Di Kantor Penuh Hantu

Sebuah kantor yang terletak di Jakarta. Kantor ini menyimpan banyak cerita misteri yang sering mengganggu pekerja disana. Dan lagi-lagi cerita ini merupakan kejadian asli, tanpa rekayasa. Tadi siang temen Chuck nelpon ketakutan katanya pas dia lagi di kamar mandi tiba-tiba pintu toiletnya kebanting sendiri. Padahal gak ada hujan gak ada angin di dalam kantornya. Kata dia, pintu yang kedobrak itu bukan satu tapi 2 pintu sekaligus. Dan kejadiannya jam 1 siang.

Sebenarnya “penghuni” kantornya memang jahil. Banyak banget yang sering dijahilin dari yang cuma suara sampe penampakan si “penghuni”. Gak cuma satu-dua “penghuni” tapi banyak, seketika itu juga dengkul Chuck lemas. Waktu itu ada 1 orang yang lembur, sebut saja Agus yang masih berada di kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tidak ada orang, hanya Agus sendiri.

Agus sibuk kerja didepan komputernya, sibuk mengutak-atik pekerjaannya yang masih belum selesai. Sesekali Agus melihat ke kanan kiri, depan dan belakang, berharap ada temannya yang balik ke kantor buat menemani. Sayangnya, itu hanya harapan Agus semata. Suasana saat itu gelap, dan hening, hanya bunyi keyboard yang menemani Agus malam itu.

Agus sibuk mengetik, tanpa memperdulikan sekelilingnya. Saat dia terlarut dengan pekerjaannya, tiba-tiba suara telepon berdering. “Kring Kring” Telepon yang berada di depannya berdering, karena kantor sudah sepi maka suara deringnya sangat nyaring. Sontak Agus kaget bukan main. Sambil mengelus-ngelus dadanya, sembari menenangkan suara jantungnya yang mulai berdetak kencang dan tak beraturan, Agus mengangkat telepon itu.

“Halo,” ujar Agus pelan atau mungkin suaranya tersedak di dalam tenggorokannya. Berharap ada jawaban, Agus kemudian mendengarkan secara saksama suara yang keluar dari teleponnya.

“Krek Krek”

Walau Agus menunggu lama, tapi hanya suara itu yang terdengar di ujung telepon. Karena merasa dijahili, kemudian Agus menutup telepon itu dengan perasaan campur aduk antara marah, dan takut. Bulu kuduk Agus mulai berdiri, suasana malampun semakin mencekam. Udara di sekitar Agus mulai menyesakkan, seolah ada tangan kecil yang mencekik lehernya.

Karena Agus teringat kerjaannya, dia coba memberanikan diri dan coba untuk menyelesaikan tugasnya. Kembalilah jemari Agus mulai menekan-nekan tombol keyboard, menciptakan kegaduhan kecil. Beberapa menit setelah itu, telepon kembali berdering.

“Kring Kring”

loading...

Karena Agus sudah lelah dan cape, Dia mengangkat telepon itu dengan marah, dan jengkel. “Halo!!” bentaknya. “Ini Siapa? jangan bercanda dong lagi banyak kerjaan nich” Bentak Agus dengan nada yang lebih tinggi lagi Tiba-tiba. Keluarlah suara pelan dari ujung telepon.

“Mas.. bisa angkat kakinya? Rambut saya ke injak mas” dengan suara pelan dan tertatih. Muka Agus mendadak menjadi pucat, jantungnya serasa copot, dan perutnya mules gak karuan. Agus sadar, hanya dia saja yang masih berada di gedung itu. Telepon itu juga gak bisa dipake untuk telepon keluar, hanya untuk extension. Jadi tidak mungkin telepon itu dari rekan kerjanya.

Seketika itu juga Agus langsung keluar ruangan. Dengan tunggang langgang dia berlari sekuat tenaga. Agus sudah gak melihat belakang lagi, komputernya pun ditinggalkan begitu saja. Terus kata temen Chuck, besok harinya dia langsung mengundurkan diri. Dan ternyata karyawan lainpun sering mengalami hal yang serupa dengan Agus.

Share This: