Gedung Kantor Berhantu

Aku tak percaya dengan sesuatu berbau takhyul apalagi makhluk yang disebut “hantu”. Menurutku makhluk-makluk itu hanya ada di dalam cerita film imajinasi sutradara belaka. Tapi ketidak percayaanku teruji setelah aku mengalami peristiwa aneh ketika bekerja pada salah satu kantor perusahaan elektronik di Malaysia. Rentetan kejadian silih berganti selama tiga tahun menimpa kami tanpa terkecuali apakah ia pekerja tempatan atau asing termasuk Indonesia, Bangladesh, Thailand dan Filipina.

Di bagian AI atau Auto Insert, jadwal kerja terbagi tiga yakni pukul tiga sore sampai sebelas malam, pukul sebelas malam hingga tujuh pagi dan tujuh pagi hingga tiga sore Semuanya terbagi atas lima grup dan aku masuk dalam grup A yang masing-masing grup dikepalai oleh seorang Supervisor, dua orang tekhnisi dan lima operator termasuk aku. Zamzami, demikian kami memanggil supervisorku yang notabene orang Melayu. Baik, punya loyalitas tinggi terhadap karyawan serta pintar, itulah yang dapat kami temui dari kepribadian sehari-harinya.

7 Januari 1997, pertama kali shiftku dipercaya bekerja malam setelah satu bulan penuh menjalani training yang diberikan kantor perusahaan. Sehabis meeting bersama Supervisor dan beberapa tekhnisi kami dibagi tugas mengontrol masing-masing satu mesin auto untuk komponen elektronik. Mungkin masih sedikit asing bekerja pada malam hari dan malam itu jam baru menunjukkan pukul 11.30 malam.

Ketika aku sedang asyik menyaksikan feeder demi feeder yang bergerak memasukkan komponen elektronik ke dalam sebuah PCB, tiba-tiba mesin autoku berhenti. Kucoba menerapkan ilmu yang kuperoleh ketika training tentang beberapa problem yang mungkin bakal kami alami saat menjaga mesin auto insert. Aku berputar kearah belakang mesin sambil mengamati satu persatu feeder dan komponen yang ada di dalamnya.

Ah ternyata part atau komponennya habis. Aku langsung berinisiatif memberitahu supervisorku. Perlahan kubuka pintu ruangan, nampak ia tengah tertidur pulas sementara sebuah buku terjatuh di lantai. Meski sedikit ragu kucoba membangunkan sambil memanggil namanya dengan suara yang sedikit gemetar karena pengaruh suhu udara malam hari yang kian dingin ditambah temperatur AC yang terlalu kuat.

Kugoyang sandaran kursinya dan ia nampak terkejut sembari mengusap kedua kelopak mata sambil menguap. Dengan sedikit malas ia bangkit dari kursi dan melangkah menuju gudang belakang. Aku pun kembali ke tempat semula dan sambil menunggu komponen yang datang, sesekali aku bernyanyi-nyanyi kecil mengusir kantuk ku yang mulai menyerang. Cuaca semakin dingin dan sekian lama menunggu supervisorku belum juga muncul. Kulirik pergelangan tangan dan jam sudah menunjukkan pukul 12.19 lewat tengah malam.

Berarti sudah empat puluh menit berlalu namun ia belum juga kembali dari gudang. Aku heran, bukankah letak gudang tidak terlalu jauh, hanya melewati satu pintu yang menghubungkan ruang mesin dan gudang. Bahkan seingat aku, waktu training siang hari beberapa hari lalu cek zamzami hanya butuh waktu lima menit saja lalu kembali. Belum habis bermain dengan pikiran sendiri tiba-tiba mataku terarah ke mesin dua tepatnya di belakangku.

“Kemana Rini?” Mataku mencoba mengitari ruangan namun bayangnya pun tidak kelihatan. Kudekati mesin itu sambil melogok ke bawah siapa tau ia duduk terhalang mesin. Di atas lantai Rini nampak tergeletak pulas sementara mesin autonya tetap bekerja. Aku sedikit membungkuk dan mengamatinya sesaat sebelum mencoba membangunkan Rini tapi ia tetap tidak terbangun. Dengan kesal kutinggalkan Rini sambil menggerutu sendirian. Suasana kian terasa sunyi kakiku terus melangkah ke mesin berikutnya, yah hitung-hitung membuang rasa kantuk sambil menunggu Zamzami.

Namun alangkah kagetnya aku karena Ira pun tergeletak di lantai dalam posisi yang sama seperti Rini. Aku mulai bertanya-tanya, mengapa kedua temanku sama-sama tertidur. Kuputari mesin lain namun tidak seorangpun berdiri di sisi mesin masing-masing. Dari jauh aku melihat bayang-bayang tubuh terbaring di lantai. Aku penasaran, dan kudekati mesin berikutnya, Masya Allah teman lain tergeletak tak sadarkan diri.

loading...

Aku mulai panik dan bulu kudukku tiba-tiba berdiri. Berarti di ruangan ini tinggal aku sendiri. Tanpa pikir panjang aku berlari ke ruang tekhnisi yang letaknya bersebelahan dengan ruang supervisor. “Brak”, kudorong keras pintu dan apa yang kulihat di dalam tidak jauh berbeda dengan pemandangan di luar. Kedua tekhnisi itu tergeletak pulas di kaki meja. Kubalikkan tubuh dan dengan tergesa-gesa meraih pintu lalu keluar menuju ruang Zamzami tapi ruangan tersebut tetap kosong.

Dengan memberanikan diri aku menuju gudang belakang sambil sesekali memanggil namanya. Nafasku mulai turun naik menahan takut. Di gudang kuterobos satu persatu rak yang berjejer rapi namun orang yang kucari tetap tidak nampak. Aku keluar menuju halaman parkir belakang dan dari jauh sebuah forklift dan beberapa kotak belum dibongkar terlihat samar. Kupandangi seluruh penjuru tak terkecuali tempat yang gelap sekalipun. Baru beberapa langkah berjalan, kakiku terganjal sesuatu.

Kucoba meraba dengan ujung sepatu sambil mataku perlahan menatap ke bawah. Astaga, sesosok tubuh lagi. Jantungku semakin tidak karuan. Tangan mulai kaku, lututku gemetar namun kuberanikan diri untuk mencari tau siapa. “Zamzami!” pekik ku. Kepalaku terasa pusing dan mata berkunang-kunang selanjutnya aku tidak tahu apa-apa lagi. Pagi harinya aku mendapati tubuhku sudah berada di ruang yang serba putih. Kugerakkan kedua kaki namun terasa lemah sekali, dan kucoba mengingat apa yang terjadi namun ingatanku blank.

“Kamu pingsan Rit”, samar-samar suara itu sampai di telingaku. Kutatap wajah itu lekat-lekat ternyata Rini. Seketika itu juga ingatanku pulih dan terbayang peristiwa tadi malam. “Mana Ira?”, tanyaku. “Sudah pulang”, kamu istirahat saja dulu, katanya sambil membetulkan letak selimutku. Kejadian itu sudah satu minggu berlalu dan kami berjanji untuk melupakan saja karena toh akan menambah rasa takut.

Beberapa senior kami berkata bahwa pabrik tempat kami bekerja ini memang sering mengalami hal-hal yang aneh dan terkadang hampir tidak bisa dipercaya oleh akal manusia normal. Setelah seminggu shift malam, akhirnya kami off digantikan oleh grup lainnya. Tanpa diduga, hal yang sama juga menimpa mereka yang tentunya mengundang rasa takut giliran shift berikutnya. Anehnya, mereka yang tertidur sama sekali tidak tahu bawa teman lainnya juga tertidur dalam waktu yang sama karena saat ia terjaga semua teman juga terjaga.

Setelah mendengar cerita teman yang menjadi saksi malam itu barulah mereka tahu duduk persoalan nya. Sementara Zamzami dengan malu- malu menceritakan peristiwa seram yang dialaminya di gudang belakang. Ketika ia akan mengambil barang yang habis untuk mesinku, terdengar suara seseorang memanggilnya. Ia mengira itu suaraku lalu keluar mengikuti arah yang datang. Anehnya suara itu tidak juga berhenti dan terus berpindah dari satu sudut ke sudut lainnya.

Di belakang kontainer nampak seorang wanita melambaikan tangan dan seperti terhipnotis ia berjalan mendekatinya. Selang beberapa meter ke depan, wanita itu terlihat melayang ke atas kotak di sebelah kiri dan hilang begitu saja. Peristiwa seram dan penuh misteri di Auto insert itu sudah tiga bulan berlalu. Malam ini grupku kembali mendapat giliran. Setelah masuk waktu istirahat kedua tepatnya pukul 02.30 malam, aku berniat buang air kecil.

“Ke toilet yuk”, ajak ku yang disambut gelengan kepala Rini.
“Minumku belum habis” sahutnya.

Aku berlari ke toilet dengan sedikit tergesa-gesa agar tidak tertinggal sendirian di sana atau setidak-tidaknnya setelah buang air kecil aku masih bisa menyambung istirahat lagi. Di toilet ada empat kamar kecil dan ketika satu pintu akan kudorong terdengar suara air dari dalam.

“Ada orang” gumamku.

Aku masuk ke kamar kecil berikutnya dan beberapa menit kemudian aku keluar dan bercermin sambil mencuci muka di wastafel. Dari pantulan cermin aku melihat seorang teman membetulkan jilbabnya sambil membelakangi aku. Aku yakin pasti dia kerja di bagian produksi.

“Jam istirahat juga ya?” tanyaku.

Ia diam saja seolah tidak mendengar pertanyaanku. Tangannya terus membersihkan air yang membasahi pinggiran bajunya. Kuulangi pertanyaan yang sama namun ia tetap cuek. Tidak puas hanya melihat wajahnya dari kaca aku menoleh ke belakang. Tapi kemana wanita itu? Aku tidak ambil pusing, mungkin ia sudah keluar dari toilet dan tidak ingin menjawab pertanyaanku. Kembali aku memercikkan air ke wajah dan kedua kelopak mata lalu mengeringkannya dengan tissue.

Tanpa sengaja dari cermin aku kembali melihat wanita tadi masih berdiri di belakangku. Kutoleh ke belakang tapi pemandangan yang aku lihat di cermin sangat jauh berbeda. Tidak satu makhluk pun berada di ruang toilet selain aku. Berkali-kali aku melihat di cermin dan menoleh ke belakang dan hal itu pula yang terjadi.

Cepat-cepat kuraih pintu keluar toilet dan dengan langkah seribu aku berlari ke ruang kerja. Aku hanya butuh waktu beberapa saat untuk menyusun kembali nafasku yang tadi terdengar naik turun dan berjanji untuk tidak menceritakan pengalaman itu kepada teman lainnya agar tidak tertular rasa takut. Peristiwa lainnya juga terjadi, seorang teman kesurupan setelah keluar dari toilet melompat-lompat di atas meja dan tubuhnya terlihat ringan seperti kapas.

Hingga masa kontrakku berakhir misteri tentang siapa wanita yang sering muncul di pabrik itu belum juga terkuak. Berbagai cerita simpang siur namun tidak satu pun dapat menghentikan peristiwa seram di pabrik yang letaknya masih di kawasan industri besar dan di tengah kota itu. Namun cerita yang boleh dikatakan mendekati kebenaran datang dari guard atau penjaga pabrik yang usianya sudah kepala enam yang mengatakan.

Kalau dulu ada seorang wanita yang mati bunuh diri dengan memasukkan kepalanya ke dalam sebuah mesin auto karena masalah keluarga. Mungkinkah posisi aku bekerja memang menggantikan wanita yang telah mati itu? Atau jangan-jangan mesin autoku lah yang telah membelah kepalanya hingga nyawanya melayang.

Share This: