Hampir di Jadikan Tumbal

Salam sejahtra, perkenalkan nama saya Dimas, di sini saya akan berbagi pengalaman saya ketika melihat ke dua adik saya, hampir di jadikan tumbal pesugihan. Pembaca yang budiman sejenak kita kembali ke tahun 70-80, karena kejadian ini terjadi di akhir tahun 70. Pagi itu gubuk kami kedatangan tamu, budhe Suminten dan putranya mas Bagus bertandang ke rumah, seperti biasa budhe terliat sangat anggun dan cantik dengan kebaya yang di kenakannya serta selendang sutra kuning yang selalu di srempangkan di bahunya.

Saya langsung mempersilakan mereka masuk, namun entah mengapa perasaan saya menjadi tidak menentu, saya merasa ada yang janggal, karena memang tidak biasanya budhe bertandang ke rumah apa lagi sampai membawa bahan pokok dan oleh-oleh begitu banyak buat kami. Budhe yang biasanya judes dan terbilang sombong hari itu begitu lembut sekali, bahkan beliau bercengkrama dengan Ambalika dan ndaru (kedua adik saya) saya yang tidak faham dengan perubahan sikap beliau hanya bisa berdiam diri, sambil sesekali melirik budhe yang tengah asik menimang-nimang Ndaru.

Berkali-kali saya mengutarakan kegelisahan ini pada ibu, namun beliau malah menegur, dan melarang berprasangka buruk terhadapa budhe. Cukup lama budhe dan putranya di rumah kami, beliau begitu asyik bercerita tentang masa kecilnya dulu bersama ibu, Budhe sendiri adalah kakak ipar dari ibu, beliau menikah dengan padhe saya yang nomor dua. Budhe memang tergolong sukses dalam kehidupannya, rumah besar, sawah berhektar-hektar, toko baju dimana-mana, berbeda jauh dengan kehidupan kami yang serba kekurangan.

Puas bercerita budhe pamit pulang, dan lagi-lagi saya melihat pemandangan yang tak umum menurut saya, budhe memeluk ibu dengan eratnya, kemudian memeluk kedua adik saya lantas ke dua bocah itu di cium satu persatu. Terus terang saya semakin tidak mengerti dengan perubahan sikap budhe, yang biasanya selalu memandang rendah kepada kami, kenapa tiba-tiba berubah baik. Hati kecilku berbisik ada sesuatu yang salah, tanpa banyak berpikir saya langsung berlari menuju rumah kakek (bapak dari ibu) dan menceritakan perubahan budhe terhadap kami sekeluarga.

Kakek hanya manggut-manggut sambil mengelus jenggotnya yang sudah memutih, lantas beliau menyuruh saya menyusul bapak yang sedang bekerja di sawah dan mengajaknya pulang. Sesampai di rumah ternyata kakek sudah di rumah kami, beliau tengah menimang Ndaru, kakek langsung menyuruh bapak membersihkan diri. Entah apa yang di bicarakan kakek dan bapak, yang terlihat raut wajah mereka begitu serius. Kemudian terdengar bapak memanggil ibu, dan menanyakan soal bahan pokok beserta oleh-oleh dari budhe. Bapak menyuruh semua barang pemberian budhe supaya jangan digunakan.

Lantas ke semua barang-barang dari budhe itu oleh kakek di bawa, dan menurut bapak semua barang dari budhe akan kakek kembalikan, tak berapa lama kakek kembali ke rumah dan entah apa yang di lakukan beliau, saya melihat beliau berjalan mengelilingi rumah sambil menuangkan air yang berada di dalam kendi. Seharian kakek tidak beranjak dari rumah kami, beliau hanya berdzikir, selepas magrib kakek mengajak kami semua mengaji bersama-sama.

Dan tiba-tiba Ndaru serta Ambalika kejang-kejang, matanya hanya nampak yang putih saja, ke dua adik saya terlihat seperti sedang dicekik, saya dan ibu hanya menangis histeris menyaksikan ke dua adik saya, sedangkan kakek dan bapak entah apa yang di lakukan beliau, mereka seperti patung yang tak bergeming sedikitpun. Tiba-tiba kami di kejutkan dengan suara “brak, dar” seperti suara benda jatuh dan meletus. Setelah itu kakek dan bapak membuka mata, dan langsung menghampiri Ndaru dan Ambalika.

Terliat kakek komat-kamit membaca sesuatu di ubun-ubun ke dua adik saya. Lantas ke dua bocah malang itu batuk-batuk dan muntah-muntah. di rasa semua selesai kakek mengajak bapak pergi ke rumah budhe. Menurut bapak di rumah budhe kakek mengamuk, dan berkali-kali menampar menantunya. Kakek juga memperingati budhe, jika sampai mengulangi perbuatannya itu maka kakek tak segan-segan menghancurkan budhe.

loading...

Puas memarahi mantunya kakek langsung menceritakan pada anak laki-lakinya tentang apa yang terjadi, padhe saya sendiri memang tidak faham kalau istrinya itu bersekutu dan memuja jin, setan, makhluk gaib, dedemit, memedi, iblis guna meminta kekayaan. Karena pada waktu beliau menikah dulu istrinya itu sudah kaya raya, jadi pakdhe tidak tau menau soal kekayaan istrinya itu di peroleh dari mana. Mungkin itu juga yang menjadi sebab kakek menentang hubungan padhe selama ini.

Pembaca yang budiman, setelah gagalnya budhe menumbalkan kedua adik saya, besoknya gudang penyimpanan gabah beserta toko-toko pakaian milik budhe ludes di lalap jago merah, bahkan rumah besar yang menjadi kebanggaan budhe pun ludes terbakar, namun alamdulilah semua keluarga budhe terselamatkan. Dan semenjak itu budhe saya mengalamin kebangkrutan dan jatuh miskin. Tak ada lagi yang bisa beliau sombongkan. Tak lama beliaupun jatuh sakit dan mengalami gangguan mental, sekian.

Share This: