket kereta, baru hanya beberapa langkah meninggalkan loket, ada pengumuman yang memberitahukan bahwa kereta akan datang terlambat, mungkin kereta baru akan datang pada jam 23.00 “sial” kataku dalam hati.

Beberapa orang mulai meninggalkan stasiun itu untuk pulang menggunakan alat transportasi lain. Dan hanya menyisakan beberapa orang saja yang duduk saling berjauhan. Aku duduk dipojokan agar aku bisa bersandar karena aku masih merasa tidak enak badan. Aku putuskan untuk memejamkan mata sejenak, siapa tahu badan bisa rada mendingan. Lalu tiba-tiba saja dikeheningan malam samar-samar aku mendengar suara ketawa kecil wanita “*hihihi”.

Sontak aku membuka mata dan melihat sekeliling, dan tidak ada calon penumpang wanita atau pedagang wanita pada saat itu. Karena aku sedang sangatlah capek sekali, aku mencoba untuk menghiraukan suara itu sampai akhirnya jelas sekali ditelinga sebelah kiri ada suara wanita yang berbisik “ikut”. Aku membuka mata kembali dan berusaha untuk tenang, aku tahu bahwa ini mungkin sosok wanita yang menggangguku dari gedung kesenian tadi.

Aku pun lalu berkata dengan nada pelan sedikit menantang “silahkan kalau mau ikut, sejauh mana kamu bisa ikut?” kataku. Ya, aku sompral kembali. Sejak aku berkata seperti itu, sosok wanita itu terus mengganggu dengan suara-suaranya. Singkat cerita kereta yang akan aku tumpangi datang pada 22.55 malam, lalu aku bergegas masuk digerbong belakang. Dan hanya ada 5 orang penumpang saja digerbong belakang itu.

Kereta pun berangkat meninggalkan stasiun Cikudapateuh. Dan aku kembali memejamkan mataku, beberapa saat berlalu ketika aku membuka mata ternyata kereta ini berhenti dan gerbong terlihat gelap, ternyata seluruh gerbong kereta ini mati, dan aku tidak melihat lampu stasiun, setelah aku mencoba melihat keluar, ternyata kereta ini berhenti tepat dibawah jembatan sebelum stasiun Gedebage.

Aku kembali duduk dan ditengah keheningan aku kembali mendengar suara wanita, kali ini aku mendengar tangisan dari wanita itu. Aku mulai merasa takut, karena makhluk halus itu bisa mengikutiku sampai sejauh ini. “Mungkin ini bukan makhluk halus biasa” kataku dalam hati. Lalu tiba-tiba kaca dibelakangku seperti dilempar seperti oleh batu kecil, ketika aku melihat kearah belakang, dan astaga aku kaget karena ada wajah sesosok wanita dengan mata yang sedikit mengambai keluar.

Aku langsung berlari kearah tengah gerbong, berharap menemukan keramaian, dan akhirnya aku duduk ditengah keramaian para penumpang. Aku baru tahu bahwa kereta ini ternyata mogok, singkat cerita aku sampai distasiun Cicalengka pada jam setengah 1 malam.

Aku langsung menaiki angkot jurusan Majalaya yang penuh sesak. Satu-persatu para penumpang turun dan hanya tersisa 2 orang penumpang termasuk aku. Sampai tiba-tiba ditengah perjalanan aku mendengar sopir yang mengucapkan istigfar, tak lama kemudian angkot pun oleng kearah kiri dan sopir melakukan rem mendadak. Ternyata stir patah, dan alhasil perjalanan tidak bisa diteruskan.

Lalu sang sopir menyarankan untuk menunggu angkot berikutnya. Hanya 5 menit berselang alhamdulillah ada angkot, aku dan seorang penumpang wanita langsung bergegas menaiki angkot itu. Penumpang wanita itu memilih duduk dikursi bagian belakang, sedangkan aku duduk dibelakang jok sopir. Aku perhatikan wanita itu sudah paruh baya, dia hanya terus menunduk, sesekali melihat kearahku namun dengan ekspresi ketakutan. Aku sedikit agak bingung, tapi aku tidak memperdulikannya, aku lalu mengobrol dengan sopir, aku mengobrol panjang lebar dengan sopir tentang banyak hal.

Sampai aku bertanya “akang, kalau cuma ngangkut dua orang penumpang seperti ini apa nggak rugi, kan harus beli bensin dan Lain-lain” tanyaku. Akang sopir angkotnya pun menjawab “dua orang gimana, sejak dari tadi cuma akang saja penumpang angkot saya ini. Lalu aku melihat kebelakang dan ternyata penumpang wanita itu sudah tidak ada. Tepat dengan itu ternyata aku sudah sampai dijalan dekat daerah rumahku.

Dan untuk sampai kerumah, aku harus berjalan melewati sawah dan kuburan yang cukup luas. Jam setengah 2 malam. Aku berusaha untuk tidak memikirkan apapun. Mengingat aku harus melewati kuburan. Setelah memasuki kuburan, hal yang tidak aku inginkan terjadi. Aku mendengar suara perempuan yang berkata “*heh” aku terus berjalan, beberapa langkah aku berjalan aku mendengar suara wanita menangis.

Sontak aku mempercepat langkah berjalan dan alangkah sangat terkejutnya ketika ada yang melemparkan tanah dari arah belakang, lalu aku melihat kearah belakang ternyata ada sesosok wanita dengan jubah putih sedang bergelantungan dipohon yang tinggi sambil tertawa sangat melengking. Sejenak aku tidak bisa bergerak dan hanya melihat kearah sosok wanita itu, dan aku mengingat wajah itu, ternyata itu adalah sosok yang aku lihat dikaca jendela kereta api tadi.

Sosok itu terus menerus tertawa, aku mencoba berdoa dengan surat ayat-ayat suci Al-Quran yang aku bisa. Sampai akhirnya aku bisa bergerak dan aku berlari meninggalkan sosok wanita itu. Namun masih saja terdengar suara tertawa sosok wanita itu sambil tertawa sosok wanita itu berkata dengan bahasa sunda, “hayu milu. Hayu milu. *Hihihi, hayu milu” itu artinya “ayo ikut, ayo ikut, ayo ikut”.

Aku terus berlari menuju rumah, beberapa menit berlari aku sampai dirumah, lalu aku mengetuk pintu dengan keras dan aku melihat kesegala arah apakah sosok wanita itu masih mengikutiku. Beberapa saat kemudian ayahku membukakan pintu, dengan wajah yang bingung melihat kearahku, ayahku bertanya “kenapa? Kenapa baru pulang?”. Tiba-tiba saja aku kehilangan pandangan.

Keesokan harinya aku diberitahukan, ternyata aku pingsan. Dan aku mengalami sakit panas. Aku menceritakan semua kejadian yang aku alami kemarin malam kepada ayahku. Dan ayahku berkata bahwa sosok wanita itu sudah mengikutiku sejak dari gedung kesenian tempatku berlatih. Sosok wanita itu mengikuti karena merasa tertantang karena ucapanku yang sompral pada saat itu. Dan ayahku yang sedikit mempunyai ilmu supranatural langsung mengusirnya. Itulah cerita kenyataan yang saya alami pada tahun 2009, setelah pulang dari latihan teater. Terimakasih.

KCH

Wahyu

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Wahyu has write 2,670 posts