Hadiah Ulang Tahun Pertama di Umur yang ke 17 Part 2

Aku langsung sambung ya ceritanya sebelumnya hadiah ulang tahun pertama di umur yang ke 17. Aku tidak menghiraukan mereka. Karena aku hanya fokus pada anak nakal tadi. Aku marahin dia agar dia dapat berhati-hati. Lalu aku bilang “eh dik. Kalau mau nyeberang ya nyeberang saja. Ngapain coba kamu diam di depan motor kakak? Kalau kamu sampai ketabrak bagaimana? Kakak gak mau ya sampai masuk penjara hanya gara-gara kamu. Disini banyak kendaraan yang lalu lalang. Jadi lebih hati-hati”.

Anehnya adik itu hanya diam saja dan langsung lari ke arah pepohonan di belakang sebuah rumah penduduk. “Anak zaman sekarang kalau di kasih tahu langsung kabur tuh” gumamku. Aku kemudian melihat arah di sekelilingku melihat masih ada gak orang orang yang memandangku aneh. Dan ternyata mereka masih melihatku malah sampai langsung bilang aku gila. Mendengar itu aku benar-benar gak terima, akhirnya aku samperin seorang ibu yang bilang aku gila.

A: aku
I: ibu

A: eh bu. Jaga *dong mulutnya. Enak saja ngatain gila.
I: loh, situ memang gila kan?
A: ibu jangan asal bicara ya. Dari mana aku gila. Ngatain orang sembarangan. Ibu bisa aku tuntut sebagai pencemaran nama baik orang. Ibu kali tuh yang gila.
I: enak aja kau. Kalau kau mau tuntut ya tuntu aja.Kau tuh yang gila.Semua orang disini pada lihatin kau ngomong sendiri.

A: ngomong sendiri?
I: kalau kau gak percaya, kau tanya saja sama mereka. Dari tadi itu kau ngomong sendiri kayak orang gila.
A: aku itu dari tadi ngomong sama anak kecil di tengah jalan.
I: ya kau tanya sama orang disini. Mana ada dari tadi anak kecil di tengah jalan. Apa mau mati dia main di tengah jalan.

Karena gak percaya, aku kemudian tanyakan hal ini pada semua orang yang sedari tadi memperhatikanku, yang benar aja, semua orang bilang yang sama seperti yang ibu tadi itu bilang. Aneh, kok bisa mereka gak melihat seorang anak cewek di tengah jalan. Mana mungkin hanya aku yang lihat. Padahalkan saat aku marahin anak itu semua orang pada lihatin aku, tapi mereka kok gak lihat anak itu yah? Gumamku.

Aku kemudian naik sepeda motorku kembali dan tancap gas untuk pulang. Sampai di rumah aku langsung mandi dan tiba-tiba ada suara yang memanggil aku dari arah luar kamar mandi. “Kak gina. Kak gina” aku mengira itu suara Herin (adikku). Aku sahutin saja “iya, apa rin?” kemudian tak ada jawaban. Terus suara itu muncul lagi “kak gina. Kak gina. Kak gina” aku sahutin lagi “apaan sih rin, manggil-manggil. Kakak lagi mandi nih” setelah aku tanya tak ada jawaban lagi.

Setelah menyelesaikan mandi, aku langsung menemuin Herin ke kamarnya dan ternyata dia sedang tidur, *deg. Aku kaget setengah mati. Suara tadi suara siapa? Aku tanya sama mama, Herin tidurnya dari jam berapa terus mamaku jawab dari tadi sore karena kelelahan main sepeda dari tadi siang sama anak tetangga. Ini adalah hal yang mengejutkan yang aki dengar. Bulu kudukku seketika berdiri dan aku langsung beranjak tidur. Di kamar tidur ada hal aneh lagi yang aku alami.

Aku mendengar suara musik di kamar kakak cowokku (Aldan) karena kamarku satu dinding dengan kamarnya, jadi kalau ada ribut sedikit di kamarku atau kamarnya pasti sedikit banyaknya kedengaran. Tanpa basa basi aku langsung marahin dia (lewat kamarku). “Woi kak (dengan suara keras/membentak) loe gak lihat jam? Sekarang tuh sudah malam. Berisik tahu, malam-malam menghidupkan musik, besokan bisa. Aku besok mau sekolah. Jangan gara-gara loe, aku sampai di SPO (Surat Peringatan Orangtua)”.

Tapi kakakku malah diam saja. Memang kebiasaannya dia suka menghidupkan musik lewat laptop sambil ngerjain tugas mata kuliahnya tapi itu biasanya kalau gak siang ya sore gak pernah sampai malam, karena dia itu tidurnya jam 09.00 walaupun anak cowok, tapi tidurnya kayak anak cewek, cepat. Tapi ini kok, kan sudah jam 11, batinku.

Mendengar teriakanku, suara musiknya pun semakin lama semakin mereda, sudah tidak ada suara apapun aku kemudian dapat tidur dengan tenang. Keesokan harinya aku adukan kelakuan kak Al ke mama papa sewaktu sarapan di meja makan. Tapi, *wow jawaban mereka mengejutkan “*haha, gin kamu lupa apa? Kakakmu si al kan pergi menginap ke rumah kawannya di Tembung sesudah kamu ulang tahun kemarin, besoknya dia kan langsung pergi. Dia (Al) kan ngasih tahunya sewaktu sarapan pagi. Kamu pun disini kan?” kata papa.

Lah iya. Aku seketika itu baru ingat kalau kak al harus ke Tembung karena teman alias BFF (Best Friend Forever) nya kecelakaan tapi hanya mengalami luka sih. Sarapanku tidak aku habiskan, karena tiba-tiba nafsu makanku hilang. Aku pamit sama orang tuaku dan langsung berangkat ke sekolah.

Di sekolah aku asik memikirkan itu. Sungguh gak habis pikir kejadian semalam. Pertama, aku di mimpikan sama seorang kakek yang aneh (tak ku hiraukan). Kedua, kamar Kiki yang lebih luas dari kamarku bisa tiba-tiba terasa begitu sesak dan sempit (sedikit di hiraukan). Ketiga, aku memarahin anak kecil yang jelas-jelas seorang anak kecil di tengah jalan, orang-orang malah ngatain aku gila. Keempat, aku mendengar suara “kak Gina. Kak Gina” yang aku kira itu suara adikku (mulai merasakan aneh). Kelima, mendengar suara musik di kamar kak al, tapi kak al gak ada di kamar (ini sudah gak bisa di biarkan lagi).

loading...

Aku sungguh capek dengan ini semua. Apa yang salah pada mataku? Apa aku harus periksakan mataku. Gara-gara memikirkan itu terus, aku sampai di marahi oleh guru killer, kebetulan itu jam mata pelajarannya. Setelah sekolah, aku langsung pulang dan masuk ke kamar untuk tidur siang. Siang itu, aku mimpi aneh lagi. Mimpikan kakek itu lagi. Oh my God.

Masa isi mimpiku kakek itu terus. Tapi yang anehnya sewaktu di mimpiku yang pertama, kakek itu pergi begitu saja setelah menghembuskan udara ke mataku yang di mimpiku ini berbeda, kakek itu mau ngomong walaupun hanya satu kalimat yaitu jangan takut Gina. Aku langsung terbangun dan mikir dari mana kakek itu tahu namaku. Apa maksud dari jangan takut.

Kalau aku biarkan saja, lama-lama aku bisa stres karena sudah tak tahan, akhirnya aku bicarakan semua kejadian sama mamaku. Tapi apa, mamaku meresponnya hanya dengan tertawa dan cuma bilang itu perasaanmu saja. Sia-sia aku bilang sama mama. Kemudian setelah papa pulang kerja, aku membicarakan ini sama papa dan aku sungguh terkejut mendengarnya.

Ternyata yang ada di mimpiku itu kakekku yang meninggal saat aku berumur tiga tahun dan kakekku itu memang memiliki keahlian supranatural. Bukan hanya itu saja, kakekku itu juga bisa melihat masa lalu seseorang yang belum pernah di kenalnya. Papaku bilang aku adalah cucu kesayangannya karena di antara anak-anaknya (kakek) yang berjumlah 5 orang cowok, istri-istri mereka selalu melahirkan anak cowok.

Jadi cucu kakek semuanya cowok, setelah mamaku melahirkanku, betapa gembiranya kakek mendapatkan cucu cewek. Kakek sangat sayang padaku, apa lagi dulu kakek salalu menjaga, menggendong dan membelikan apa yang aku mau. Kata papa mungkin ini adalah hadiah istimewaku di umur yang ke 17, karena kakekku dulu juga begitu, dapat hadiah istimewa di umurnya yang ke 17 tahun. Sekian cerita dariku.

Fiolin Fradah

Sezgina Fradah

Time,Love,Family,Myself "Life,Love,Laugh" Oi,Susil,Carrie

All post by:

Sezgina Fradah has write 89 posts