Gedung Fakultas

Namaku adinda, aku kuliah disebuah perguruan tinggi bergengsi di bandung. Aku mempunyai dua orang sahabat dekat yaitu mina, dan ranti. Kami berkenalan pada acara perkenalan mahasiswa baru dikampus dan kebetulan mereka satu jurusan denganku. Mungkin karena kami bertiga berasal dari luar kota dan dari kota yang sama, maka kami jadi cepat langgeng. Sejak saat itu kami selalu bersama-sama dalam beraktivitas didalam dan diluar kampus.

Menjelang akhir semester, tugas-tugas dari kampus semakin banyak. Hal ini sering membuatku tinggal dikampus hingga larut malam. Walaupun kampus terlihat cukup menakutkan dimalam hari, aku tidak khawatir pulang larut dan sebagai salah satu fasilitas kuliah aku diberikan sebuah mobil oleh orangtuaku. Keberadaan mobil ini sangat membantu, karena letak kost yang cukup jauh dari kampus. Kebetulan pada malam itu, mina dan ranti harus tinggal dikampus hingga larut.

Sehingga mereka ingin menumpang pulang, walaupun berbeda tempat kost. Dari awal semester mereka sudah ikut menumpang pulang denganku. Dalam tugas kelompok, biasanya kami bertiga selalu bersama namun pada tugas kali ini mina berbeda kelompok dengan kami. Saat itu jam 9:30 malam, hape ku berbunyi dan ada sms dari mina.

Dia bilang, dia sudah selesai dengan tugas kelompoknya dan menunggu aku dengan ranti didepan gedung fakultas. Kebetulan aku dan ranti sudah hampir selesai juga, dan kami sepakat memintanya untuk menunggu 10 menit lagi karena harus membereskan laptop dan pamit kepada teman-teman dikelompok kami dan selain itu kami berada dibagian belakang gedung.

Sehingga membutuhkan waktu lebih untuk berjalan ke depan, setelah berpamitan lalu kami berdua segera menemui mina. Suasana kampus saat itu cukup gelap dan sepi, banyaknya pepohonan dikampusku juga membuat suasana sangat menakutkan dan sampai di ujung koridor banyak mina sudah terlihat lalu setelah meminta maaf mina karena terlalu lama.

Kami bertiga segera menuju parkiran mobil, sesampainya di mobil. Ranti memilih untuk duduk didepan sehingga mina duduk dibelakang. Mobilpun aku hidupkan dan aku mulai mengarahkan mobil keluar kampus namun tiba-tiba, mina mengatakan bahwa dia harus pergi ke toilet. Lalu aku sarankan agar mina pergi ke toilet di gedung fakultas, karena saat itu posisi kami sangat dekat.

Aku arahkan mobil kembali ke depan gedung fakultas, dan berhenti didepannya tanpa mematikan mesin mobil. Mina turun tergesa-gesa sehingga dia lupa membawa tas nya. Namun, tak sampai semenit pintu mobil sudah terbuka lagi dan mina masuk sambil meminta maaf kepada kami karena sudah menunggu. “Maaf yah lama,” kami pun menjawab tidak apa-apa. Aku pun langsung menjalankan mobil lalu keluar kampus, tapi dalam hati aku merasa heran dan bukannya mina pergi gak sampai satu menit.

Aku ingin menanyakan hal itu kepada mina, namun kulihat ke kaca spion dia sudah tidur menyamping dikursi belakang. Dengan rambut menutupi wajahnya, tetapi kudengar nafasnya terengah-engah. “Mina, kamu kenapa ngos-ngosan” tanyaku padanya, dan dia pun menjawab tidak kenapa-kenapa karena kelelahan. Mina menjawab tanpa mengubah posisi badannya, aku pun merasa tidak enak untuk mengajak mina mengobrol lagi. Jadi aku pun mengajak ranti mengobrol, kami mengobrol seputar tugas kelompok yang kami kerjakan tadi.

loading...

Perlahan suara nafas mina menghilang, setelah sampai di gerbang parkir lalu aku menyerahkan karcis parkir dan mengarahkan mobil ke kost ranti dan mina. Ketika berada didaerah taman sari, tiba-tiba suara nafas mina terdengar semakin keras dari arah belakang. “Mina, kamu benar-benar tidak kenapa-kenapa?” aku langsung memandang ke arah kursi belakang dan astaga jantungku seperti mau lepas. Tubuh mina, sudah berganti menjadi sosok seorang wanita berbaju putih. Posisi wanita itu persis seperti mina tadi, tidur menyamping dengan rambut panjang hitam menutupi wajahnya.

Aku spontan langsung menginjak rem, sehingga ranti terlonjak dari kursinya. Dia bertanya kenapa aku rem mendadak padahal jalanan kosong. Badanku bergetar hebat, aku tidak bisa mengeluarkan suara dari mulutku. Aku memberi isyarat kepada ranti, agar menengok ke jok belakang dan ranti menengok lalu wajahnya berubah pucat.

“Kamu lihat apa yang aku lihat?” ranti menelan ludah, dari matanya aku tau dia sangat ketakutan. Ranti mengangguk perlahan tanpa bersuara, kami berdua terdiam sesaat dan bingung harus melakukan apa dan aku beranikan diri untuk melirik ke kaca spion dan sosok wanita itu bangkit. Dia merangkak perlahan ke kursi depan, kedua tangannya mencengkram jok kursi kami.

Ranti mulai menangis karena ketakutan, dan aku juga hampir menangis. Aku memutuskan untuk terus menjalankan mobil dan keluar dari daerah taman sari. Aku memacu mobil dengan sangat cepat, hingga akhirnya kami sampai didaerah dago yang ramai. Aku kembali melihat kaca spion dan kursi belakang terlihat kosong.

Ranti langsung melihat kebelakang dan bernafas lega, kami langsung panik karena mina menghilang. Aku coba menelpon mina, tapi suara dering teleponnya terdengar di jok belakang. Sontak aku terkaget dan kami melihat kebelakang lalu terlihat hape mina disana. Aku baru sadar kalo mina keluar tanpa membawa tas dan hape nya.

Akhirnya kami memutuskan untuk memutar balik ke kampus dan mencarinya didepan gedung fakultas. Tentu saja kami tidak berani kalo hanya berdua, jadi kami berpikir untuk meminta pertolongan beberapa mahasiswa yang sedang nongkrong ditempat makan kaki lima didepan kampus dan untungnya diantara beberapa dari mereka merupakan teman kampus.

Lalu kami menceritakan apa yang terjadi dan langsung beramai-ramai dengan mobilku pergi ke gedung fakultas mencari mina. Ketika sampai didepan gedung fakultas, kami melihat mina sedang duduk ditepi jalan sendirian. Melihat mobilku datang, mina langsung berdiri dan aku langsung menghentikan mobil lalu keluar.

“Kalian kok tega sih ninggalin aku, lho ini kenapa ramai?” kata-kata tersebut keluar dari mulut mina ketika kami menghampirinya. Kami pun langsung menceritakan ke mina apa yang terjadi barusan dan muka mina langsung pucat seketika. Dia berani sumpah, bahwa ketika dia kembali dari toilet ternyata mobil kami sudah tidak ada. Makanya dia marah waktu kami datang, ketika aku tanya berapa lama dia di toilet dan dia bilang lebih dari 5 menit.

Jadi mina yang masuk ke dalam mobilku itu siapa?, beberapa hari kemudian aku diceritakan oleh seorang senior. Kalo dikampus ini sering ada yang meniru sosok teman yang kita kenal, dan ikut berbaur dengan kita.

Share This: