Gedung Gladiresik

Kisah ini terjadi tahun 2011 yang lalu ketika aku duduk di kelas 1 SMEA. Aku bersekolah di sebuah SMEA Swasta jalan Pajajaran. Saat itu bulan mei, aku sebagai pengurus OSIS sedang sibuk menyiapkan acara perpisahan kelas 3 di gedung gladiresik, melelahkan memang tapi mau gimana lagi, ini tugasku. Selain menyiapkan acara, aku dan juga OSIS yang lain turut ikut meramaikan acara. Kami pengurus OSIS menyiapkan pertunjukan kabaret yang dimainkan oleh kami semua.

Latihan demi latihan kami lalui bahkan kami sempat melakukan latihan di cabang sekolah yang lain. Kami memang ingin tampil total untuk pertunjukan ini, tanpa terasa acara perpisahan tinggal sehari lagi. Sekolah kami melakukan Gladiresik disebuah gedung yang berada di jalan Diponegoro. Padahal saat siangnya kami sudah latihan habis-habisan disekolah. Mau tidak mau, kami berangkat ke gedung gladiresik tersebut jam 4 sore.

Sebenarnya aku sudah lelah dan malas melakukan gladiresik tapi mau bagaimana lagi ini sudah harus menjadi kewajiban kami. Tibalah rombongan kami di gedung tersebut, tentu saja bukan hanya dari sekolah kami yang datang untuk gladiresik tapi cabang sekolah yang lain juga datang. Aku baru pertama kali datang ke gedung ini, menurutku gedung ini lumayan luas. Terdapat panggung yang cukup besar dan disekelilingnya terdapat kursi-kursi yang berderet.

Saat aku memasuki gedung ini, cahayanya agak gelap dan anehnya bukannya membuatku takut malah justru membangkitkan rasa penasaranku. Aku pun iseng ingin mengelilingi tempat ini, kebetulan saat itu ada pak mukhlis yaitu guru kesenianku yang saat itu sedang berjalan-jalan disekitar kursi penonton dan karena bosan aku pun mengikutinya.

loading...

Kami berjalan menuju sebelah utara kursi penonton, di ujungnya terdapat sebuah tangga dan kami pun menaiki tangga tersebut. Dan ternyata tangga itu menuju lantai 2, lantai 2 ini tidak terlalu tinggi namun lebih gelap dari lantai bawah. Dari lantai 2, aku dapat melihat panggung dengan lebih jelas. Tiba-tiba dibelakangku terdengar sebuah langkah kaki.

Aku reflek menoleh ke belakang dan ternyata ada seorang temanku yang mengikuti kami. Dia bilang dia ingin bergabung dengan kami, pak mukhlis pun mengajak ngobrol temanku itu. Karena mereka lagi asyik ngobrol, tanpa sadar aku melangkah sendirian. Aku pun terpisah agak jauh dari mereka, aku berjalan menuju sebuah lorong yang aku tidak ketahui menuju ke arah mana.

Tapi entah kenapa disini udaranya sangat dingin, aku mulai merasa tidak enak. Pak mukhlis dari jauh memanggilku untuk segera kembali ke bawah. Aku pun segera menyusul mereka, namun saat itu aku merasa seperti ada yang mengawasiku dari ujung lorong. Tapi mungkin itu hanya perasaanku saja, waktu sudah menunjukan jam 7 malam.

Aku duduk dipojok dan berhadapan langsung dengan lorong gelap yang aku lewati tadi. Aku masih harus menunggu giliran tampil dan menjadi sangat bosan. Rasa kantuk juga sudah terasa, tiba-tiba itu apa ya. Mataku menangkap sesuatu di ujung lorong yang gelap itu, seperti ada seorang wanita disana. Namun karena remang-remang, pandanganku jadi tidak jelas dan yang bisa aku lihat dari wanita itu dia memakai sejenis gaun panjang berwarna merah.

Aku hampir tersungkur dari kursi karena kaget, temanku yang duduk disebelah bertanya kenapa aku sampai tersungkur. Aku balik bertanya kepadanya, apakah dia melihat sosok wanita berbaju merah itu. Namun dia tidak melihat apa-apa selain kegelapan, perhatianku mulai terpecah karena saat itu aku dipanggil naik ke panggung untuk melakukan gladiresik.

Tiba saatnya kabaret kami untuk tampil, sebelum tampil kami berjalan ke belakang panggung untuk persiapan. Namun tiba-tiba aku ingin ke toilet, teman-temanku tidak ada yang mau mengantar karena jauh dan harus melewati sebuah lorong yang tersambung dengan lorong yang gelap tadi di lantai 2. Aku berlari menuju ke lorong itu, dan sebelum masuk ke lorong itu aku berhenti sebentar mencoba mengintip dan suara pak mukhlis mengagetkanku.

“Jangan lihat-lihat kesana, nanti di ikutin loh” Aku pun minta pak mukhlis mengantarku, dan aku pun diantarkan oleh pak mukhlis sampai didepan toilet. Di dalam toilet terdapat sebuah cermin dan 2 buah bilik, perasaanku mulai bercampur aduk. Samar-samar di bilik sebelah kanan aku mendengar suara gemericik air.

Aku lega, ternyata ada orang dan dengan tenang aku masuk ke bilik sebelah kiri. Setelah selesai dan hendak keluar, aku mendengar suara orang menangis. Bulu kuduk langsung berdiri, dan aku langsung kaku seketika. Aku mencoba mengetuk pintu bilik sebelah kanan, “hai kamu kenapa menangis?” pintu bilik agak terdorong ketika aku mengetuknya.

Ternyata pintunya tidak terkunci dan saat pintu aku buka, ada seorang wanita bergaun merah yang tadi aku lihat. Dia memegang pisau dan wajahnya berlumuran darah, dia menatapku dengan ekspresi penuh kebencian. Aku bingung harus berbuat apa, untuk beberapa detik aku terdiam didepannya dan aku tidak bisa bergerak.

Aku memejamkan mata sambil menenangkan diriku, angin dingin kini mulai terasa disekelilingku dan tiba-tiba terdengar suara gaduh diluar toilet. Aku mendengar wanita-wanita berteriak, aku beranikan diri membuka mata dan wanita itu sudah tidak ada. Aku segera keluar dari toilet dan bertemu dengan pak mukhlis yang tadi menungguku.

Pak mukhlis juga ikut berlari denganku, lalu kami sampai dibelakang panggung. Disana aku melihat kakak kelasku Mba Dian kerasukan. Dia sedang dipegangi oleh beberapa orang guru sambil dia terus meronta-ronta. Akhirnya gladiresik pun dibatalkan, besoknya acara tetap berlangsung dan mba dian tidak ikut tampil.

Semalam dia diantarkan pulang oleh beberapa guru untuk menemui pak ustad. Sebelum tampil kabaret, aku menceritakan kepada pak mukhlis mengenai sosok wanita bergaun merah yang aku lihat kemarin, dan teman-temanku hanya terdiam menanggapi ceritaku. Lalu pak mukhlis mengomentari, konon katanya gedung itu memang angker dan hanya hari tertentu saja yang ramai. Kalo hari biasa didalamnya selalu dibiarkan gelap, maka tidak heran bila ada penunggunya.

Kata pak mukhlis, mba dian kerasukan karena dia tidak sopan. Dia tertawa keras-keras sehingga penunggu disana marah, pak mukhlis juga bilang alasan aku ditampakan sosok wanita memegang pisau adalah karena selama didalam gedung aku melamun. Pengalaman ini semoga menjadi pelajaran, bahwa dimanapun kita berada selalu ingat bahwa kita tidak pernah sendirian.

Share This: