Dikejar Hantu Kepala Terbang

Kejadiannya sudah lumayan lama, waktu saya masih kelas 6 SD, masih gila-gilanya bermain. Pulang sekolah, makan, langsung cabut main sama teman-teman. Kadang malam baru pulang. Saya tinggal dirumah nenek, rumah yang sudah cukup lumayan tua. Tepat di belakang rumah terdapat banyak komplek kuburan dan salah satunya adalah komplek kuburan keluarga. Di sekitar komplek kuburan itu ada sebuah lapangan kecil yang di kelilingi oleh pohon-pohon dan ada 1 pohon beringin yang cukup besar.

Karena tempatnya yang teduh dan dekat dari rumah, lapangan itu jadi tempat main favorit. Langsung aja ke cerita, kalo orang Kalimantan biasa menyebut hantu kepala terbang ini dengan sebutan “Kuyang”. Wujudnya hanya kepala yang terbang dengan isi perut yang terurai, konon katanya sebenarnya hantu ini bukanlah seutuhnya hantu. Banyak yang bilang ini adalah salah satu ilmu pengaruh hitam.

loading...

Jadi pada suatu hari dan seperti biasa, saya bermain di lapangan kecil itu dengan beberapa teman. Waktu menunjukan pukul 16.00 WIB, cuaca pada hari itu agak sedikit mendung. Di tambah rimbunnya pohon yang ada di situ, makin lah sore itu jadi semakin gelap. Saat itu kami bermain sepakbola menggunakan bola plastik. Mungkin karena sudah terbiasa, suasana kuburan di sekitaran lapangan sudah menjadi sangat biasa untuk kami.

Bermain bola hanya dengan sedikit orang, gawang yang kami gunakan hanyalah 2 buah sandal yang di beri jarak beberapa meter. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 17.50 WIB, adzan maghrib pun sudah mulai terdengar. Mitos zaman dulu yang bilang kalo gak baik ada di luar rumah jam segitu di tambah pula keadaan kami yang berada di dekat kuburan. Maka segeralah kami pulang ke rumah masing-masing.

Seperti biasa untuk pulang ke rumah nenek, saya harus melewati komplek kuburan. Hari semakin gelap dan awan mendung tadi sudah mulai menjadi hujan. Ya mungkin karena alasan yang saya bilang sebelumnya tadi “sudah terbiasa dengan suasana begini” jadilah saya santai aja dan gak ada mikir negatif sekalipun. Tapi tiba-tiba perasaan mulai gak enak, saya merasa ada yang ngelihatin.

Sedikit demi sedikit saya percepat langkah kaki, tapi perasaan gak enak tadi tetap ada. Satu persatu kuburan yang tersusun rapi itu saya lewati, perasaan semakin gak enak. Kali ini rasanya seluruh penghuni kuburan memperhatikan saya. “Brak!” tiba-tiba sebuah dahan pohon yang cukup besar jatuh di depan saya.

Karena kaget dan di tambah kejanggalan yang dari tadi sudah saya rasakan. Langsung saja saya lari, belum sempat jauh berlari tiba-tiba muncul sebuah kepala terbang di samping saya. “Astagfirullah!” ucapku, makin kencang saya lari, makin kencang juga kepala terbang tersebut memngikuti. Pintu pagar rumah nenek yang sudah terlihat dekat tak kunjung bisa saya dekati. Entah kenapa, jalan kerumah nenek terasa panjang dan kuburan di situ terasa semakin banyak.

Saya tambah panik, bingung, takut. Ya Tuhan enyahkanlah makhluk sialan ini. Hantu kepala terbang itu masih saja mengikuti saya, mukanya tanpa ekspresi. Rambutnya panjang, entahlah itu sosok laki-laki atau perempuan. Yang pasti wujudnya sangat mengerikan. Tiba-tiba saya kepikiran untuk membaca ayat kursi, telat memang mikirnya maklum masih kecil. Sambil tetap berlari saya baca ayat kursi hingga beberapa kali.

Hantu kepala terbang yang tadinya tepat ada di samping saya, perlahan mulai menjauh. Pagar rumah nenek semakin dekat, tak berapa lama saya sampai dan segera masuk ke rumah. Sesampainya di rumah saya hanya diam. Saya masih belum bisa melupakan kejadian barusan, saya masih kebayang dengan sosok hantu kepala terbang mengerikan itu. Sampai sekarang saya belum pernah cerita kejadian ini ke nenek ataupun keluarga.

Biarlah ini menjadi pelajaran buat saya sendiri. Mungkin pada saat itu saya ngelakuin sesuatu yang bikin penghuni alam lain di situ merasa tergganggu. Pelajaran yang bisa saya ambil dari kejadian ini adalah, “Bukan hanya kita (manusia) yang ada di dunia ini, harus bisa selalu jaga sikap dan perbuatan di manapun kita berada. Kita sopan, orang lain juga segan”.