Diary Maria

Maria Christine. Ia adalah anak baru di SMA. Ia juga satu kelas denganku. Maria anak yang cantik dengan tinggi sampai bak seorang model, kulit yang putih, rambut panjang terurai dan tampaknya ia juga anak orang kaya. Ya, aku bisa melihat itu. Dari aksesoris yang dikenakannya seperti jam tangan bermerk Guess yang merupakan jam tangan branded, kalung emas dan beberapa cincin emas yang menurutku ia terlalu berani memakai itu semua disekolah.

Di sekolah, Maria menjadi pusat perhatian siapa saja, terutama kaum Adam. Mereka berlomba-lomba untuk unjuk gigi pada Maria. Memberikan perhatian lebih kepadanya. Semua. Mereka semua. Tanpa terkecuali. Bagi para wanita, hanya bisa gigit jari dan menangisi hubungan mereka dengan sang pujaan hati. Putus hanya dalam hitungan hari dan minggu. Itu semua berkat, Maria. Maria memang tak terelakkan pesonanya yang luar biasa.

“Mar, lagi ngapain?” kataku sembari duduk disebelahnya. Ketika itu kulihat dia sedang menulis disebuah buku diary. Kedatanganku, membuatnya cepat untuk menutup diarynya itu. Ya sudah. Pikirku. Namanya juga diary. Itu adalah curhatan rahasia si yang punya. Aku tak menggubris. Kemudian aku tanyakan kejadian semalam dengan Maria. “Apa kau tak tahu, kematian Rio? Kemarin kau habis bersamanya”.

Mendengar itu, Maria hanya bilang “itu kemarin. Tapi, dia matinya semalam. Apa kau menuduhku?” aku pun menjawab “bukan begitu. Masalahnya kejadian seperti ini terus terulang dan selalu terulang belakangan ini. Hal ini membuat sekolah kita di cap sebagai sekolah berantai”. Maria hanya bisa diam kemudian pergi meninggalkanku. Aku gak bermaksud menuduhnya. Dia sudah hampir dua bulan berada disekolah ini.

Tapi hampir selama dua bulan ini juga, kejadian aneh terus berdatangan. Para anak cowok terus mengalami kematian satu persatu begitu juga dengan para anak cewek. Tapi kalau itu adalah sebuah kehendak Ilahi, mengapa disetiap mereka akan meninggal, mereka sebelumnya pasti ngedate, dinner, hangout atau apa saja berduaan dengan Maria. Kemudian selang beberapa hari, mereka ditemukan tewas tak berdaya dijalan raya yang jarang diakses oleh orang, ditaman, gudang atau rumah mereka dan setiap mereka meninggal, pasti tidak pernah ditemukan dompet, ponsel, kartu kredit, jam tangan, perhiasan atau barang berharga yang mereka punya.

Ada apa? Sebenarnya aku salah, telah menuduh Maria secara sepihak. Mungkin memang takdir mereka. Apa memang karena ada rampok yang mau ambil barang berharga mereka, tapi karena mereka melawan, jadi mereka dibunuh dan meninggal? Mungkin. Polisi bingung, jejak tersangka tak pernah ditemukan, walaupun korban sudah mencapai yang ke-9. Dan yang membuat polisi semakin bingung, yang selalu meninggal dalam keadaan kecolongan barang adalah teman-teman yang sekolah disatu SMA denganku dan Maria.

Bagi para cowok maupun cewek. Mereka sama. Meninggal dalam keadaan kerampokan. Polisi bingung, maka aku bertambah bingung. “Ah. Apaan nih. Sepertinya aku mengenal cincin ini? Tapi punya siapa ya?” aku tak sengaja melihat sebuah cincin yang terjatuh tepat disamping bangku Maria. Kemudian tak berapa lama, Maria datang dan merebut cincin yang aku temukan tadi. “Ini cincinku, dari eyang. Kenapa?” aku jawab “gak. Tapi aku kenal ini, seperti cin (terputus)” kemudian Maria menyambung dengan logat sewotnya “cinku. Ini cincinku. Punyaku!”

Melihat Maria yang sepertinya marah, aku cepat hengkang dari situ. Dari luar jendela arah kejauhan, aku melihat Maria yang membuka buku diarynya dan sepertinya dia menulis sesuatu didalamnya. Aku sungguh penasaran ingin melihat isi diarynya tersebut. Karena, selama ini aku perhatikan, Maria selalu menulis di diarynya itu disaat kelas kosong dan disaat sesudah kematian beberapa anak SMA disekolahku. Aku harus tahu isi diary itu.

Aku memiliki sedikit rencana agar aku dapat melihat isi diarynya tersebut. “Mar. Bolehkah aku main kerumahmu?” kemudian ia menjawab dengan nada sedikit ketus “ada apa? Mau ngapaiN kamu kerumahku?” aku menjawab dengan santai tanpa membuat dia curiga “aku hanya ingin bertamu dan selama ini aku belum pernah kerumahmu. Aku juga mau minta maaf kalau selama ini aku menyinggung perasaanmu dan membuatmu marah. Maafkan aku”.

Dia pun memaafkanku dan aku berhasil membujuknya agar aku dapat kerumahnya. Sampai dirumahnya, aku melihat betapa megahnya rumah Maria. Di dalam rumahnya, aku melihat sosok lelaki berbadan tegap sedang menonton televisi. Karena Maria tinggal bersama kakak laki-lakinya dirumah dan orang tua mereka telah lama meninggal. Aku pun dipersilahkan duduk oleh Maria dan Maria masuk kekamar. Diary. Ah! Diarynya berada didalam tasnya dan didalam kamarnya.

Bagaimana aku bisa kekamarnya? Aku harus bisa melihat isi diary itu tanpa ketahuan. Aku memiliki ide brilian lagi agar aku dapat masuk kekamarnya. Saat Maria telah selesai mengganti pakaian dan dia membawakan secangkir minuman untukku kemudian dengan sengaja aku menumpahkan air minum didalam cangkir tersebut ke rok sekolahku. Dari situ, agar aku dapat beralasan untuk meminjam rok atau celananya. Dia tanpa curiga menyuruhku untuk segera ganti rok yang sudah basah itu dengan miliknya dikamarnya.

Tepat didalam kamarnya, dia membuka lemari dan menyuruhku untuk memilih-milih yang mana aku suka dan kemudian dia meninggalkanku sendirian berada dikamarnya. Pintu kamar aku tutup dan dengan cepat aku mencari tas itu, agar aku bisa menemukan diary tersebut. Tanpa sengaja aku melihat ada sebuah kotak kecil dan saat aku buka, ada banyak perhiasan mahal didalamnya dan sepertinya aku mengenal semua perhiasan-perhiasan tersebut.

Saat aku cek, ada satu perhiasan yang gak asing dimataku. Di perhiasan berbentuk gelang tersebut terukir sebuah nama Pon. Ah! Pon? Siapa lagi didunia ini orang yang memiliki gelang berukir Pon, terkecuali Pia. Pon yang bersingkatan nama kepanjangan dari Almarhumah Pia, temanku yang baru meninggal seminggu yang lalu. Dengan kejadian yang sama dengan teman yang lain sebelum Pia.

loading...

Pon atau Pia Olla Nasyah. Pia, teman sekelasku pernah menunjukkan gelangnya, itu adalah pemberian dari kakeknya yang sayang kepadanya. Gak mungkin Maria memiliki ini. Gak. Kemudian aku mencari lagi yang lain, mana tahu ada entah apa lagi. Dan benar saja, aku menemukan sebuah kartu kredit yang sangat banyak didalam sebuah laci kecil tersudut. Tak terhitung jumlahnya. Mana mungkin Maria memiliki kartu sebanyak ini? Untuk apa sama dia? Tak berapa lama, aku menemukan lagi sebuah cincin emas yang aku sangat kenal siapa yang punya.

Dia Juna. Juna selalu memakai cincin ini, walau disekolah. Dia tak perduli. Karena ini hadiah ulang tahunnya dari kedua orang tuanya dan anehnya, Juna juga sudah meninggal 11 hari yang lalu. Aku mulai curiga. Mana? Aku harus cepat mencari diary Maria. Mana? Dimanakah tas itu? Akhirnya aku mendapatkan tas Maria. Dia meletakkannya didalam sebuah ruang gelap. Kenapa? Dengan cepat, aku membuka tas tersebut dan aku langsung mengambil diarynya.

Ya, ini dia yang aku cari-cari. Kemudian aku membawa diary itu kesebuah tempat bercahaya, agar aku dapat membacanya. Di dalam diary tersebut tertulis tanggal dan hari. Ya, tanggal dan hari kematian teman temanku atau anak-anak sekolah satu SMA ku. Di hari kamis, 4 juni, Adit. Barang: kartu kredit 2, uang Rp 1.000.000, kemudian dihari selasa, 9 juni, Anjani. Barang: kartu kredit 1, uang Rp 200.000, jam tangan merek Daniel Wallington Clasic Oxford XL, dan seterusnya.

Aku melihat korban-korban dengan barang-barang berharga mereka. Sampai kulihat daftar korban, dikorban yang terakhir ke-9 yaitu Pia. Ada apa ini? Apa maksud semua ini? Apakah Maria pembunuhnya. Dan kemudian, aku melihat daftar korban yang masih bertuliskan “rencana selanjutnya, ke-10”. Ya ampun. Aku? Aku sangat terkejut, melihat namaku terdaftar sebagai orang selanjutnya, kemudian dari belakangku terdengar, “Kau yang selanjutnya, Delisa”.

loading...