Di Timpuk Hantu

Assalamualaikum reader setia KCH. Selamat pagi kakak john. Dan salam kenal untuk para member yang sudah menulis cerita disini dengan menyebut nama saya (kok berasa seperti jin ya, disebut-sebut, *hihi). Ok maaf gak saya sebutkan 1-1 yang penting tanpa terkecuali deh, makasih atas respon dan apalah-apalah dari kalian.

Kali ini dwi yang imut alias amit-amit akan kembali mencoret-coret beranda KCH. Kisah ke 51 ini di bintangi oleh saya, ibu dan bude, maksudnya kisah nyata kami alami sendiri. Kala itu budeku yang bernama parsilah (kakak dari ibuku) akan pergi entah kemana saya lupa tujuannya (maklumlah sudah lama). Seperti biasa bude lewat jalan pintas untuk menuju jalan depan/aspal, melewati pekarangan kosong milik tetangga.

Ya maklumlah di desaku masih banyak pekarangan kosong. Nah nantinya jalan pintas ini tembus ke jalan tepat depan lapangan. Namun di pekarang kosong ini berkisar 100 meter dari rumahnya dia di timpuk sesuatu. Benda yang mengenai kepalanya adalah sawo matang. Padahal dia berada tepat di bawah pohon jambu air milik warga yang punya pekarangan.

Karena bude kesal merasa di timpuk akhirnya kepalanya melihat ke atas, dan alangkah kagetnya. Bude melihat ada makhluk lain di atasnya yang sedang menyeringai. Bude langsung lari dan tidak berani pulang ke rumah sendirian. Kemudian keesokan harinya bude bercerita pada ibuku dan lainnya. Waktu itu dwi masih kecil reader, kalau gak salah masih kelas 1 SD.

Nah kali ini dwi dan ibu akan pergi ke acara pengajian di masjid, entah pengajian apa saya lupa. Kami melewati kebun ini, kebetulan pekarangan ini berada sekitar 100 meter juga dari depan rumah dwi. Nah pas kami melawati pohon jambu yang masih berbuah ini, di sampingnya ada pohon petenya juga. Tiba-tiba ada suara kresek-kresek *buk, benda itu jatuh tepat di belakangku, untung saya sudah melangkah 1 kali, kalau tidak mungkin kepalaku jadi sasaran, *hehe.

loading...

Tiba-tiba tercium aroma buah sawo, padahal ini kan pohon jambu. Akhirnya saya kepikiran cerita dari bude, ketika itu juga ibuku langsung berkata. Ayo cepat jalannya, nanti kejatuhan buah lagi. Aku dan ibu tidak menoleh ke arah manapun selain pandangan ke depan dan berjalan cepat, berharap untuk lekas sampai. Mungkin ibu juga tahu jika menoleh-noleh sumber bau akan melihat sesuatu, itu sebabnya ia memintaku untuk berjalan cepat.

Ya otomatis dwi sedikit lari (maklum langkah anak kecil kan gak bisa jauh seperti orang dewasa). Dan alhamdulillah selamat sampai di masjid tanpa melihat hal aneh. Pulangnya kami lewat jalan utama karena ramai dan nyaman (ya maklum jalan aspal, *hehe). Sekian dulu pembaca, ini bukan karangan tapi real. Nama warga pemilik pekarangan sengaja saya sembunyikan, takutnya suatu saat dia baca *hehe. Wassalam.

Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya... :D by: penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts