Di Sapa Siapa?

Assalamualaikum pembaca KCH. Cerita ke 43 ini adalah cerita dari guru ngajiku. Saking banyaknya pengalaman misteri ketika bercerita, saya pisahkan 1 per 1. Begini ceritanya all, suatu malam, guruku akan menghadiri sebuah undangan pengajian di rumah warga wetan (barat). Karena desa kami luas dan di pisahkan oleh rawa yang dulu gak bisa di lalui, akhirnya di bagi 2, blok wetan (barat) dan blok kulon (timur).

loading...

Dan rumah guruku berada di blok timur. Dan sejak ada kompeni akhirnya bisa di buat jalan aspal untuk menuju daerah-daerah kota dan rawa tidak terlalu cekung/dalam lagi. Dan kini di jadikan perbatasan antara wetan dan kulon, di bangunlah sebuah posyandu dan di belakang posyandu sekitar 200 meter adalah TPU. Kembali ke cerita, ketika pak guru sedang melaju dengan sepeda ontelnya, tiba-tiba di perbatasan desa lampu dinamo sepedanya mati, padahal sebelumnya tidak ada masalah.

Akhirnya pak guru berhenti untuk mengecek atau sekedar memperbaiki, di tengah gelapnya malam dan sepi. Karena saat itu tidak terang bulan dan penerangan di area ini minim. Tapi anehnya ketika di cek tidak ada kerusakan apapun. Tiba-tiba, ada suara orang menyapanya dengan bahasa jawa halus dan sopan “kenapa pak sepedanya, dan mau kemana?” katanya (dalam bahasa terjemahan).

Pak guru menjawabnya tanpa menoleh “ini lampu dinamonya tiba-tiba mati dan mau ke sana”. Ketika selesai menjawab lalu menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang bicara, ternyata. Tidak ada seorang pun, bahkan pak guru mencari ke kanan dan kiri tak melihat siapapun. Lalu pak guru tersadar, bahwa dia berhenti tepat di jalan gang masuk TPU. Dia lalu bergumam dalam hati “oh, ternyata ada yang mau lewat *to”.

Setelah pak guru mulai menaiki sepedannya lagi dan menjauh dari area perbatasan, tiba-tiba lampu dinamonya hidup kembali. Setelah menceritakan ini, dia berpesan pada kami para muridnya, untuk permisi jika melewati tempat angker apalagi kuburan. Jika tidak permisi akan di ganggu, “untung yang menyapa demit baik, kalau ketemu yang jahil gimana coba?” kata pak guru menakut-nakuti kami.

“Bahkan ada juga pedagang yang hendak ke pasar sering di jahili di area angker ini. Itu sebabnya bagi mereka yang sudah tahu sering permisi” kata pak guru lagi.
“Makanya bapak ibumu sering berkata, mbah-mbah anak bedol mau lewat atau cucunya mau lewat, begitu kan?” kata guru lagi sambil tersenyum padaku.

Seolah ia tahu kalau orang tua dwi sering mengatakan itu padaku ketika mengajakku pergi ke rumah simbah (orang tua dari ibu) di desa 13. Aku kaget dan kemudian hanya tersenyum mengerti, karena aku juga sedang memikirkan ucapan orang tuaku. Sekian.
Note: ambil hikmahnya ya kawan, karena kita juga hidup berdampingan dengan mereka yang tak kasat mata.

Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya... :D by: penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts