Di Larang Bersiul Malam Hari

Aku merupakan mahasiswa baru di salah satu Universitas Negeri Bandung. Aku juga seorang pendatang di kota ini, asalku dari Yogyakarta atau biasa di kenal dengan Jogja. Bandung adalah salah satu kota yang di kenal dengan tempat kuliner, bisa di bilang itu juga alasanku memilih pindah ke kota ini. Ya, aku memang hobi makan. Perutku yang sudah mulai besar ini tidak akan menghentikanku kalau sudah menemukan satu menu makanan yang enak, apalagi makanan pedas.

loading...

Aku sangat suka sekali makanan pedas, apa pun itu pasti aku harus menambahnya. Sampai-sampai inilah yang membuatku bisa bertemu dengan “mereka”. Pagi hari itu, aku mulai dengan sarapan dengan bubur tentunya dengan ekstra sambal. Keringat mulai bercucuran, bukan karena olah raga, tapi karena pedas. Aku memang tidak pernah absen dari santapan yang pedas.

Pagi siang-malam, Sampai entah gara-gara terlalu pedas atau perutku sedang tidak fit pagi itu perutku sakitnya tidak biasa, padahal biasanya tidak seperti ini. Sudah hampir lima kali aku mondar-mandir buang air besar. Semua ini membuatku harus meminum obat sakit perut. Aku tidak bisa kalah oleh sakit, karena sedang ada urusan penting di kampus hari ini. Tapi, dalam perjalanan aku terpaksa mampir di sebuah kost yang sebagian besar penghuninya adalah teman-temanku.

Tidak lain dan tidak bukan, untuk menumpang ke kamar mandi. Dari siang sampai malam, aku terpaksa berada di sana dan tidak bisa ke mana-mana. Kulihat jam sudah menunjukan 11 malam. Aku terduduk lemas di pojokan kamar, dihujani olokan teman-teman yang berkumpul di kamar itu. Tapi, itu cukup menghiburku. Lebih baik sakit ditemani daripada sakit sendirian. Sayangnya, malam itu mereka harus pergi, karena pacar salah satu temanku ada yang berulang tahun. Aku memang diajak ikut, tapi aku memutuskan untuk tidak ikut melihat kondisi perut melilit seperti ini.

Akhirnya, aku ditinggal sendiri terbaring di tempat tidur. Keadaan di sekelilingku sangatlah sepi, sampai terdengar bunyi jangkrik mengitariku. Aku mencoba menghibur diri dengan bersiul. “Lho? Terdengar suara seorang wanita seperti bersenandung?” Aku coba kembali bersiul, dan suara wanita itu kembali terdengar seperti mengikuti suara siulanku.

Aku langsung bangkit dan membuka pintu kamar, tapi tidak kutemukan siapa pun di sana. Malah beberapa kamar lain terlihat gelap seperti kosong, hanya kamar mandi yang berada di luar saja yang terlihat menyala. Aku mengerutkan dahi kebingungan. Mungkin perasaan saja, aku memutuskan kembali masuk ke kamar. Tapi suara senandung wanita tadi kembali terdengar. Aku langsung melihat keluar dan Aku melihat seorang wanita berdiri di dalam kamar mandi.

Dia melihat ke arahku, wajahnya tidak terlihat terlalu jelas. Yang pasti rambutnya lurus panjang, dan memakai kaus putih dengan celana jeans. Wanita itu lalu tersenyum sambil menganguk kepadaku. Dia berjalan keluar kamar mandi. Aku terus memperhatikannya, lalu wanita itu berjalan naik ke lantai dua. Setelah tidak terlihat lagi aku pun masuk ke kamar.

Setelah beberapa kali tiduran, aku lupa dengan kejadian itu dan kembali berkutat dengan sakit perut yang menyiksa. Tidak lama, dari luar terdengar suara tukang nasi goreng. Ada perasaan ingin membeli. Nasi goreng pedas pasti lezat. Tapi, kondisi perut ini sedang tidak memungkinkan, aku pun mengurungkan niat. Aku kembali berbaring dan mecoba tidur saja. Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu. “Siapa?” Suara ketukan itu semakin kencang seakan tidak sabar.

Aku bangkit untuk membukakan pintu. Pelan-pelan aku buka pintu itu. Aku dibuat heran oleh seorang laki-laki yang berdiri di pintu sambil membawa sepiring nasi goreng. Ternyata dia adalah tukang nasi goreng yang tadi kudengar. “Ini nasi buat siapa, Mang?” tanyaku. Dan dengan wajarnya tukang nasi goreng itu berkata, “Loh? Tadi ada cewek pesen nasi goreng. Katanya disuruh diantar ke kamar ini?” Aku jadi bingung mendengarnya.

Cewek? Siapa? Apa mungkin cewek yang aku lihat tadi? Aku pun mengambil nasi goreng itu dan membayarnya. Meski heran, aku tetap menyantap nasi goreng itu. Bukan kenyang yang aku dapat, perutku malah terangsang untuk ke kamar mandi lagi. Rasa mulas itu semakin menjadi. Kulihat jam sudah menunjukan 12 malam lebih. Rasanya malas untuk pergi ke kamar mandi. Apalagi lokasinya berada di luar dan cukup jauh. Aku coba menahannya mulas ini, tapi akhirnya aku menyerah.

Dengan terburu-buru, aku beranjak ke kamar mandi. Di dalam setelah mengunci, aku segera bersiap. “Huft” cukup membuatku lega, tapi mulas ini masih terasa. Ketika sedang asyik-asyiknya setor, kembali ada yang mengetuk pintu toilet. Aku terdiam sejenak, lalu ketukan itu kembali terdengar. “Iya, sebentar lagi.” Ketukan itu pun berhenti. Merasa tidak enak, aku mencoba buru-buru, tapi perutku masih tidak karuan.

Di tengah semua itu, tiba-tiba terdengar suara dan ternyata suara itu berasal dari sebuah ember besar di depanku. Terlihat beberapa gelembung air menyembul ke atas ember yang terisi penuh air itu. Gelembung air itu semakin bertambah banyak. Aku berpikir mungkin ember ini bocor tapi lama-lama ada sesuatu yang nampak ke permukaan air di ember itu.

Semakin lama, benda itu semakin jelas. Terlihat warna hitam berserabut seperti rambut, ternyata itu sebuah Kepala. Muncul sebuah kepala dari dalam ember tersebut dan terlihat wajah seorang wanita. Dengan wajah pucat dan mulutnya menganga sambil bola matanya terlihat putih. Aku langsung menutup mataku sambil membaca semua doa yang aku bisa. Keringat dingin bercucuran entah, berapa lama aku menutup mata ketika aku membuka mata sosok itu sudah tidak ada.

Hanya air yang bergoyang di dalam ember itu. Aku langsung membersihkan diri dan lari keluar kamar mandi. Dan untungnya teman-temanku pun sudah kembali. Di kamar, dengan terbata-bata aku menceritakan apa yang tadi aku alami. Teman kost itupun bilang bahwa di sini memang sering terlihat sosok seorang wanita memakai kaus putih dan celana jeans mondar-mandir.

Konon, ada seorang wanita yang loncat bunuh diri ke dalam sumur yang sekarang dijadikan kamar mandi itu. Maka dari itu tidak ada yang berani ke kamar mandi setelah lewat pukul 11 malam. Katanya juga di kost ini dilarang bersiul saat malam hari. Karena itu sama saja memanggil si Hantu Perempuan ini yang dikenal dengan nama “Tiara”. Siapa yang sangka, gara-gara mulas dan bersiul aku jadi bertemu hantu.

KCH

KCH

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

KCH has write 2,694 posts