Gilang, Gila!

“*Hihi, hihi. Pergi kamu dari sini. *Hiks, hiks, hiks. Jangan, jangan. *Haha, haha”. Suara Gilang. Aku sangat sedih melihat keadaan Gilang seperti itu, aku ingin cepat Gilang sembuh dari penyakitnya ini, tapi aku tak bisa melakukan apa-apa. Keadaannya sekarang kacau sekali, dengan dikurung di sel rumah sakit. Maafkan aku Gilang. Semua ini salahku. Aku gak tahu, kalau akhirnya begini. Seharusnya aku gak menceritakan cerita turun temurun itu kepadamu dan teman-temanmu. Maafkan aku, Gilang.

Perkenalkan, namanya Muhammad Gilang Laksamana (Gilang). Keadaannya sekarang amat kasihan. Wajahnya yang dulu bersih, pakaiannya modis, semua barang yang dipakainya itu barang-barang import dan selalu jadi perhatian cewek-cewek di kampus. Tapi, sekarang jauh berbeda. Wajahnya kumal, hitam-hitam, giginya telah menguning, pakaiannya lusuh, tak ada lagi barang import yang dipakainya dan parahnya, sekarang lalat sudah tak segan mengerubunginya.

Aku banyak bersalah sama kamu. Kenapa? Kenapa semua ini terjadi padaku? Pertama Lana. Lana bunuh diri akibat aku (dicerita “teman kampusku, Lana“), kedua Thomas. Tom sempat mengalami depresi gara-gara aku juga (dicerita “ssttt!” dan “tolong aku, Gin!“) dan sekarang Gilang. Aku merasa, aku orang terjahat. Jahat kepada teman-temanku sendiri. Gilang. Kenapa kau jadi seperti ini? Kenapa kau begini? Gilang. Aku sungguh minta maaf. Maafkan aku!

Semua ini berawal dari. “*Teet! Teet!” Bel tanda kelas usai sudah berbunyi, “*yee!” semua anak-anak dikampus pada berkeluaran, termaksud aku. Aku hendak pergi ke perpustakaan, karena aku harus cepat menyelesaikan tugas dari dosen sebelum dikumpul nanti seusai istirahat ini. Buku, ya buku aku harus mencari agar aku cepat menyelesaikan pertanyaan yang diberikan dosen kemarin.

Saat aku sedang mengerjakan tugas, dari kejauhan aku melihat Gilang dan ke 4 teman-temannya dan juga teman-temanku sekelas (Rika, Ben, Yusuf dan Uli. Maaf guys, aku harus menyebutkan nama kalian. Aku gak mau ada yang ditutup-tutupi), mereka adalah teman sekelasku juga tapi aku tidaklah dekat dengan mereka. Ah! Mau ngapain mereka keperpustakaan? Gak biasa-biasanya. Biasanya kerja mereka hanya nongkrong sehabis kelas. Apa mereka mau ketemu denganku? Jangan ge-er, Gin! Dan benar saja, mereka duduk dekat denganku dan menutup buku dan laptopku.

“Gin, loe sambung *dong cerita tadi?” tiba-tiba Rika meminta sesuatu padaku. “Ah? Cerita? Cerita apanya, rik?”, kemudian Ben menyambung “alah. Jangan pura-pura bodoh deh Gin. Cerita yang tadi loh, yang barusan loe mau cerita, tapi gak jadi. Karena sudah bel. Cerita turun temurun keluarga loe”. Mendengar itu, aku pun sedikit marah sambil membuka buku dan laptop kembali. “Maafkan aku, Ben. Aku sibuk. Gak kau lihat apa, tugas aku belum kelar!”.

Ben dan ke-4 teman yang lain berniat ingin membantuku. Sebenarnya aku tahu, mereka membantuku itu ogah-ogahan dan gak ikhlas, tapi karena ada maunya, mau gak mau mereka harus turun tangan membantu. “Sudah kelar, Gin” kata Uli dengan senyum yang gak ikhlas sambil membanting bukuku sedikit kuat. “Makasih ya semua. Sudah membantu aku” jawabku.

“Sudah Gin, gak usah basa-basi lagi. Aku penasaran, pingin tahu cerita loe itu. Sudah, cepat! Ceritakan” kata Gilang. Aku pun bertanya pada mereka, apa yang menyebabkan mereka pada penasaran? Dan mereka bilang “eh! Ini semua gara-gara loe. Coba loe tadi gak buka kode dipelajaran pak Akbar, pastikan kita-kita gak bakalan penasaran. Gimana sih loe, Gin!”.

Iya, ini semua memang salah aku juga sih! Sewaktu dipelajaran pak Akbar, pak Akbar sempat bertanya tentang ciri-ciri tanda seorang itu mengalami psikopat, apa? Dan coba ceritakan satu saja tentang kehidupan seorang psikopat yang diketahui. Ya, karena aku tahu, akhirnya aku tunjuk tangan dan mulai cerita, tapi sayang sewaktu baru mulai cerita, tiba-tiba bel berbunyi dan kelas pak Akbar akan dilanjutkan lagi lusa. Karena mereka semua telah membantuku walaupun gak ikhlas, aku harus mau menceritakan cerita turun temurun ini, tapi bukan diperpustakaan melainkan disalah satu rumah mereka yang bersedia.

Setelah berunding, akhirnya mereka menunjuk rumah Gilang, katanya dirumah Gilang gak ada siapa-siapa, ibunya Gilang sudah meninggal, sedangkan ayahnya kawin lagi dan jarang pulang. Di rumah hanya ada dia, kakak laki-lakinya dan beberapa ART, itupun lagi kerja dan juga kakaknya, kalau kerja selalu pulang larut malam sekaligus rumahnya itu besar. Ok lah, pikirku. Aku pun setuju dengan saran mereka. Sampailah dirumah gilang. *Wow! Hanya kata wow lah yang ada dipikiranku.

Bayangkan, rumahnya itu besar banget, banget dan banget. Kalah banget sama rumahku. Kalah jauh lah pokoknya. Sampai diruang tamu rumahnya, aku melihat segala hiasan rumahnya dan design rumahnya itu ala zaman victorian gitu, klasik dan indah. Baru pertama kali, aku kerumahnya Gilang. Dan aku sudah bisa beri point untuk rumahnya, yaitu 99’9 hampir mencapai sempurna.

*Wow! Kami kemudian disuguhi minuman dan berbagai makanan kecil. Setelah minum, makan dan berbincang-bincang sedikit akhirnya. “Sudah, cepatlah ceritanya. Buang-buang waktu kalau begini” kata Gilang. Aku kemudian meminta agar jangan sampai kebayang atau muntah jika nanti aku cerita. “Eh! Loe kira, kita apa? Anak-anak?” tanya Uli. Ya, sudah. Sebelum memulai cerita, aku meminta tolong diambilkan pisau besar dan pisau kecil, awalnya mereka heran dan bertanya, tapi akhirnya diambil juga dan aku pun minum terlebih dulu segelas air putih dan bersiap-siap cerita.

Pada tahun *bla, bla, bla (agar kalian tahu ceritanya apa, baca ceritaku “jangan di baca cerita petaka” itulah yang aku ceritakan kepada mereka). Aku bercerita dengan mimik yang ada diceritaku itu sambil mempraktekannya (bukan benaran, ya). Mereka yang mendengar ceritaku itu ada yang mual-mual, tutup telinga (kalau telinganya ditutup, apa yang mau didengar, bu!) dan ada juga sampai yang berteriak “argh!” ya ampun, suara Rika kencang banget.

loading...

Jadi sehabis bercerita seperti versi aslinya, aku langsung ngos-ngosan dan duduk tak berdaya. Mereka yang sehabis mendengar ceritaku, menelan ludah berkali-kali. “Waduh Gin, cerita loe, ampun-ampunan. Itu memang asli ya?” tanya Yusuf. Terus aku jawab “ya, asli lah. Ngapain aku mengarang cerita”. Sehabis bercerita dan beristirahat beberapa menit, aku akhirnya pamit pulang. Gilang melarangku dan mengajakku untuk BBQ-an nanti malam, tapi aku menolak. Aku pun kemudian pulang.

Keesokan harinya, aku dikejutkan oleh teriakan Ben dari jauh “Gina, Gina, Gina!”. Mendengar itu aku langsung menoleh kebelakang, ah Ben? Kenapa dengannya. Dia berlari ke arahku seperti ada yang ingin dikatakannya. Aku pun berhenti jalan dan menunggu dia. Dia berlari ngos-ngosan. Sampai didekatku, dia pun berhenti dan berkata dengan suara yang gagap “Gin, Gin. Gi-na. Ak-ak-aku. Aku..” aku. Aku apa ya? Penasaran? Kira-kira apa sih yang akan dikatakan Ben. Kalau ingin tahu, ikuti saja ceritaku di Gilang, gila! part 2.

Fiolin Fradah

Sezgina Fradah

Thank you for reading my stories. Thank you for liking my stories Thank you so much... Terimakasih,Thank you,Arigato gozaimasu, kamsahamnida,Xie-xie,Merci bien,Dankejewel,Matur nuwun,Tarimo kasih,Hatur nuhun,Bujur...

All post by:

Sezgina Fradah has write 94 posts