Handphone Kematian Bagian 2

Sebelumnya handphone kematian. Di tengah perjalanan, aku pun mengambil handphone itu yang tadinya sudah aku masukan di saku celana dasarku dan aku membersihkan handphone itu dengan secara perlahan. Setelah aku memutar balikkan handphonenya ternyata di casing belakangnya sudah lecet, seperti bekas seretan terkena aspal jalan raya.

Aku pun masih belum berpikir tentang siapa pemilik handphone itu yang aku pikirkan mungkin ini adalah handphone seseorang yang terjatuh di jalan lalu handphonenya rusak terkena goresan jalan raya karena si pemiliknya kurang tepat mengantongi handphonenya. Sesampai aku di rumah, aku pun segera meletakan tasku di atas lemari kecil, lalu segera mandi untuk menyegarkan badanku yang letih karena telah bekerja seharian dan handphone itu aku letakan di samping tas merahku, dengan jarak sangat berdekatan.

15 menit kemudian, setelah mandi aku memakai baju tidur yang berwarna merah karena aku sangat menyukai warna merah dan aku langsung menghempaskan badanku ke atas kasur melepaskan semua penat di badan. Tak lama kemudian saat aku ingin mengambil bantal yang berada di ujung kasurku tanganku menyentuh benda yang tak asing. Aku pegang dengan rasa penasaran, kepalaku pun menoleh ke arah benda itu ingin segera melihat benda apa yang aku pegang tadi.

loading...

“*Hoah!? I-i-itukan handphone yang aku temukan di jalan tadi? Kenapa bisa sampai di atas kasur, padahalkan handphonenya aku letakan di samping tasku?” dengan penuh kebingungan dan tak percaya.
“Ah mungkin tadi adikku yang jahil suka memainkan barang-barangku lalu lupa meletakan di tempat semula” Dan aku pun tertidur hingga keesokan harinya.

Aku terbangun kebetulan hari ini aku mendapat libur kerja selama 2 hari karena restoran tempatku bekerja sedang mengalami perbaikan di bagian atapnya akibat tertimpa pohon besar yang patah karena hujan angin yang sangat lebat di beberapa hari yang lalu. Setelah bangun tidur aku pun memanggil ibuku untuk menceritakan handphone yang semalam aku temukan. Namun ibukku tak juga menjawab panggilanku, aku cari di sekitar rumah pun tak ada siapa-siapa. Motor ayah tak ada, sepeda adikku ada, dan motor ibuku ada.

“Ih, pada kemana sih orang rumah masa pergi-pergi, lalu aku di tinggal sendirian di rumah” gerutuku dalam hati.

Lalu aku berjalan ke arah meja makan karena ingin mengambil air minum dan di samping tudung saji ada sebuah surat yang bertuliskan “Ren kamu tunggu rumah dulu ya? Ibu, ayah dan adik pergi ke rumah tante, karena tantemu sudah melahirkan, kemungkinan 3 hari kedepan ibu, ayah dan adik baru bisa pulang, kamu hati-hati di rumah ya? Maaf ibu gak sempat bangunin kamu, karena ibu lihat kamu masih tertidur pulas, tertulis ~IBU~”.

“Ya sendirian deh aku di rumah, sepi lagi gak ada teman, *huft!”.

Dengan nada kesal aku pun berjalan ke ruangan televisi karena aku ingin menghibur diri supaya tak begitu kesepian. Sambil aku memegang handphone yang aku temukan semalam aku pun duduk di depan televisi. Menunggu si pemilik handphone menghubungi nomornya.

“Kok handphonenya gak bunyi-bunyi sih? Kan sudah satu hari?” ucapku dalam hati.

Sampai hari itu pun aku tak merasakan hal yang aneh-aneh, dengan diriku. Selanjutnya handphone kematian bagian 3.

Salim

Salim

“,…Daku menuliskan kisah dari dimensi lain tanpa pena serta tanpa lampu”.

Hal yang aku senangi ialah tertawa, juga menghindar dari keramaian. Aku begitu bahagia bersembunyi di tempatku yang gelap, karena orang lain tidak dapat melihatku, dan aku sangat mudah melihatmu di tempat yang terang.

Terima kasih yang sudah membaca ceritaku !!

FB : Sa Lim.

All post by:

Salim has write 31 posts

Please vote Handphone Kematian Bagian 2
Handphone Kematian Bagian 2
4 (80%) 2 votes