Dia di Atas

Saya Dan. Sebut saja begitu. Cerita ini berasal dari suatu daerah di Jawa Tengah. Ini bukan hanya sekedar cerita fiktif. Ini kisah nyata yang saya alami. Saya anak desa. Dimana tempat tinggal saya sudah ada beberapa rumah “gedongan”. Tapi masih ada beberapa pekarangang kosong. Waktu itu saya masih nganggur karena baru saja lulus SMK. Maklum masih ngerasa nyaman tanpa beban.

Cerita ini berawal di hari kamis jumat kliwon. Sore hari seperti biasa di desa saya selalu ada tahlil giliran. Saya salah satu anggota tahlil di desa saya. Tahlil dimulai setelah isya dan selesai jam 9 malam. Pulang tahlil ternyata sudah ada teman menunggu di rumah mengajak latihan di studio (Band). Hanya sekedar berganti kostum saja tanpa sempat makan atau minum kami langsung ke studio dimana teman yang lain sudah menunggu.

2 jam kami berjibaku dengan musik dan tepat jam 11.30 malam kami keluar dari studio musik. Malam itu sama dengan malam-malam biasanya. Hanya saja lebih sepi dan lebih dingin dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya. Tak banyak berbincang di pelataran studio, kami semua beranjak pulang karena sudah tengah malam. Kebetulan saya pulang sendiri karena arah menuju rumah saya berlawanan dengan semua teman saya.

Tidak terpikir kalau malam itu adalah malam jumat kliwon. Saya pulang santai dengan sepeda motor. Memasuki gang rumah saya semua sama seperti biasanya. Hanya saja dinginnya berbeda dengan dingin yang saya rasakan saat saya berada di studio tadi. Dan baru kali itu saya memutuskan untuk tidak memacu sepeda motor saya. Saya merasa hanya ingin jalan pelan saja. Memang kalau pulang malam saya sering “ngebut” karena beberapa rumah besar di gang itu kosong.

Ada 3 rumah besar tanpa penghuni hanya saja masih terawat karena setahun sekali saja rumah itu di tinggali. Saya memacu motor saya hanya sekitar 10 km/jam. Sambil melihat tempat nongkrong yang biasanya ramai. Tetapi apes bagi saya. Tidak ada 1 orang pun disana. Melewati 1 rumah besar tingkat tanpa penghuni saya hanya berkata dalam hati. “Sayang ya. Rumah sebesar ini di anggurin. Ditempati kan pasti nyaman”.

Tepat disebelah rumah ini entah kenapa tiba-tiba motor saya mogok. Sama sekali tidak bisa dihidupkan. Jangankan mesin, lampu sign pun tidak menyala. Padahal pagi hari itu saya sudah service bulanan. Saya masih berfikir “masa iya bengkel resmi kok gak benar servicenya?”. Sembari saya cek busi motor saya. Tetapi sama sekali tidak ada masalah. Busi normal. Saya coba untuk hidupkan tetapi tidak mau menyala.

loading...

Sampai saya cek accu motor saya. Tiba-tiba ada bayangan seseorang di belakang saya. Karena terkena sinar lampu rumah itu. Saya pikir tetangga saya yang punya tongkrongan mau bantuin saya. Saya menoleh ke belakang untuk memastikan siapa bayangan itu. Ternyata tidak ada orang. Saya lanjutkan otak atik motor saya. Tapi bayangan itu muncul lagi dan kali ini di depan rumah itu. Rasa penasaran dan rasa takut bercampur jadi satu.

Saya beranikan diri melihat sekitar saya. Tidak ada 1 orang pun selain saya yang ada disana. Setiap saya lihat bayangan itu hilang. Tapi ketika saya fokus ke motor saya bayangan itu ada. Sampai saya cari di pekarangan kosong disebelah rumah itu. Siapa tau ada orang iseng ngumpet pikir saya. Tetapi nihil. Saya tidak menemukan apapun kecuali alang-alang yang sudah mulai subur. Putus asa dengan motor saya yang mogok.

Tidak ada pilihan lain selain mendorong motor. Baru 1 langkah saya mendorong motor tiba-tiba angin bercampur bau wangi bunga tercium seakan ada bunga tepat di depan muka saya. Tak berselang lama berubah menjadi bau busuk seperti bangkai yang sangat menyengat. Pikiran saya mulai tidak jelas.

Merinding, takut dan bingung yang saya rasakan. Saya tetap melanjutkan mendorong motor saya sampai ada suara wanita tertawa melengking yang membuat saya harus berhenti. Dengan rasa yang sudah tidak karuan saya mencoba memberanikan diri untuk menoleh kebelakang. Benar saja dia di atas lantai 2 rumah tersebut.

KCH

Dan

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Dan has write 2,694 posts