Handphone Kematian Bagian 4

Sebelumnya handphone kematian bagian 3. Dengan sedikit kesal aku menjauhkan handphone itu dari hadapanku. Mataku pun terasa mengantuk, dan aku mulai tertidur. Jam 03.00 pagi. Aku terbangun karena aku haus ingin mengambil air minum di meja makan dekat dapur. Setelah aku keluar dari kamarku dengan mata yang sayup-sayup, karena mengantuk tiba di depan ruang televisi aku melihat sesosok lelaki yang memakai jaket berwarna hitam, dengan kaki penuh darah, kepala yang miring ke kanan sambil ke bawah dan penuh darah di bagian rambutnya.

“*Argh” *dubrraakkk* suara pintu kamar yang sontak aku banting dengan kuat. Secepat mungkin aku lari dan naik ke atas kasur lalu menutup badanku dengan selimut, karena aku sangat shock melihat ada sosok seperti itu di hadapanku tepatnya di sepertiga malam hari. Dengan nafas yang tertatih-tatih aku pun langsung menelepon ibuku, tetapi tak ada jawaban dari ibuku. Akhirnya aku bisa tidur kembali setelah aku mencuci muka dan tanganku. Namun tidurku tak seindah biasanya.

Aku pun kembali merasakan ketakutan karena aku memimpikan sosok nenek yang bertemu denganku sewaktu aku menemukan handphone itu, di dalam mimpiku dia selalu mengikutiku dengan rambut yang berwarna putih keriting dan terurai, memakai baju kebaya warna putih zaman dahulu, dan menggunakan selendang jarit berwarna hijau, dengan tatapan penuh marah dan muka yang sangat pucat seolah dia ingin mengikutiku dan menakutiku setiap saat.

Setelah aku terbangun dari tidurku, aku segera menuju ke kamar mandi karena jam sudah menunjukan pukul 07.08 WIB. Sudah waktunya aku berangkat kerja kembali, tanpa membuat sarapan terlebih dahulu, aku langsung bergegas pergi ke restoran tempatku bekerja. Sampai di perempatan lampu merah, disana ramai dengan tukang becak yang sedang asik bercerita. Aku tak menghiraukannya karena aku sudah telat untuk masuk jam kerja, sekelebat di telingaku terdengar kalimat.

“Iya kasihan sekali nenek tua itu, sudah tua meninggal dengan cara kecelakaan lagi!?”.

Lalu sahut temannya.

“Iya semenjak kecelakaan itu terjadi di kampung ini jalanan jadi sepi ya? Kalau malam, mungkin takut di temui dengan orang yang mati kecelakaan kemarin”.

Lalu aku pun mulai penasaran dengan pembicaraan bapak-bapak tukang becak tersebut, dan segera aku berbalik arah lalu mulai menanyakan apa yang telah terjadi.

“Maaf pak mengganggu, tadi saya dengar ada kecelakaan disini pak, dan ada korban yang tewas yaitu seorang nenek ya pak?” jawab tukang becak.

“iya neng kemarin tepatnya hari kamis siang ada kecelakaan di perempatan sini, korbannya sampai meninggal di tempat neng ada 2 orang. Mungkin nenek itu ibu si pengemudi motor, mereka itu mau ke arah barat, mereka dengan keadaan mengebut, sang pengemudi sedang bermain handphone tanpa di sadari truk besar berlawanan arah ada di depan motor mereka. Lalu motor mereka terbentur keras menabrak pinggiran truk itu neng. Alhasil si laki-laki itu terjatuh terpental ke trotoar dengan wajah penuh darah, kepalanya patah ke kanan neng dan kepala belakang pendarahan hebat terbentur trotoar. Karena si laki-laki itu tidak menggunakan helm pengaman”.

Dengan rasa takut yang semakin mendalam aku mulai terdiam karena apa yang mereka ceritakan itu sama persis seperti petunjuk yang tak aku sadari.

“*Emh, eh, terus pak nenek-nenek itu bagaimana?” tanyaku dengan rasa tak percaya kalau ini nyata dengan yang aku alami.
“Ya nenek tua itu juga meninggal neng, tapi nenek tua itu meninggal karena dadanya terbentur aspal ya mungkin dia sudah tidak kuat. Namanya juga orang tua neng, rentan terhadap apapun” jawab tukang becak.
“Eh neng tapi anehnya saat polisi mencari barang bukti, dan saat polisi menelusuri TKP handphone yang di gunakan korban itu tak ada di tempat dan keesokannya pun polisi masih mencarinya tapi tetap saja tidak ketemu, barang kali ada penduduk setempat yang sudah menemukan handphonenya?” sahut pak Karyo teman tukang becak.

“Kok berani-beraninya ya, mengambil barang orang yang kecelakaan apa lagi itu meninggal di tempat?” kata tukang becak.
“Iya padahal katanya orang zaman dulu sih kalau kita ngambil barang orang kecelakaan yang meninggal di tempat itu kita bakal di hantui dan dia tidak ikhlas barangnya di ambil!?” jawab pak Karyo.

Semakin aku takut dan tak tahan ingin pergi aku pun berpamitan dengan amat sangat gugup kepada tukang becak itu.

“Bapak-bapak, te-ri-ma kasih ya sudah kasih tahu kejadian kecelakaannya, saya pamit pulang”.

Lalu aku berlari pulang ke rumah untuk mengambil handphonenya. Hari itu aku sampai tidak masuk kerja karena aku sangat bingung dengan kejadian itu dan handphone itu pun aku tinggal di rumah. Sesampainya di rumah aku sangat cemas dan penuh tanda tanya dalam benakku. *Huft, huft, huft* nafasku tak beraturan, karena aku berlari sangat kencang sekali.

“Gak mungkin, gak mungkin korban kecelakaan itu menghantuiku, karena aku memainkan handphone miliknya, nggak!?” sambil aku teriak dengan kencang.

Aku tidak punya niat buruk sama sekali, aku mengambil handphone itu, karena aku pikir pemiliknya masih hidup dan aku tidak pernah mendengar kabar bahwa ada kecelakaan disana sampai merenggut nyawa. Lalu aku pun segera mengambil handphone itu, tak lama handphone itu aku pegang, wallpaper handphone itu adalah foto orang yang menghantuiku.

“*Argh!”, teriak singkatku. Ternyata, aku di hantui oleh korban kecelakaan maut yang di karenakan handphone itu. Malam harinya tepat pada waktu saat aku menemukan handphonenya, aku pun mengembalikan handphone itu ketempat semula dan aku berharap semoga kejadian ini tak terulang lagi dan semoga kembali baik seperti semula. Hari pun berlalu, aku sudah merasa nyaman dari sebelumnya dan aku bisa beraktivitas seperti biasanya, kejadian mistis itu tak pernah aku sadari sehingga mempersulit kehidupan sehari-hariku. Tamat.

loading...
Salim

Salim

“,…Daku menuliskan kisah dari dimensi lain tanpa pena serta tanpa lampu”.

Hal yang aku senangi ialah tertawa, juga menghindar dari keramaian. Aku begitu bahagia bersembunyi di tempatku yang gelap, karena orang lain tidak dapat melihatku, dan aku sangat mudah melihatmu di tempat yang terang.

Terima kasih yang sudah membaca ceritaku !!

FB : Sa Lim.

All post by:

Salim has write 31 posts

Please vote Handphone Kematian Bagian 4
Handphone Kematian Bagian 4
3.4 (67.5%) 8 votes