Die Wahrsagerin

Die Wahrsagerin merupakan urban legend dari Jerman tentang dua orang gadis yang menemui seorang cenayang yang aneh. Dalam bahasa Jerman, Die Wahrsagerin berarti cenayang atau peramal. Ada dua orang gadis yang merupakan sahabat dan usia mereka sekitar dua puluhan tahun. Karena keduanya masih lajang, jadi mereka memutuskan untuk berlibur bersama. Mereka kemudian membeli tiket ke Jerman dan memilih untuk mengunjungi kota Dresden yang ada di sana.

Pada hari pertama liburan, kedua gadis ini berjalan-jalan di sekitar Altsatdt (Kota Tua) Dresden untuk mengetahui sejarah kota itu dan mengunjungi beberapa tempat yang biasa dikunjungi para turis. Salah satu dari gadis itu bisa berbahasa Jerman, jadi dia selalu menjadi penerjemah bagi temannya, memberitahukan arti dari tanda-tanda dan nama-nama tempat yang dilihatnya.

Sore itu, ketika mereka dalam perjalanan pulang ke hotel mereka, keduanya melewati daerah Neustadt (Kota Baru). Saat menyusuri jalanan yang ada di sana, salah satu dari kedua gadis itu melihat sebuah pemakaman tua di dekatnya dan menanyakan temannya bagaimana jika mereka masuk ke dalamnya sebentar untuk melihat-lihat.

Tanda yang terpampang di gerbang pemakaman itu tertulis “Alter Judischer Friedhof” (Pemakaman Tua Orang Yahudi). Gadis itu masuk ke dalamnya dan menyusuri tanah-tanah gersang dan sunyi dari pemakaman itu. Mereka sedang membaca beberapa tulisan di batu-batu nisan kuno yang ada disitu, ketika salah satu dari batu nisan itu menarik perhatian mereka.

Sebuah pernyataan tertulis di atas batu nisan itu, bertuliskan:

“Henriette Moosbach. Verurteilt zum Tode durch den Strafgericht in 1776. Gekopft wegen Mord an 11 Frauen” (Henriette Moosbach. Dihukum mati oleh Pengadilan Pidana di tahun 1776. Bersalah atas pembunuhan sebelas orang wanita).

Ketika langit mulai gelap, kedua gadis itu lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju hotel. Mereka baru saja berjalan sebentar ketika melewati sebuah pasar jalanan. Kedai-kedai berjejeran sepanjang tepi jalan yang ada di situ, dengan tiap-tiap kedai itu menjual berbagai macam makanan, minuman, pakaian dan perhiasan.

Mereka juga melihat ada sebuah tenda kecil berdiri di ujung lorong jalanan itu. Tenda itu dihias cukup norak dan ada seorang wanita tua yang jelek berdiri di luarnya. Sebuah tanda tertulis di pintu masuknya, “Kostenlos psychische Messwerte” (Meramal Nasib Gratis). Salah satu dari kedua gadis itu sangat tertarik dengan horoskop, ramalan nasib dan melihat masa depan. Mereka kemudian memutuskan untuk mengambil penawaran meramal gratis dari wanita tua itu, yang dengan cepat mengantar mereka memasuki tendanya.

Salah satu gadis tidak bisa berbahasa Jerman, jadi dia hanya menunggu di luar dan melihat-lihat barang yang dijual di kedai-kedai pasar jalanan di sampingnya. Setelah berkeliling sekitar sepuluh menit, dia mulai tidak sabaran. Setelah dua puluh menit, dia mulai bertanya-tanya mengapa temannya sangat lama. Gadis itu telah membeli Bratwurst (Sosis Goreng), Zwiebelbrot (Roti Bawang), dan Kasekuchen (Kue Keju) di kedai-kedai itu. Sekilas melihat di jam tangannya, membuatnya sadar bahwa temannya sudah berada di tenda peramal itu selama 45 menit.

Bosan dan sudah tak sabar ingin kembali ke hotelnya, dia mencoba menghubungi temannya di telepon genggamnya dan bertanya kapan sesi ramalan itu berakhir. Tapi ketika dihubungi, tidak ada jawaban. Gadis itu kemudian mendekati tenda peramal itu, dan ketika melihat ke bawah dia menemukan cairan berwarna merah gelap di tanahnya, keluar dari ujung tenda itu. Dia ketakutan ketika menyadari bahwa cairan itu adalah darah.

Gadis itu mulai dikuasai ketakutan. Ketika dia berdiri di sana, genangan darah itu telah menyebar di sekeliling kakinya. Dia kemudian melihat di sekelilingnya dan menemukan dirinya tengah diamati oleh penjual di kedai-kedai lainnya dengan seringai sinis di wajah mereka. Ketakutan, gadis itu menjatuhkan seluruh barang bawaannya dan melarikan diri secepat dia bisa. Dia lari terhuyung-huyung melewati jalan itu, melesat keluar lorong itu, dan melerai orang-orang yang menutupi jalannya.

Dia tidak tahu kemana harus pergi, yang dia tahu hanyalah harus lari dari pasar yang menakutkan itu. Akhirnya, gadis itu singgah di sebuah tempat, dengan nafas yang tersengal-sengal. Belum sempat mengatasi rasa lelahnya, dia terkejut ketika menemukan dirinya sudah berdiri di dalam Pemakaman Tua Orang Yahudi itu lagi. Melihat batu nisan yang ada di hadapannya, dia tersentak ketika melihat nama “Henriette Mossbach”.

Dia tidak mengerti tulisan Jerman, tapi ketika mengamati tulisan yang ada di batu nisan itu, darahnya seolah membeku di nadinya.

loading...

“Henriette Moosbach. Verurteilt zum Tode durch den Strafgericht in 1776. Gekopft wegen Mord an 12 Frauen”.

Share This: