Gerbong Kereta Api

Perjalanan ini serasa tidak asing lagi bagiku meluncur ke kota Bandung menaiki kereta api dan duduk di gerbong kereta api yang belakang namun yang berbeda bila biasanya aku main ke Bandung dengan temanku tapi kali ini aku sendiri. Itupun karena perjalananku bukan sekedar untuk bermain, melainkan aku ada urusan untuk membeli hardware komputer. Semuanya berjalan lancar sampai suatu ketika hari mulai gelap. Aku lihat jam di handphone sudah jam 6 sore.

Saatnya kembali ke stasiun untuk pulang. Setibanya di Stasiun Bandung aku langsung membeli karcis kereta ekonomi dan jadwal keberangkatannya jam 7.30 malam. Dengan wajah memelas menunggu kereta ekonomi ke arah Cicalengka. Stasiun ini nampak sepi, kulihat seluruh penjuru stasiun dan pandanganku terhenti pada kakek tua yang duduk di kursi pojok berjaket hitam sambil memegang tasbih di tangan kanannya.

Sepertinya dia sedang berdzikir, beberapa menit kemudian kereta pun datang. Aku pun segera naik kereta itu dan duduk di kursi pojok dekat pintu masuk gerbong kereta api. Disini gelap, penerangan yang kurang baik membuat penglihatanku kurang jelas. Tak lama kemudian, satu persatu penumpang lain pun masuk ke pintu gerbong kereta api. Namun ada yang aneh, sewaktu aku duduk di ruang tunggu aku rasa hanya ada beberapa penumpang saja.

Tapi sekarang yang naik kereta jadi sebanyak ini. Karena terlalu banyak, sampai-sampai banyak sekali penumpang yang tidak kebagian tempat duduk. Hanya bisa berdiri pada ujung pintu gerbong kereta api. Tidak ada celah sama sekali, membuat gerbong yang gelap ini semakin padat dan mendadak menjadi panas. Kereta pun berangkat, selama perjalanan aku menyibukan diri dengan SMS teman.

Semakin lama aku pun kembali menemukan keanehan. Perasaanku aku sudah cukup lama di kereta ini dan seharusnya sudah sampai tapi kenapa belum sampai-sampai stasiun juga. Aku melihat jam di handphone menunjukan jam 11 malam. Aneh, padahal biasanya ditempuh dalam waktu 30 menit saja. Aku coba melihat keluar gerbong dan yang terlihat hanya sawah dengan pemandangan yang gelap. Keanehan pun ditambah dengan laju kereta yang sangat cepat.

Sepertinya di atas rata-rata, cepat sekali. Aku memandangi para penumpang didalam gerbong kereta. Ternyata kudapati pemandangan yang sangat tidak enak. Didalam sorotan lampu setelah beberapa detik itu aku lihat wajah para penumpang sangatlah pucat. Ada yang memejamkan mata sambil berkomat-kamit tidak jelas.

Dan ada juga beberapa penumpang laki-laki berdiri sambil melihat ke arahku. Aku lihat ke sisi lain, beberapa penumpang juga memandangiku. Aku takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, aku lihat lagi keluar jendela dan kali ini sama sekali tidak terlihat apa-apa. Aku semakin waspada memegang barang-barangku dan astaga aku mulai sadar ada yang memegang bahuku dan kali ini aku dicengkram erat.

loading...

Reflek aku menepis cengkraman yang ada di bahuku, tapi yang kurasakan aku hanya menepuk bahuku sendiri. Kali ini beberapa lampu pinggiran mulai terlihat dan didalam gerbong ini sekarang aku mulai merasakan panas yang luar biasa. Melihat penumpang yang semakin banyak, aku mulai merasa ada yang tidak beres. Bulu kuduk mulai berdiri, ku alihkan pandanganku ke kiri dan aku lihat duduk seorang kakek yang aku rasa aku melihatnya di stasiun tadi. Dengan perlahan dia menoleh ke arahku dan memandangku dengan tatapan yang sangat tajam.

Karena aku kaget tidak sengaja aku menyenggol penumpang yang berada di sebelahku. Reflek aku melihat ke arahnya dan astaga saat aku melihat wajahnya. Mukanya benar-benar sangat menyeramkan disekujur wajahnya dipenuhi dengan darah dan terdapat luka bakar di lehernya. Bahkan matanya melotot kepadaku hampir mau keluar. Sontak aku ingin meloncat dan keluar dari tempat duduk tapi saat aku sadar. Disekelilingku sekarang kenapa tidak ada siapa-siapa.

Gerbong ini jadi kosong, aku pun keluar dari kursi dan ketika aku melangkah. Kaki tersangkut sesuatu yang membuatku jatuh, astaga dilantai gerbong ini aku melihat banyak sekali mayat yang berserakan. Tubuhnya banyak sekali yang tidak sempurna, tercium bau anyir di sekelilingku. Orang-orang yang meninggal ini bertumpuk tidak beraturan. Entah dari mana aku mendengar suara jeritan-jeritan kesakitan yang terdengar mengelilingiku. Aku langsung menutup mata dengan kedua tanganku, badanku terasa kaku.

Aku hanya bisa memejamkan mataku dan kurasakan kereta api ini melaju semakin cepat. Setelah lama aku memejamkan mata, kini aku merasakan kereta ini mulai melambat sampai akhirnya berhenti. Perlahan-lahan aku membuka mata, kini aku sudah berada di stasiun cicalengka. Dengan tergesa aku keluar gerbong dan berlari keluar dari stasiun cicalengka. Aku menyempatkan diri melihat kembali kereta yang aku tumpangi tadi. Dan yang aku lihat hanya beberapa penumpang saja.

Lantas kemana perginya penumpang yang banyak tadi dan sebenarnya apa yang aku lihat, padahal stasiun ini adalah pemberhentian terakhir kereta KRD Ekonomi. Saat kulanjutkan langkahku menuju angkot, tiba-tiba telah berdiri seorang kakek tua yang kulihat tadi. Kakek itu melihatku dengan tajam, dan bertanya kepadaku.

“Apa kamu mengalaminya tadi?”, aku hanya diam tanpa kata. Tidak lama kemudian, dia berkata lagi. “Pulanglah segera, hati-hati dijalan”, aku pun langsung berlari dan menaiki angkot yang sedang menunggu. Aku melihat jam di handphone ternyata baru jam 08.15 malam. Sebenarnya apa yang aku alami tadi, dan malam itu pun aku terjaga dari tidurku memikirkan kejadian tadi. Namun aku sama sekali tidak berniat untuk mengungkapkan misteri KRD Ekonomi itu yang pasti aku selalu ingat gerbong itu. Entah bagaimana awalnya yang pasti bagiku gerbong kereta api itu tetap menyeramkan.

Share This: