Dikejar Potongan Tangan

Hai kawan-kawan. Nama saya fauzan. Saya akan menceritakan yang kedua kalinya cerita horor. Siang itu udara cukup panas. Aku mau ke rumah bibiku. Rumah bibiku sangat jauh. Jaraknya lumayan jauh kira-kira dua jam perjalanan. Sampai di rumah bibi, aku menyerahkan paket. Aku langsung pamit pulang takut kemalaman. Jalur yang ditempuh banyak hutan, tebing dan jurang.

Paling cuma ada beberapa desa-desa kecil yang dilewati sepanjang jalan dan itu juga sepi. Bahkan jarang sekali kendaraan yang melintas. Saat itu jam menunjukkan 22.45 malam. Aku merasakan seperti ada yang menggangguku selama perjalanan. Setelah melewati gunung konsentrasiku agak hilang, padahal aku nggak ngantuk sama sekali.

Aku: waduh sudah jam sepuluh lebih rupanya.
Aku: hmm, kok perasaanku jadi enggak enak, ya.

Tiba-tiba bulu kuduk ku meremang. Pas di tikungan konsentrasiku hilang hingga akhirnya aku menabrak pembatas jalan. Beruntung aku tidak cedera serius, namun lagi-lagi aku di buat kaget saat tiba-tiba sepotong tangan melintas di depanku. Dan betapa kagetnya aku.

Aku: hah!! Bukankah itu?.

loading...

Sepotong tangan berlumuran darah tergeletak di tengah jalan. Aku semakin takut saat potongan tangan itu bergerak sendiri. Semakin lama potongan tangan itu bergerak ke arah aku. Potongan tangan itu melayang ke arah tubuhku. Dalam sekejap potongan tangan itu mencekik leherku. Aku berusaha melepas potongan tangan yang mencengkeram kuat di leherku. Setelah berhasil lepas. Aku segera mengambil motorku dan kabur.

Karena takut, aku memacu motorku tanpa menghiraukan jalanan yang penuh lubang. Tak lama kemudian sampailah aku di jembatan gede yang merupakan perbatasan ke arah kota.

Aku: huh, leganya sudah mendekati kota, syukurlah.

Namun saat melintas di jembatan gede, tiba-tiba mesin motorku mogok dan tidak bisa di starter kembali.

Aku: aduh! Kenapa juga ini motor, padahal bensinnya penuh.

Sesaat kemudian terdengar jeritan wanita minta tolong dari arah jembatan. Pas aku menengok, makin pucat saja mukanya karena yang dilihat itu kuntilanak yang mukanya tidak jelas dengan baju putih lusuh berdiri disalah satu tiang jembatan sambil melambai-lambai ke arah aku.

Aku: kuntilanak! Kontan saja aku menjerit ketakutan dan lari terbirit-birit. Wassalam.

Share This: